Endang Sri Mul Subekti_Berbagi di Tempat Kerja.Kompas.11 Maret 2017.Hal.16

Tempat produksi Mahkota Snack milik Endang Sri Mul Subekti (50) menjadi ruang berbagi dan rumah kedua untuk anak – anak karyawannya. Ruang itu sekaligus menjadi pondok bagi siapa saja yang datang mencari tambahan rezeki.

            OLEH REGINA RUKMORINI

Sabtu (18/2) pagi, ruang produksi aneka penganan lokal seluas 900 meter persegi di Desa Gresing, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, itu ramai oleh sejumlah karyawan yang sibuk mengemas makanan olahan pisang hingga menggoreng kulit lumpia. Lutvi (6), anak salah seorang karyawan Endang, duduk di kursi kecil. Dia memotong – motong kulit pisang, sisa buah pisang yang diolah menjadi pisang aroma. Sembari menyapa karyawan, Endang mengingatkan Lutvi agar berhati – hati memakai pisau.

“Lutvi tetap diawasi orantuanya. Ia tidak pernah menganggu atau mengacaukan aktivitas produksi di pabrik,” ujar Endang

Lutvi bukan satu – satunya anak yang dibawa orangtunya ketika bekerja diruang produksi Mahkota Snack. Ada beberapa anak lain usia TK sampai SD yag sering dibawa ke tempat usaha sekaligus rumah pribadi Endang itu.

Endang tidak keberatan, Ia membiarkan saja anak – anak bermain di teras, halaman, atau sekitar ruang produksi. Tak jarang yang jadi “mainan” bagi anak – anak itu adalah pisang atau gulungan adonan yang sebenarnya dipakai untuk proses produksi. Lutvi yang jemu memotong – motong kulit pisag, misalnya, tiba – tiba beranjak, lantas duduk di dekat ibunya dan ikut menggulung adonan kulit yang membalut pisang. Endang tidak mempermasalahkan hal tersebut.

“Bermain – main, ikut pura – pura bekerja seperti ibunya adalah bagian dari cara mereka melepaskan diri dari kebosanan. Itu wajar buat anak – anak,” lanjutnya.

Endang membuka usaha olahan mekanan Mahkota Snack pada 2005. Dia memproduksi beragam produk makanan ringan, seperti pisang aroma, keripik pisang, dan keripik kulit pisang. Sejak 2007, pisang aroma buatan Endang diekspor hingga Selandia Baru.

Sejak lima tahun lalu, Endang juga mengolah dan menproduksi kopi buuk dengan merek Exesla. Ide itu muncul melihat potensi pertanian kopi yang besar di desany. Di Desa Gresing, luas lahan perkebunan kopi 118 hektar dengan tivitas 52 kuintal per hektar. Selama ini, sebagian besar produksi kopi dijual oleh petani tanpa diolah terlebih dahulu.

Membantu warga

Adapun ide menbuat pisang aroma, kata Endang, muncul setelah dirinya bersama kelompok Dasa Wisma – kelompok ibu dari 10 keluarga yang bertetangga dengan Endang – mendapat pelatihan membuat jajanan aneka pisang dari Pemerintahan Kabupaten Temanggung.

Memulai usaha dengan modal Rp 1 juta dari dana pribadi, usahanya terus menggeliat. Berikutnya ada bantuan pinjaman kredit usaha termasuk dari Bank Jateng sebesar Rp 50 juta.

Sejak awal merintis bisnis kudapan lokal, Endang berharap usahanya bisa ikut memperingatkan beban warga di sekitarnya. Apalagi, di Gesing, desa kecil yang berjarak sekitar 8 kilometer arah utarapusat kota Temanggung, termasuk daerah tertinggal. Dari 1.529 keluarga di desa itu, 829 keluarga masih masuk kategori miskin.

Semangat berbagi itu ditunjukan Endang melalui aturan kerja yang tidak membebani mereka. Dai membebaskan karyawan bekerja sembari membawa anak. Itu dilakukan karena Endang ingin membantu karyawannya yang mayoritas perempuan agar dapat menjaga anak sembari tetap bekerja.

“Dengan membawa anakanya kemari, para karyawan yang juga para ibu juga bisa lebih tenang dan lebih semangat bekerja,” kata Endang.

Mayoritas karyawan Endang berasal dari kalangan tidak mampu. Mereka umumnya kerap dihadapkan pada dilema: tetap bekerja untuk mendapatkan uang atau mengurus anak ke tempat kerja menjadi solusi terbaik.

“Daripada membiarkan anak di rumah atau dititipkan ke tetangga. Itu lebih berisiko. Anak bisa keluyuran dan mengerjakan sembarang kegiatan tanpa pengawasan,” ujarnya.

Bekerja  dengan membawa anak sebenarnya menjadi konsep yang ia jalankan sendiri. Sejak memulai usaha, Endang pun sering membawa kedua anaknya – saat itu masih SD dan SMP-untuk melihat sesekali mengikuti aktivitas produksi dari usaha yang dikelolanya.

Menurut Endang, itu adalah bagian dari metode mendidik yang penting diterapkan kepada anak. Cukup dengan melihat pekerjaan orangtuanya, secara otomatis akan tumbuh kesadaran dalam diri anak bahwa mencari uang tidak gampang dan perlu kerja keras. Selain itu, tiap anak juga akan lebih menghormati dan menghargai orangtuanya, berikut dengan semua hasil kerja kerasnya.

Endang memprioritaskan merekrut warga di desanya sendiri yang kebanyakan masih butuh tamabahan penghasilan. Suami mereka sebagian besar bekerja sebagai buruh bangunan dan sopir: Itu jadi saluran baginya untuk membantu sesamanya.

Terbuka bagi semua

Rumah produksi milik Endang acap kali didatangi anak – anak dan remaja, siswa SD, hingga SMA hanya sekadar mencari uang tambahan. Anak – anak dan remaja ini biasanya ramai berdatangan saat bulan puasa atau libur sekolah. Tanpa paksaan, anak – anak yang umunya dari keluarga kurang mampu itu membantu apa saja demi mendaptkan imbalan.

“Ada yang mengaku ingin punya uang beli pulsa, beli bedak, aksesori, atau mainan. Menjelang Lebaran, banyak anak juga ingin bekerja karena ingin memilik uang untuk membeli baju baru sendiri,” ujarnya.

Harapan sederhana dari mereka itulah yang membuat hati Endang terketuk dan menerima mereka bekerja paruh waktu. Kepada mereka, dia tidak menerapkan target tertentu. Walau begitu, hasil kerja anak – anak dan remaja itu sangat memuasakannya.

“Beda dengan karyawan dewasa yang cenderung bekerja cepat demi menghasilkan banyak hasil, anak – anak biasanya bekerja lebih lambat, tetapi hati – hati. Di bagian penggulungan pisang, misalnya, hasil mereka lebih rapi, bagusm dan benar  benar sesuai standar,” tuturnya.

Kini, Endang memiliki sekitar 15 karyawan tetap dan 39 karyawan lepas. Kepada mereka, khususnya remaja karyawan lepas, dia selalu menyuntikan motivasi agar mereka mampu mengembangkan semangat wirausaha dan lepas dari belenggu kemiskinan.

“Mudah – mudahan, setiap anak yang kemari, termasuk anak – anak karyawan, kelak bisa terinspirasi, termotivasi untuk bekerja keras dan melakukan wirausaha secara mandiri,” ucao Endang penuh harap.

Sumber : Kompas.11 Maret 2017.Hal.16

 

Lahir    : Temanggung, 13 November 1966

Suami  : Aris Pratiknyo (57)

Anak   :

  • Visa Lusianan Marta (27)
  • Resinda Galih Dwi Pradana (20)

Pendidikan      : Sekolah Farming Menengah Atas Jurusan Pertanian ( sekarang sudah tidak ada )

Aktivitas         :

  • Bendahara Badan Pengurus Dana Amanah Pemberdayaan Masyarakat Kecamatan Kandangan
  • Pemilik industri rumah tangga Mahkota Snack

Sumber: Kompas.11-Maret-2017.Hal_.161