
Dana desa sebenarnya dapat mendorong kemajuan literasi warga melalui perpustakaan desa. Sayangnya, itu belum terjadi, khususnya di Kabupaten Trasikmalaya, Jawa Barat.
OLEH DEDI MUHTADI
Anggaran tahunan yang besarnya lebih dari Rp 1 miliar per desa saat ini masih terkonsentrasi ke sarana fisik.
Itulah yang menarik minat Dudi Rohdinulhak (45) untuk menggelorakan literasi aplikatif di kabupaten yang terletak di lereng tenggara Gunung Galunggung itu. Semula, pegiat taman bacaan masyarakat itu kebingungan untuk memulainya. Sebagai Pengawas Sekolah Menengah Pertama (SMP) kabupaten dia sudah disibukkan oleh kegiatan di lingkup tugas pokok dan fungsinya.
Malah, perpustakaan Desa Cukangkawung di kawasan pengunungan Tasikmalaya selatan yang sudah dibangunnya sejak lama sempat tidak tersentuh lagi. Sementara potensi komunitas penggerak literasi berceceran di beberapa kampung melalui taman-taman bacaan masyarakat belum terorganisasi dengan baik.
Seperti gayung bersambut, akhir tahun 2016, Bupati Tasikmalaya UU Ruzhanul Ulum meluncurkan Gerakan Tasikmalaya Membaca (GTM) melalui serangkaian kegiatan yang berlangsung 19023 Desember 2016. Bupati meminta pihak terkait hingga para kepala desa agar bergerak untuk mendukung gerakan ini.
“Buatlah pojok-pojok baca di tempat-tempat yang terjangkau oleh masyarakat. Bagi masyarakat yang mampu sedekahkan buku untuk mereka. Kami ingin warga Tasikmalaya hebat dan tangguh sehingga berguna untuk orang lain,” ujar Bupati Uu saat itu.
Namun, respons dari pihak terkait tidak begitu antusias. Pojok-pojok baca yang seharusnya disediakan di unit-unit satuan kerja pemerintah daerah hingga ke desa-desa ternyata tidak terwujud. Termotivasi oleh kenyataan yang menyedihkan itu, awal Juni 2017, Dudi mengumpulkan berbagai komunitas untuk melanjutkan program GTM.
“Kami kumpul bulan Juni 2017 di sumber air Situ Sanghiang. Dari peserta yang diundang, hanya 50 persen yang hadir dari komunitas literasi seperti forum taman bacaan masyarakat. Sisanya datang dari berbagai komunitas lain yang tertarik dengan literasi,” ujar Dudi.
Komunitas itu antara lain Komunitas Pengamen/Pemusik Jalanan (KPJ), Komunitas Funk, Komunitas Tani, Komunitas Pemuda Kreatif (Primitif) yang bergerak di bidang lingkungan, dan Republik Madinah Serikat, komunitas dari Pesanteran Cipasung yang bergerak di literasi. Atau Komunitas Baca Anak Lembur di Salawu, sebuah desa di lereng selatan Gunung Galunggung.
Literasi aplikatif
Dari diskusi itu, muncul usulan melakukan gerakan sosial untuk meningkatkan budaya baca di seluru lapisan masyarakat. Para pegiat itu menyadari bahwa minat baca masyarakat, termasuk kalangan pelajar, tersedot oleh semarak gawai.
Untuk menghadapi derasnya arus informasi melalui gawai ataupun televisi, para pegiat bersepakat membuat pojok-pojok baca atau taman-taman bacaan di sejumlah kampung. Selain itu, muncul ide pula, mengapa para komunitas itu tidak dijadikan aliansi literasi aplikatif.
“Akan lebih berguna apabila hasil membaca itu dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, itulah makna hakiki dari budaya baca,” kata Dudi.
Maka, pada hari Minggu (17/9), Dudi bersama para komunitas itu meluncurkan Gebyar Literasi 2017 di Rest Area Sukaratu, 5 kilometer di bawah puncak Galunggung.
Bersamaan dengan gebyar itu dibangun pula 15 pondok baca di sejumlah desa di Tasikmalaya. Pojok-pojok baca itu untuk menambah pojok-pojok baca, taman-taman bacaan masyarakat yand suda ada. Semuanya dilakukan secara swadaya oleh para komunitas tanpa bantuan sepeser pun dari pemerintah daerah.
Salah satu pojok baca ditempatkan di Alun-akun Singaparna, ibu kota Kabupaten Tasikamalaya. Buku-bukunya sumbangan dari para pergiat komunitas tersebut.
“Kegiatan ini murni gerakan masyarakat bawah. Kamu ingin membantu program pemerintah menumbuhkan minat baca melalui semangat kebersamaan dan gotong royong,” ujar Agus Suyono (42), pengelola pojok baca yang seharinya petugas kebersihan di Alun-alun Singaparna.
Ketika ada satu komunitas mengelad kegiatan, maka semua komunitas dalam aliansi ramai-ramai mendukung sehingga kegiatan itu sukses karena dilakukan secara gotong royong. Melalui semangat literasi, setiap komunitas itu harus memiliki pojok literasi di tempat mereka domisili.
Mereka membangun pojok literasi di beberapa tempat, misalnya di terminal atau tempat berkumpulnya orang. Buku-buku yang disediakan disesuaikan dengan kondisi dan situasi setempat.
“Di terminal, misalnya, disediakan buku-buku tipis karena disesuaiakan dengan ketersediaan waktu orang berpergian,” ujar Dudi.
Komunitas yang bergerak di pengumpul dan pengolahan sampah membangun lapak literasi. Buku-buku yang disediakan sesuai dengan bidang mereka geluti.
Sejak lulus sarjana tahun 1997, Dudi kembali ke kampungnya di Desa/Kecamatan Cukangkawung, Kabupaten Tasikmalaya. Karena belum memiliki pekerjaan tetap, ia merintis sebuah taman bacaan masyarakat dengan buku-buku bekas.
Agar warga tahu ada buku-buku yang bisa dibaca taman bacaan masyarakat itu, pihak desa lalu mengembangkannya menjadi perpustakaan desa (perpusdes) melalui pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM). Walaupun diangkat menjadi guru pegawai negeri sipil di SMP Sodonghilir yand tidak jauh dari kampung halmannya, Dudi terus mengelola perpusdes.
Tahun 2011, PKBM Desa Cukangkawung berhasil meraih juara kedua tingkat kabupaten. “Namun, setelah menjadi perpusdes, pengunjungnya malah berkurang. Mungkin kesannya karena terlalu formal,” kata Dudi. Karena itu, perpusdes dikembalikan ke taman bacaan masyarakat sebab pengunjung bisa membaca sambil minum kopi atau mengobrol.
“Literasi itu bukan hanya tempat dan buku-buku, melainkan semangat dan gerakannya yang harus terus dipupuk dan dikembangkan,” ujarnya.
Oleh karena itu, Dudi menghimpun berbagai komunitas untuk menyebarkan semangat tersebut kepada masyarakat. Maka, dibangunlah Aliansi Komunitas Literasi Aplikatif yang gebyarnya dimulai dari Gunung Galunggung itu.
Kompas, 26 Oktober 2017, Hal. 16
