Dari sebanyak 54-lukisan di Galeri 2madison, Kemang Jakarta, Jumat (2/2), terlihat ada Sembilan lukisan berpenanda dot merah atau bulatan kecil berwarna merah. Itu tanda lukisan-lukisan tersebut diapresiasi dan dibeli public. Melalui pameran Buzzart, 27 Januari hingga 4 Februari 2018, ketika dot merah pun terpasang, bukti nyata masyarakat masih kuat mengapresiasi karya seni.

“Buzz itu mendengungkan sehingga melalui Buzznet ini, kami ingin mendengungkan karya seni. Kamii juga ingin membantu seniman-seniman muda hadiir berkarya dan karya-karya mereka dapat diapresiasi public,” ujar Creative Director 2madison Maggie Hutaruk Eddy di sela pembukaan Buzzart di Galeri 2madison, Sabtu (27/1).

Tidak semua karya yang ditampilkan dapat dibeli public. Misalnya, yang ditampilkan Vitarlenology dar Bandung berpa buku-buku yang ditata artistic dengan sampul-sampul kulit  berajut benang-benang. Karya itu hanya boleh dilohat, tidak boleh dibeli. Disentuh pun tidak boleh.

Vitarnelogy, mendengungkan karya seninya seperti disampaikan Maggie saat pembukaan pameran. Buzzart memang tidak semata-mata menjadikan bazaar. Buzzart tidak semata-mata memasarkan setiap karya seni.

Di situ pula ada karya mural di dinding. Tentu saja karya mural itu tidak mudah untuk dibeli public. Di antaranya ada nama Darbotz dari Jakrta, ada DGTMB dari Yogyakarta, turut memural tembok-tembok galeri tersebut.

Para peserta, seperti Nasi Goreng Diplomacy dari Yogyakarta, mengahdirkan karya seni yang diaplikasikan. Di antaranya karya seni mereka menjadi sampul=sampul buku catata atau agenda.

Aplikasi seni menarik lainnya ketika tokoh seniman terkenal tiu sendiri yang menjadi obyek karya. Ini seperti yang ditampilkan 2madison Art Studio, di antaranya menampilkan jaket-jaket dengan bordiran wajah pelukis Frida Kahlo (1907-1954) asal Meksiko.

Bagi kelompok pergerakan fenisme, Frida Kahlo dikenal sebagai seniman perempuan yang berhasil menggambarkan secara lugas dan nyata tentang wujud dan pengalaman perempuan. Frida melalui karya-karya lukisan potret, terutama potret dirinya, berbicara tentang dunia perempuan Meksiko dengan berbagai pengalamannya.

Di Buzzart ini, wajah Frida Kahlo hadir dalam wujud seni border. Karya yang kemudian diaplikasikan di jaket yang cukup mengunggah.

“Karya ini baru pertama kalo ditampilkan di sin,”kata Sri Suryani, salah seorang petugas Galeri 2 Madison, Jumat lalu.

Di Buzzart, setidaknya terdapat 17 nama kelompok atau individu yang menampilkan karya-karya seni. Mereka yang lainnya meliputi Agemosevr dari Tangerang, Bebe Wahyu (Bogor), Benang Baja atau Adi Gunawan (Makasar), Esa Apriansyah (Bandung), Irsky (Jakarta), Kahtrin Honesta (Jakarta), Marishka Soekarna (Jakarta), Maltafr23 (Sukabui), Ruth Marbun (Jakata), dan Wulang Sunu (Yogyakarta).buzz art atau mendengungkan seni.

Cukup banyak seniman yang digandeng Galeri 2madison. Memang bukan pekerjaan mudah untuk buzz art atau mendengungkan seni.

 

Karya

Sri suryani pada Jumat siang itu menunjukkan karya-karya yang diminati pembeli atau yang diberi tanda bulatan kecil berwarna merah. Banyak di antaranya diminati ketika berlangsung acara pembukaanya, tetapi ada pula yang baru datang dan membelinya.

“Lukisan karya Bebe Wahyu ini yang baru saja dibeli siang hari ini,”ujar Sri Surani.

Lukisan berukuran sedang atau tidak lebih dari 50 sentimeter kali 50 sentimeter itu, dengan media akrilik di atas kanvas ini, diberi bandrol seharga Rp 1,5 juta. Lukisan tersebut tentang figure wajah perempuan yang tampak dari sisi kanan dengan posisi wajah berpaling ke samping.

Rambut perempuan itu tergelung. Bebe menonjolkan lukisan leher perempuan itu yang jenjang. Cukup menawan. Bebe  pun menorehkan gambar seudut mata kanan seperti mengatup. Lukisan wajah perempuan ini menyimpan misteri.

Lukisan bertanda dot merah lainnya pada lukisan kecil dengan media akrilik di atas kertas karya Esa Apriansyah. Ia memeberikan judul Watch Me Drown Original Art, dengan lukisan lanskap hunian dengan jalan berupa anak-anak tangga. Tidak jauh beda, harganya Rp 1,45 juta.

Harga karya-karya seni ini nyata cukup terjangkau bagi kaum urban atau bagi kolektor muda. Mungkin ini bagian dari usaha mendengungkan karya seni para seniman mula.

Dua karya Ruth Marbun jugaa bertanda dot merah. Karya itu kisnya dengan media cat air dan tinta di atas kertas berjudul “Satu Gelas dan Kesunyian Abadi Kemudian”, serta “Cerita yang Dimulai dengan Huruf Kecil”, Karya Ruth bernuansa abstrak  figurative. Harganya Rp 4,5 juta per lukisan.

Kemudian seniman Adi Gunawan atau Benang Baja drai Makasar yang menampilkan seri lukisan tentang rumah. Ada satu di antara delapan lukisan rumah yang bertanda dot merah dengan media cat air di atas kertas 42 sentimeter kali 29 sentimeter seharga Rp 2,1 juta. Benang Baja menuangkka gambar kanvas terpasang di tripod dengan kursi di depan dan aneka obyek gambar seperti harimau, tumbuh-tumbuhan, dan dua bulatan yang bisa ditafsirkan sebagai Bumi dan Bulan.

Karya lainnya yang juga diberi tanda dot merah di antaranya karya Kathrin Honesta berjudul “A Prayer Away”, karya Vantiani dengan seri kolase, “I Love My Body #3”, dan lainnya. Dari Sembilan lukisan di antara 54 lukisan bertanda dot merah itu bermakna satu dari enam lukisan diminati pembeli. Mungkin saja ini keberhasilan tersendiri dalam Buzzart, upaya mendengungkan seni.

Di antara setiap karya seniman muda itu mengandung pesan-pesan uuntuk hidup keseharian. Seperti Adi Gunawan yang menyodorkan lukisan seri tentang rumah. Ia bercerita tentang impianya untuk membeli rumah.

Adi mungkin saja mewakili generasi milenial yang tetap punya impian iuntuk memiliki rumah.

Vantiani melalui karya kolase gambar tentang perempuan dan berbagai idion keinginan-keinginan perempuan-perempuan yang kerap lebih merasakan adanya kettidaksempurnaan di dalam dirinya ketimbang mensyukuri yang dimilikinya.

Bagi Maggie, karya-karya seni dalam Buzzart memiliki pesan-pesan sederhana untuk kehidupan sehari-hari. Di balik tanda dot merah, pesan-pesan ini tentu menjadi jauh lebih penting. (NAMA TUNGGAL).

Sumber: Kompas.4-Februari-2018.Hal_.21