Drop Saat Naik Feri 12 Jam ke Tempat Tugas. Jawa Pos.12 November 2015.Hal.1,19

penyakit yang Akhiri Pengabdian Andra

  • Nama : Encephalitis atau radang otak
  • Penyebab : Virus, bakteri, protozoa, atau jamur
  • Gejala : Demam, nyeri kepala, nyeri badan, mual, hingga muntah. Pada titik tertentu, penderita bisa hilang kesadaran
  • Tahapan :

Subakut  : pasien merasakan gejala satu hingga dua minggu

Kronis    : pasien merasakan gejala lebih dua minggu

Akut       : kondisi pasien cepat memburuk jika tidak tertangani.

 

Rekan Mengenal Andra Dokter Cekatan

Pemuda kelahiran ibu kota Jakarta itu meninggal setelah melewati masa kritis gara-gara terkena morbili atau campak yang disertai radang selaput otak saat ditangani tim dokter RSUD Cendrawasih Dobo.

Ambon Ekspres (Jawa Pos Group) melaporkan, Andra, sapaan Dionisius Giri Samudra, sudah bertugas selama enam bulan di puskesmas Dobo. Sebelum meninggal, dia sempat cuti sepakan untuk pulang, menemui orang tuanya di Jakarta. Selesai cuti, Andra langsung kembali ke Dobo.

Sepanjang perjalanan kembali ke tempat tugas beserta beberapa rekan dokter lain, kondisi kesehatan Ndra mulai memburuk ketika dirinya tiba di kota Ambon. Beberapa rekan sudah menyarankan Andra untuk kembali ke Jakarta, mengingat perjalanan ke kota Dobo masih panjang.

Namun, saran parah sahabat itu diabaikan.andra bersikeras melanjutkan perjalanan ke kota Dobo karena sadar bahwa tenaga dan keahliannya sangat dibutuhkan warga yang berobat ke puskesmas Dobo. Dengan kondisi fisik yang terus menurun, Andra memaksakan diri kembali terbang sekitar 1,5 jam dengan pesawat mini ke kota Tual pada minggu (8/11).

Saat perjalanan tinggal sepenggal, yakni rute laut dengan menumpang feri dari pelabuhan Tual ke Dobo, Andra sudah tidak kuat lagi. Berada diatas laut selama 12 jam betul-betul membuat fisik Andra drop. Saat tiba dipelabuhan feri Yos Soedarso, Dobo, senin pukul 07.00 WIT, Andra memaksakan diri berjalan, tapi langsung jatuh. Kondisi itu membuat dia langsung dilarikan ke RSUD Cendrawasih Dobo.

Dokter Marthin Haurissa, spesialis penyakit dalam yang mengani Andra di RSUD Cendrawasih, mengatakan, pada awal pemeriksaan, Andra sudah demam tinggi. Bicaranya juga pelo serta kedua kakinya lemas. Sekitar pukul 11.00, Andra tiba-tiba sesak napas. Tim dokter langsng memindahkan Andra ke ICU. “ Saat itu kami sudah putuskan lakukan rujuk. Namun terbentur transportasi. Sementara itu, kesadaran pasien menurun,” tutur Marthin.

Rujuk merupakan perkara sulit di daerah pelosok seperti Dobo. Tidak seperti kota besar di Jawa, di Dobo transportasi tidak tersedia setiap waktu. Marthin mengatakan, ketika kondisi Andra gawat, pesawat ke kota terdekat, Tual, tidak beroperasi. pesawat Trigana Air yang biasanya melayani penerbangan Dobo-Tual-Ambon pulang-pergi saat itu menghentikan aktivitas.

Sedangkan alternative lain, yakni membawa Andra kembali ke kota Tual dengan feri, memakan waktu 12 jam. Sempat ada upaya membawa Andra dengan speedboat yang bisa melaju ke Tual hanya dalam waktu 3-4 jam. “ namun, kondisi Andra sudah tak memungkinkan untuk dipaksakan naik speedboat,” terang Marthin.

Dokter glenn, rekan Marthin yang ikut menangani Andra di RSUD Cendrwasih, mengatakan, gara-gara campak yang diderita, kesadaran Andra terus menurun. Bahkan, kemarin pagi Andra mengalami gagal napas. “ untuk membnatu pernapasannya, kami melakukan pompa jantung serta menggunkan ventilator.”

Meskipun dokter telah berupaya keras meyelamatkan nyawa Andra, takdir berkata lain. Pada oukul 18.18 WIT, Andra mengembuskan napas terakhir.

Tadi malam jenazah Andra disemayamkan di RSUD Cendrawasih Dobo. Pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru telah berkoordinasi dengan pihak keluarga untuk menerbangkan jenazah Andra dari kota Tual menuju Jakarta hari ini. Saat berita ini ditulis, ayah Andra sudah sampai di kota Dobo untuk menjemputdan membawa kembali Andra ke kampung halaman di Jakarta.

Mengenai penyakit yang mengakibatkan Andra meninggal, spesialis saraf dr Paulus Sugianto menjelaskan bahwa penyakit tersebut bisa berasal dari virus, bakteri, protozoa, atau jamur. “ Namun, lebih banyak memang karena virus,” ujarnya saat dihubungi tadi malam.

Sementara itu, yang diderita Andra berasal dari virus morbili. “ ketika terkena encephalitis post morbili, pasien bisa meninggal karena da komplikasi di otaknya,” ujar dokter yang tergabung dalam Departemen Ilmu Penyakit Saraf RSUD dr Soetomo itu.

Berduka

Kabar meninggalnya dr Dionsius Giri Samudra di medan tugas, Kepulauan Aru, menyebar dengan cepat melalui media sosial dan mengundang banyak ungkapan dukacita. Salah satunya datang dari almamater Andra, Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas).

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Makassar Dr dr Anis Irawan SpKK membenarkan bahwa Dionsius Giri Samudra adalah alumnus Fakultas Kedokteran Unhas yang magang di Dobo. Internship atau magang merupakan salah satu jenjang yang harus dilalui dokter sebelum berpraktik.

Anis menjelaskan, magang merupakan domain kementerian kesehatan. Namun, wilayah penempatan merupakan pilihan para dokter saat mendaftar secara online. “ Internship dilakukan setelah menjadi dokter selama satu tahun dengan uang saku Rp 2,5 juta perbulan untuk mendapatkan sertifikat kompetensi,” jelas Anis. Dokter magang didampingi oleh dokter senior.setelah program itu selesai, baru dokter bisa buka praktik.

Senior mendiang Andra di Fakultas Kedokteran Unhas, dr Helmiyadi Kuswardhana (angkatan 2001) mengatakan sempat berinteraksi langsung saat Andra mengambil program co-assistant di bagian Bedah Ortopedi RS Wahidin Makassar akhir tahun lalu. Andra, yang berkuliah sejak 2006, dikenal cekatan saat melayani pasien. “ saya berinteraksi sekitar empat minggu. Tapi, cukup berkesan. Dia itu junior yang cekatan dan rajin melayani pasien,” kata dokter yang tengah mengambil spesialisasi bedah tulang. (dni/nur/Iyn/cik/c11/ars)

Sumber : Jawa Pos. 12 November 2015