Oleh L’ WILARDJ0
Dalam dunia pewayarigan, baik epos Ramayana maupun Mahabarata, Sang Hyang Batata Wisnu adalah dewa.keadilan. Tugasnya menegakkan keadilan bagi sluruli ciptaan di jagat raya.
Ini meliputi para dewa dan bidadari di kahyangan, segenap titah di niarOapada, serta semua makhluk di ‘kerajaan flora dan fauna. Tujuannya menghadirkan kesejahteraah.
Untuk mencapai tujuan, nyaris apa saja akah dilakukan Dewa Wisnu, termasuk mengebarkan perang Baratayuda yang menelan korban jiwa dan harta benda tak terbilang jnmlahnya. Yang tidak dianut Barata Wisnu hanyalah adagium “Flat justitia, ruat caelum”, atau “Tegakkan keadilan, walaupun latiffit nultuh”, sebab membiarkan langit runtuh berarti menghancurleburkan Bumi. Ini bertentangan dengan misi menegakkan keadilan demi memayu hayuning bawana.
Einstein dan ketidakpastian
Kalau tugas dewa keadilan ialah membela dan menegakan keadilan, maka tugas dewa takpastian ialah berpihak kepada ketakpastian. Bettarkah Einstein dewa ketakpastian seperti dikatakan Radhar Panca Dahana (Kompas, 5/1/2015)?
Tentu tidak! Einstein justru anti ketakpastian, sebab ia berpegang pada determinisme dalam ilmu. Ia yakin bahwa dengan Einfitehlting—kecintaan yang sangat mendalam kepada obyek penelitian—ilmuwan yang bekerja” keras seperti dia akan sampai ke asas-asas semesta yang dapat dipakai untuk meramalkan apa yang akan terjadi dalam peristiwa fisika asalkan syarat-syarat awalnya diketahui. Prediksi itu akan ternyata kebenarannya secara pasti, secara deterministik Keyakinan fInnah itiilah yang menyeret Einstein dalaM sawala (debat) berkepanjangan. dengan fisikawan Denmark:Niels Bohr.
Einstein memang tidak menyukai matematika sehingga ia kelihatan bodoh di bidang ini. Ketidaktertarikannva pada maketika bersekolah di Muonchen, Jerman. Kelambanannyadalam disiplin yang amat ketat (rigorous) ini makin nyata saat ia belajar di EidgenoessiSChe Technische Hochschule (ETH), Sekolah.Tinggi Teluiologi Pederal di Zuich,. Swiss. Dosen matematikanya Herman Minkowski, menjulukinya “anjing pemalas”
Setelah menjadi peneliti dan guru besar di Universitas Princeton, Arnerika Serikat, ia matig memandang kendali asisten-asistennya yang mengerjakan perhitungan matematis untuk dia. Mereka disebutnya kuda-kuda penghitung (Rechnenpferde).
Namun, Einstein membutuhkan matematika untuk menggarap penelitiannya dibidang fisika. Karena ia melakukan analogi retrosipatif dari segi ragam (modal aspect) fisika ke segi ragam kesenangan (spatial), terpaksalah ia mempelajari geometri Riemann dan ruang Hilbert. Ketika ia kesulitan, ia minta bantuan Marcel Grossmann, sahabat di ETH yang jagoan , maternatika. Einstein sampai mengiba-iba ke Grossmann: “Tolonglah Saya (hampir) gila. Ich bin verrueckt.”
Pada peringatan seabad Teori Relativitas (2005), Einstein “dinobatkan” sebagai “Scientist of The Century” Dapatkah Einstein capaian setinggi itu tanpa matematika? Jelas tidak! Matematika barangkali memang bukan ratunya ilmu. Barangkali benar kata matematikawan Morris Kline bahwa matematika tak ubahnya “Sawang yang mengambang, terombang-ambing diterpa angin”. Namun, sains dan toknologi tidak akan semaju sekarang ini tanpa jasa matematika.
Radhar P Dahanas (RPD) sepertinya tidak pas membaca Karl Raymundo Popper. Terkesan di mata R.PD, Karl Popper tampak sebagai filsuf yang ahli, deduksi dan anti konjektur. Padahal, justru fisikawan-cum-filsuf ilmu ini pro dedukasi dan pro konjektur. Ia memang anti induksi lebih tepatnya anti induktivisme. Ini sama dengan Einstein yang menyatakan bahwa “tidak ada lintasan logis (baca: logika inductif) yang membawa kita ke asas-asas semesta”. Menurut Einstein, asas-asas semesta hanya dapat dicanai derwan Einfwhlunn. Dan sudah ditemukan melalui pembangunan teori berdasarkan postulat (yang sederhana), simpulan deduktifnya akan benar.,Artinya, pasti sesuai dengan realitas.
Seperti menggaungi Immanuel Kant, Popper membedakan “quid fakh” dari “quidjuris”. Logika tidak untuk menemukan kebenaran faktual, tetapi untuk membenarkan (“menjustifikasi”) kebenaran itu setelah ditemukan. Jelaslah bahwa Popper tidak anti logika deduktif.
Popper dan konjektur
Popper tidak meng-emoh-i konjektur, tetapi justru menganjurkannya. Teori tidak dibangun (atau dirajut, menurut paradigma Fritjof Capra – David Steindl-Rast) dengan induksi, tetapi dengan sejumlah konjektu•. Konjektur (conjecture) ialah pernyataan yang tidak didukung dengan argumentasi. Jadi semacam dugaan atau hipotesis di dalam pikiran ilmuwan-peneliti. Kebenaran konklusi deduktif dari teori itu akan kukuh apabila upaya memfalsifikasi teori itu gagal.
Di harian ini, beberapa waktu lalu Iwan Pranoto, Guru Besar Matematika ITB (sekarang Atase Kebudayaan dan Pendidikan di KBRI New Delhi), menganjurkan agar pendidikan di Indonesia mengedepankan TRIMS. “M” dalam ak•onim ini ialah matematika. Ini sama dengan (dan: memang diambil dari) penekanan pendidikan di Amerika Serikat pada STEAM. Dalam akronim ini, “M”-nya juga matematika.
Tak ada salahnya meniru kalau yang ditiru itu baik. Amerika adalah negara adidaya dan STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics) baik bagi Amerika. TRIMS juga baik bagi pendidikan di Indonesia. Menurut saya, TRIM (Telmologi, Rekayasa, Ilmu, dan Matematika) adalah “empat sehat”, yang dengan tambahan “S” (Seni) menjadi “lima sempurna”.
Orang boleh saja tidak menyukai matematika, seperti Einstein. Cita rasa memang tak clapat diperdebatkan. De gustibus 17011 csl disputandum. Namun, mengaitkan keketatan (rigot) disiplin ini clengan defisiensi pendidikan di Indonesia seperti mencari-cari kambing hitam.
*L. WILARDJO
Sumber: Kompas.-9-Januari-2014.Hal_.7

