Sumber : https://beritajatim.com/diskusi-imlek-ramadan-yenny-wahid-dan-konjen-rrt-bicara-harmoni-peradaban-di-universitas-ciputra-surabaya

Diskusi Imlek Ramadan, Yenny Wahid dan Konjen RRT Bicara Harmoni Peradaban di Universitas Ciputra Surabaya

3 Maret 2026

Surabaya (beritajatim.com) – Ratusan peserta memadati Dian Auditorium Universitas Ciputra Surabaya dalam diskusi bertajuk “Imlek & Ramadan: Belajar dari Dua Peradaban”. Forum ini menghadirkan Konsul Jenderal RRT di Surabaya Dr. Ye Su dan Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid untuk membahas toleransi serta kemajuan peradaban di tengah dinamika global.

“Diskusi ini menunjukkan jika perbedaan itu harus dipandang sebagai sebuah kekuatan dan dengan adanya pemahaman tentang perbedaan, kita semua terdorong lebih toleran antara satu dengan yang lain,” ujar Rektor Universitas Ciputra Prof. Dr. Wirawan E.D. Radianto, Selasa (3/3/2026).

Acara dibuka dengan pertunjukan barongsai sebagai simbol penghormatan terhadap pengakuan budaya Tionghoa di Indonesia. Momentum ini terasa istimewa karena berdekatan dengan perayaan Imlek, awal Ramadan, dan masa Prapaskah umat Kristiani.

Dalam pemaparannya, Dr. Ye Su menayangkan video perkembangan Tiongkok sebagai gambaran transformasi negaranya dalam 47 tahun terakhir. Dia menyebut stabilitas sosial dan pertumbuhan ekonomi sebagai dua fondasi utama kemajuan tersebut.

Menurut dia, kemajuan itu ditopang oleh kebijakan yang konsisten, pemerataan pendidikan, pembangunan infrastruktur, dan fokus pada ekonomi riil. Selain itu, penanganan korupsi dilakukan melalui penegakan hukum yang tegas dan kerja sama internasional.

Sementara itu, Yenny Wahid mengingatkan bahwa Indonesia sejak awal dibangun di atas fondasi keberagaman. Dia menyebut Pancasila sebagai titik temu berbagai latar belakang budaya dan agama.

“Bagaimana keragaman budaya di Indonesia ini adalah sebuah harmoni. Kebhinekaan harus dijaga sehingga tidak ada lagi saudara kita yang terdiskriminasi,” ungkapnya.

Diskusi yang berlangsung sekitar dua jam tersebut diikuti mahasiswa dan masyarakat umum. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan terkait toleransi, kebudayaan, serta tantangan global yang dihadapi berbagai bangsa. [asg/ian]