
Edvin Aldrian: Ilmuwan di Pusaran Perubahan Iklim
Perubahan iklim merupakan isu yang kompleks. Perlu banyak pintu untuk memahami dampak perubahan iklim. Edvin Aldirian (48) bertahun – tahun bergulat dalam kompleksitas persoalan perubahan iklim sebagai ilmuwan. Edvin kini tercatat sebagai satu dari sedikit ilmuwan Indinesia yang tampil di panggung internasional.
(Brigitta Isworo Laksmi)
Persoalan perubahan iklim tidak lagi cukup didekati dengan ilmu meteorologi, klimatologi, biologi, dan seterusnya. Jika kita ingin mencari solusi untuk mengatasi dampak luas perubahan iklim, perlu dukungan ilmu sosial, hukum, dan politik. Ilmu – ilmu itu amat penting dalam proses negosiasi untuk kesepakatan global.
Edvin Aldrian adalah salah seorang ilmuwan pelopor yang tekun bergelut dalam kompleksitas persoalan perubahan iklim. Ia mengawal isu perubahan iklim komplet dengan kelindan persoalan sosial politik di dalamnya. Ia tercatat sebagai anggota dewan Panel Ahli Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC). Sejak 8 Oktober 2015, ia menjadi Waklim Ketua Kelompok Kerja I IPCC dalam Bureau for Assesment Report (AR) 6. Hasil AR 6 bakal selesai pertengahan 2022.
Sejak 2004, ia juga menjabat Co-Chair of WMO Comission for Climatology (CCI) Expert Team on Institutional dan Infrastructural Capabilities (ET-IIC). Di kawasan Asia-Pasifik, Edvin menjadi Co-Vice Chair WMO Regional Association V Working Group on Climate Service (WMO RA V WG-CLS), 2004-2018.
Sebagai ilmuwan Indonesia yang muncul ke lapisan internasional, ia menilai ilmuwan dan eneliti Indonesia terlalu khawatir, sementara kreativitas dan “kenekatan” kurang. “Mereka takut produk (isu) lokal tidak akan laku untuk jurnal internasional. Padahal, dengan kreativitas yang dimiliki, akan muncul pemikiran yang beragam,” tutur Edvin, Januari lalu.
Menurut dia, sering kali peneliti tidak menyadari bahwa isu – isu lokal amat dekat dengan isu utama yang sedang menjadi penelitian dunia.
Edvin sendiri mengaku menulis segala hal yang ia sebut “aneh – aneh” mulai kebekaran hutan, soal padi, laut, hingga pemodelan. “Saya tidak takut dibilang tanpa spesialisasi. Masalahnya, ini adalah ilmu meteorologi terapan. Keengganan penulis berawal dari merasa tidak cukup kreatif untuk menuliskan sesuatu,” katanya.
Karya ilmiahnya terjaring untuk dibaca IPCC pada 2007 berama dengan dua peneliti Indonesia lainnya. Saat ini, ada delapan ilmuwan Indonesia yang karyanya dibaca IPCC.
Ini IPCC sedang menyusun laporan tentang apa arti kenaikan suhu bumi 1,5 derajat celcius, sesuai permintaan negara – negara pada Konferensi Perubahan Iklim 2015 di Paris. Selain itu, akan disusun laporan dampak perubahan iklim terhadap laut dan daratan secara khusus 1,5 tahun ke depan.
Laporan tersebut menjadi potret kondisi bumi saat ini akbit yang telah menderita akbiat perubahan iklim. Laporan itu akan menjadi stoctaking (inventarisasi) pertama tentang berbagai kondisi bumi sesuai Kesepakatan Paris.
Kesepakatan Paris menargetkan penurunan emisi untuk menahan kenaikan suhu global di bawah 2 derajat celsius dari suhu pra-Revolusi Industri atau dengan upaya keras menahan kenaikan paling tinggi 1,5 derajat celsius.
Salah satu isu krusial adalah perubahan iklim dan kota karena lebih daro 50 persen warga dunia tinggal di kota. Dengan haya hidup perkotaan yang boros energi, warga kota adalah penyumbang emisi terbesar dari transportasi dan gaya hidup yang bergantung pada produksi industri.
Topik khusus Perubahan Iklim dan Kota akan dibahas di Edmonton, kanada, bulan depan, melibatkan 300 kota sedunia.
Pengemisi ketiga
Keterlibatan mendalam Edvin dengan isu perbuahan iklim terjadi 11 tahun lalu ketika Wetland Internasional menyebut Indonesia sebagai pengemisi gas rumah kaca (GRK) ketiga terbesar di dunia karena kebakaran gambut. Kebetulan Edvin bersama Bambang Setiadi, ahli gambut tropis, menulis paper ilmiah tentang gambut.
Edvin akhirnya menajdi “juru bicara” Indonesia untuk menempatkan duduk perkara tentang hal itu. Ia menjelaskan bahwa asumsi awal dan cara menghitung atau modeling yang berbeda dari suatu penelitian akan membawa hasil berbeda. Dengan penjelasan itu, isu tersebut dapat diatasi dan muncul pemahaman baru.
Kerja keras Edvin terbayar saat tersiar informasi pada awal tahun ini: delapan ilmuwan Indonesia karyanya terjaring oleh IPCC untuk menjafi bahan laporan global. Pintu terbuka lebar bagi sosok yang haus tantangan ini. Dia lantas sering dilibatkan dalam berbagai seidang dan konferensi terkait iklim dan meteorologi. Dia berlatih untuk membaca cepat, berpikir cepat, dan mengambil posisi secara cepat.
Sebagai pendatang baru dia masuk menjadi anggota tim perumus untuk delegasi Indonesia. Selanjutnya, kiprahnya dalam beragam isu meteorologi global tak terbendung. Ia turut membidani lahirnya Deklarasi Manado pada World Ocean Conference tahun 2009.
Tahun 2009-2015, dia menjadi salah seorang penulis Assesment Report (AR) IPCC periode 2009-2015 dan salah satu pakar IPCC ang bertugas memberikan pendapat atau penilaian pada ratusan tulisan milik para pakar dari seluruh dunia. Ia menyumbangkan pemikiran yang menjembatani laporan ilmiah dari para pakar di IPCC dengan kebijakan yang sifatnya politis pada Kerangka Kerja Konvensi PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC).
“Temuan itu harus didukung sesuatu yang operasional di level bawah, yang nyata, misalnya layanan kesehatan dan kondisi ketersediaan air. Kami merumuskan itu,” katanya.
Edvin menggarisbawahi, posisi Indonesia pada isu perubahan iklim amat sentral. “Indonesia berada di daerah tropis yang merupakan tempat terjadinya sirkulasi atmosfer. Daerah tropis memiliki pengaruh ke utara dan selatan, ke barat dan ke timur,” ujarnya.
Apalagi, Indonesia berupa kontinen-maritim (kepulauan) di mana sistem konveksi (dinamika udara dalam atmosfer) di daerah itu adalah yang paling aktif, yang memengaruhi suplai senergi dan udara yang penting untuk perputaran dalam sistem atmoser (global). “Kita (Indonesia) adalah salah satu engine (mesin) iklim,” katanya.
Wilayah tropis lain adalah Afrika dan Amazon. Keduanya juga terletak di ekuator, tetapi hanya berupa daratan. “Interaksi laut-daratan di sini (Indonesia) leih tinggi ketimbang di dua wilayah tersebut meski sama – sama di ekuator,” ujar Edvin.
Implikasi dari posisi tersebut, ujar Edvin, Indonesia selalu disuruh menjaga udaranya agar tetap bersih, artinya emisi GRK rendah dengan menjaga hutannya. Di meja negosiasi iklim, posisi Indonesia yang unik tersebut, menurut Edvin, belum dimanfaatkan secara optimal.
Edvin percaya, menjadi ilmuwan di Indonesia lebih bermanfaat daripada ilmuwan di negara luar. Pasalnya, di Indonesia masih amat terbuka peluang untuk beragam kreativitas kerja ilmuwan. Di negara lain, terutama negara maju, peluang kecil.
Maka, ia mantap bertekun menggali kreativitas demi membawa nama Indonesia ke meja perundingan global perubahan iklim. “Negara – negara lain diwakili oleh orang yang bukan warga negaranya karena negara mereka sendiri kekurangan pakar,” ucapnya.
Edvin Aldrian
Lahir: Jakarta, 2 Agustus 1969
Istri: Stela ilia Dien Muhammad
Anak: Mirai Annabila Dien Muhammad (19), Edela Uswah Dien Muhammad (13), Yusuf Kenzie Aldrian (6)
Pendidikan:
- Teknik Fisika ITB (1998)
- Bachelor Teknik Fisika, McMaster University Kanada (1990-1993)
- Program Master di Institute for Hydrospheric dan Atmospheric Science (IHAS), Nagoya University, Jepang (1996-1998)
- Program Doktor Max Planck Institut fur Meteorogie/Universitas Hamburg, Jerman (2000-2003)
Pekerjaan/posisi:
- Teknologi Modiikasi Cuaca, BPPT (sejak 2016)
- IPCC Woeking Group I Vice Chair (2015)
- Editor Asia Pacific Journal on Atmospheric Sciences (sejak 2016)
Sumber: Kompas.16 Maret 2018. Hal. 16
