
Pengabdian Djajadi (73) pada Negara sebagai pegawai negri sipil berakhir pada 2002 silam. Namun, niat mulianya belum usai. Sejak 15 tahu terakhir, ia menyumbangkan tenaga untuk memberdayakan warga lanjut usia di Kota Bandung, Jawa Barat.
Oleh Tatang Mulyana Sinaga
Hari masih pagi saat tangan kurus Djajadi dengan cekatan mengangkat sampah organic di Taman Lansia, Kelurahan Manjahlengka, Kota Bandung akhir Mei 2017. Sampah itu dimasukan ke tong plastic untuk mempermudah proses pembusukan. Setelah 20-25 sampah busuk itu siap dipanen dalam bentuk kompos.
“Sekali panen kami bisa menghasilkan kompos 500-600 kg. kompos itu dijual Rp.5000/kemasan berukuran 5 kg. hasil penjualannya disetorkan ke kas Himpunan Warga Lansia atau Hiwala 22” kata Djajadi. Hiwala 22 adalah komunitas lanjut usia yang digagas Djajadi di Kelurahan Manjahlega, April 2002 silam.
Tak sulit mengumpulkan sampah bakal pembuatan kompos. Djajadi mengatakan warga RW 004 Manjahlega sudah terbiasa memilah sampah. Tempat-tempat sampah dikawasan itu dipisahkan berdasarkan jenisnya yaitu organic, an-organik, serta bahan lainnya dan beracun. Khusus organic setiap hari diangkut ke Taman Lansia untuk dicacah dan dibusukan kedalam lima tong sampah.
“Tua bukan alasan untuk tidak bermanfaat, dengan kegiatan kecil-kecilan seperti itu, lansia juga berguna dengan untuk lingkungan sekitar” ujarnya.
Sehat
Sandai pandai mengolah sampah, 150 orang anggota Hiwala 22 juga melakukan beragam kegiatan positif lainnya. Ambil contoh program rumah masa depan (RDP). Program itu merupakan dana sosial yang digunakan untuk biaya pemakaman saat anggota Hilawa 22 meninggal. Dana tersebut itu juga dapat digunakan untuk santunan kepada anggota yang sakit atau dilanda musibah.
Menurut Djajadi dana sosial itu dikumpulkan dari iuran wajib anggota Rp.10.000/bulan. Rinciannya iuran program RDP Rp.5000, biaya konsumsi pertemuan bulanan Rp.5000, dan Rp.1000 biaya administrasi.
“program RDP tidak hanya dinikmati oleh Manjahlega tetepi di kelurahan tetangga. Mereka ingin kepastian saat meninggal sudah ada yang mengurus, mulai dari pemakaman hingga pengajian” ujarnya.
Tidak hanya itu Djajadi getol mempromosikan hidup sehat di usia senja bagi anggota Hilawa 22. Iya yakin semua kegiatan yang dilakukan komunitas itu tak akan bisa berjalan lancer bila tubuh anggotanya ringkih dan sakit-sakitnya.
“Ada senam rutin setiap akhir pecan. Manfaatnya alhamdulilah, walpun usia sudah 70-an saya jarang sakit. Cuma flu dan batuk. Itupun 2-3 hari sudah sembuh” ujarnya.
Menurut Djajadi selain kesehatan fisik, kesehatan psikis dan fikiran juga tak kalah penting bagi lansia. Itu juga alasan mengapa ia mendirikan Hiwala 22. Ia ingin sesame lansia memiliki wadah untuk bertukar pikiran sehingga tidak gampang stress.
Untuk itu ia bersama lansia lainnya menata taman seluas 360 meter pesegi di RW 004 di Kelurahan Manjahlega. Selain ditumbuhi beraneka tanaman, ditaman itu juga terdapat saung tempat lansia bertemu. Didalamnya juga dilengkapi lintasan batu kerikil yang sering digunakan lansia untuk berjalan sekaligus refleksi telapak kaki pagi dan sore.
Lautan Sampah
Djajadi juga membentuk komunitas lansia berawal dari kegiatan bersih-bersih lingkungan pada akhir 2002. Saat itu sekitar 80 warga terlibat, lebih dari setengahnya adalah lansia.
“Dari situ saya melihat justru lansia yang paling semangat. Mungkin yang muda-muda masih disibukan dengan pekerjaan sehingga tidak punya banyak waktu untuk lingkungan sekitar” ujarnya.
Semangat lansia itu memberi ide bagi Djajadi. Perlu komunitas khusus lansia agar kerja dan pengabdian mereka tersalurkan dan tidak sia-sia. Selain itu, pertemua sesama lansia beberapa kali dilakukan untuk membentuk perkumpulan bagi warga usia diatas 60 tahun. Hiwala 22pun resmi didirikan pada 10 April 2002.
“Awalnya kegiatan kami hanya menggelar pertemuan rutin dan pengajian. Sesekali mereka senam di akhir pekan” katanya.
Titik balik muncul saat tragedi longsor sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Leuwigajah, Cimahi pada 2006. Puluhan orang meninggal akibat sampah yang menggunung longsor karena kapasitas TPA berjarak 15 km dari Kota Bandung yang tidak memadai.
Meski berada diluar kota, Djajadi mengatakan kejadian itu berpengaruh pada masyarakat di Bandung TPA Leuwigajah adalah tempat pembuangan sam[pah utama di Koata Bandung. Akibatnya banyak sampah yang tidak terangkut ketempat pembuangan akhir sehingga pemukiman warga kotor. Nama baik Bandung tercoreng, peristiwa untu memunculkan olok-olok Bandung tak lagi jadi lautan api namun jadi lautan sampah.
Peristiwa itu menyadarkan Djajadi, bahwa TPA tidak akan dapat menampung semua sampah dari warga. Untuk itu pengolahan sampah mutlak diperlukan untuk mengurangi sampah yang dibuang.
Pemanfaatan sampah menjadi kompos dipilih karena kawasan itu masih banyak pepopohan yang menghasilkan sampah dedaunan. Saat bersamaan sampah anorganik seperti plastic digunakan untuk membuat kerajinan tangan seperti alas meja dan tas. Sekarang kata Djajadi hanya 60% sampah dari rumah tangga yang bisa dibuang ketempat pembuangan akhir. Sisahnya dimanfaatkan untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai ekonomi.
“Karena terbiasa bekerja dan bergerak bersama, tak sulit mengajak lansia disini untuk terus berkarya” ujarnya.
Tindakan Djajadi yang menginspirasi orang-orang disekiratnya. Satu diantaranya Budiman (62) ketua Hiwala 22 saat ini. Bahkan beberapa lansia dari kecamatan lain datang menemuinya untuk meminta saran untuk memberdayakan lansia.
Budiman mengatakan ide-ide Djajadi jadi telah membangkitkan semangat lansia yang lainnya. Mereka menjadi lebih percaya diri berbuat untuk lingkungannya sekalipun sudah tak berusia produktif.
“Semangat pak Pak Djajadi menular ke lansia lainnya. Sekaran lansia disini tak lagi berpangku tangan melainkan lebih berguna untuk lingkungan sekitar” ujarnya.
Tak terasa menjelang siang, matahari semakin garang memamerkan teriknya. Namun sengatannya tak cukup menyurutkan langkah kaki Djajadi. Ia tetap melangkah memeriksa satu persatu sampah dilingkungannya. Ia meyakinkan akan terus membakar semangat dan menginspirasi banyak orang seumur hidupnya.
Djajadi
Lahir : Sukabumi, 8 Mei 1944
Istri : Triningsih (58)
Anak : -Lili Lesmanawati (47)
-Dewi Farida (31)
-Hadi Nugraha (31)
-Fahri Darojat (22)
Pendidikan : Strata 1 Lembaga Administrasi Negara (Lulus Tahun 1990)
Sumber : Kompas, 30 Juni 2017
