Oleh FABIO M L COSTA
Program Studi Ilmu Kedokteran Universitas Cenderawasih di Jayapura, Papua, didirikan pada 2006 dengan tujuan mulia, yaitu meningkatkan kesehatan masyarakat. Namun, nasib program itu berserta ratusan mahasiswanya kini tidak menentu akibat fasilitas pengajaran minim, praktik pendidikan asa1-asalan, dan masalah pergantian dekan.
Akhir pekan lalu, para mahasiswa berdoa bersama di ruang kuliah Universitas Cenderawasih (Uncen). Mereka memohon kepada Tuhan agar segala masalah yang merundung Program Studi (Prodi) Ilmu Kedokteran segera tuntas. Mereka juga menggelar protes.
“Bukan benda mati di tangan kami,” kata Ferige Uaga, mahasiswi Prodi Ilmu Kedokteran Uncen. Dia salah satu dari sekitar 600 mahasiswa yang kuliah di Fakultas Kedokteran dan Program Studi Keperawatan.
Unjuk rasa dipicu minimnya fasilitas dan bobroknya sistem akademik. Alat praktikum di laboratorium sangat kurang, kapasitas ruang kuliah tidak memadai, dan kartu hasil studi (KHS) hingga beberapa semester masih belum tersedia.
Keluhan para mahasiswa itu tidak mengada-ada. Dari pantauan Kompas, fasilitas di prodi itu memang masih kurang memadai. Laboratorium histologi, yang berdiameter 12 meter x 10 meter, misalnya, hampir semua kaca jendelanya pecah. Di ruangan itu terdapat 50 mikroskop, tetapi hanya 20 mikroskop yang berfungsi.
Tempat kuliah hanya terdiri atas empat ruangan. Setiap ruangan berkapasitas maksimal 70 orang. Padahal, dosen di prodi itu biasa mengajar 200 hingga 300 mahasiswa per mata kuliah. Akibatnya, sebagian mahasiswa terpaksa kuliah, bahkan mengerjakan ujian. di luar ruangan.
Dosen kelelahan
Dosen pengajar mata kuliah anatomi, Eliazer, mengatakan, para dosen tersiksa akibat minimnya fasilitas dan tingginya beban jam mengajar. Dalam sehari, dia mengajar 300 mahasiswa semester III untuk satu mata kuliah. Karena kapasitas ruang praktikum kurang, dia membagi ratusan mahasiswa dalam dua kelompok. Kegiatan kuliah per kelompok itu memakan waktu empat jam.
“Saya bekerja dari pukul 08.00 hingga pukul 14.00 WIT. Rasio jumlah dosen dan mahasiswa di sini tidak ideal. Seharusnya untuk prodi kedokteran, satu dosen mengajar 10 mahasiswa saja,” katanya.
Fasilitas laboratorium anatomi untuk praktikum bedah kadaver atau mayat milik prodi itu di Rumah Sakit Dok II Jayapura juga sangat mengenaskan. Empat bak penampung mayat rusak karena bocor. Hanya satu bak yang tersisa, tetapi tidak lagi terisi formalin.
Pihak fakultas tak menyediakan kadaver dan formalin sebagai bahan praktikum sejak tahun 2009. Mahasiswa pun terpaksa menggunakan mayat yang telah membusuk sambil menahan bau menyengat. “Dengan berbagai kekurangan ini, bagaimana kami mewujudkan mimpi untuk mengentaskan tingginya penyakit malaria di pedalaman Papua?” gugat Ferige.
Gadis asal Wamena, Kabupaten Jayawijaya, itu berharap, pihak fakultas dan rektorat memperbaild segala kekurangan itu. “Orangtua saya petani di pedalaman, berjuang untuk membayar uang dan peralatan kuliah yang bisa mencapai Rp 5 juta per semester. Tolong cepat selesaikan masalah ini,” katanya.
Ketidakseriusan rektorat mengatasi permasalahan di prodi itu menyebabkan para dosen mogok mengajar sejak 14 Januari 2015. Yenifer L Yusuf, salah seorang dosen, menuturkan, para dosen kecewa karena kampus tidak serius memperbaiki peraturan akademik dan pengadaan fasilitas, salah satunya belum diadakan KHS bagi mahasiswa. “Ratusan lulusan prodi ini belum mengikuti pendidikan profesi dokter muda di RS Dok II Jayapura sejak 2013,” katanya.
Belum terakreditasi
Pelaksana Tugas Dekan Fakultas Kedokteran Uncen Johanes Krey mengatakan, Prodi Ilmu Kedokteran belum terakreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). “Batas waktu yang diberikan hingga Maret. Kami mempersiapkan bahan evaluasi dan dokumen persyaratan. Saya usulkan rekomendasi agar penerimaan mahasiswa dihentikan sampai menunggu perbaikan fasilitas,” ujarnya.
Johanes juga heran dengan minimnya pengadaan fasilitas , prodi itu. Padahal, prodi itu mendapatkan bantuan Rp 2 miliar dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua dan jumlah peminatnya terus bertambah setiap tahun. “Kami evaluasi pola pengelolaan dana milik prodi ini selama beberapa tahun terakhir. Hasil evaluasi akan dilaporkan ke Pemprov Papua,” katanya.
Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) telah berkali-kali mendesak Fakultas Kedokteran Uncen agar segera membenahi manajemen kampus, memenuhi fasilitas pendidikan, dan menambah jumlah dosen.
Fakultas Kedokteran Uncen tidak akan ditutup. Namun, jika belum ada pembenahan memadai, mahasiswa di situ mungkin dikirim ke fakultas kedokteran universitas lain untuk menyelesaikan pendidikannya.
“Mahasiswa tak boleh jadi korban,” ucap Wakil Ketua II KKI Satryo Soemantri Brodjonegoro, Sabtu (17/1).
Sambil semuanya diperbaiki, mahasiswa hanya bisa berdoa. Doa tulus untuk perbaikan Fakultas Kedokteran Uncen, Papua…. (JOG)
Kompas. 19 Januari 2015. Hal.1,15

