Kemenangan Indonesia di ajang Thomas Cup 2020 di Denmark pada Minggu (17/10) menumbuhkan harapan akan kebangkitan olahraga bulu tangkis di Indonesia. Juga menumbuhkan harapan akan majunya pariwisata olah raga (sport tourism) di Tanah Air.

Memori masa lampau mengantarkan kita pada nama-nama besar atlet bulu tangkis, salah satunya Liem Swie King.  Juara All England tiga kali ini ikut mengantar tim Indonesia menjadi juara (1976, 1979, 1984).

King memang menjadi motor bagi para pemain Djarum. Setelah King, lahirlah juara-juara baru bulu tangkis hasil pembinaan Djarum. Salah satunya, Christian Hadinata.

Puncak prestasi PB Djarum terlihat pada perebutan Piala Thomas 1984 di Kuala Lumpur, Malaysia, di mana Indonesia mengalahkan China 3-2 di final. Tujuh dari delapan anggota tim Piala Thomas Indonesia berasal dari PB Djarum, yaitu Liem Swie King, Kartono, Christian Hadinata, Hastomo Arbi, Hadiyanto, Heryanto, dan Hadibowo.

Setelah era tujuh pendekar yang dimotori King berakhir, muncul lagi delapan jagoan dari Djarum di era 1990-an. Mereka adalah Ardy Bernadus Wiranata, Alan Budikusuma, Eddy Hartono, Gunawan, Hariyanto Arbi, Denny Kantono, Antonius Budi Ariantho, dan Sigit Budiarto.

Pada Olimpiade 2000 Sydney, pemain Djarum, Minarti Timur berpasangan dengan Trikus, merebut medali perak nomor ganda campuran. Pada Olimpiade 2020 di Tokyo, ganda putri Indonesia merebut medali emas. Dan terakhir, Thomas Cup 2020 di Denmark dimenangkan Indonesia.

Sport tourism

Minggu lalu, penyelenggaraan PON ke-XX Papua telah berakhir. Kemegahan dan kesuksesan event olah raga kebanggaan Indonesia di Stadion Lukas Enembe, Jayapura, menandakan kemajuan pembangunan pariwisata di Papua, melalui sport tourism.

Dari segi penyelenggaraan event, olah raga memberikan kesempatan bagi daerah, dalam hal ini Provinsi Papua, untuk membuktikan kemampuan dan kreativitasnya, di samping menjadi berkah bagi daerah yang menjadi tuan rumah.

Pariwisata dengan menyandarkan pada sektor olahraga telah banyak dikembangkan di berbagai daerah di Indonesia. Surabaya salah satunya, tercatat sebagai salah satu kota yang menegaskan diri menjadi destinasi wisata berbasiskan olah raga.

Misalnya, DetEksi Basketball League (DBL) yang dihelat di DBL Arena, yang merupakan event basket pelajar terbesar dengan fasilitas berstandar internasional. Arena venue ini pernah digunakan untuk event resmi pertama NBA di Indonesia.

DBL arena mendulang dua prestasi sekaligus. Pertama, mendongkrak minat dan prestasi kaum muda pada cabang olah raga bola basket. Kedua, menjadi aset baru bagi kota dan negara untuk mendatangkan pengunjung terkait event-event olah raga.

Di Surabaya, cabang olah raga golf juga memiliki keunggulan kompetitif untuk menjadi pemikat wisatawan, khususnya wisatawan asing, dibandingkan padang golf di daerah-daerah lain. Selain harga yang lebih murah, kualitas lapangan juga lebih baik.

Secara keseluruhan, negeri kita memiliki 151 padang golf yang tersebar di berbagai kawasan wisata di tanah air. Ini merupakan aset untuk menarik kunjungan wisatawan bermain golf sambil berwisata.

Situasi ini memberi sinergi antara pemangku kepentingan olahraga dan pariwisata dalam menumbuhkan model bisnis baru di Tanah Air. Olahraga pun kini tidak bisa berdiri sendiri.

Nilai plus olahraga justru semakin tampak manakala disinergikan dengan pariwisata. Sebaliknya, kepariwisataan itu sendiri juga semakin terdiversifikasi dengan adanya produk hasil perkawinan dengan olahraga.

Dunia bahkan mengenal event olahraga tidak sebatas pertandingan antar negara. Tapi lebih menyangkut gengsi tuan rumah, gengsi juara dan terutama, event wisata yang ditandai dengan kedatangan kontingen, atlet, supporter dan official yang bertanding.

Selain World Cup dan Olimpiade, di ranah regional event-event seperti Sea Games dan Asian Games masih menjadi target yang perlu diupayakan ekstra, baik untuk meraih prestasi di level itu maupun memperebutkan sebagai tuan rumah penyelenggaraan.

Ada dua keuntungan sekaligus terkait sport tourism, sebagai pemenang jelaslah membanggakan asal negara di kancah dunia, dan sebagai tuan rumah menjadi momentum emas meraih devisa.

Di tingkat nasional bahkan event-event olahraga seperti PON masih menjadi momentum yang seksi yang ingin diperebutkan daerah-daerah untuk ditetapkan sebagai tuan rumah.

Pada hari pariwisata se-dunia pada tahun 2004 yang dipusatkan di Malaysia bahkan mengangkat tema yakni “Sport and Tourism: two living forces for mutual understanding, culture and the development of societies.”

Adapun produk populer sport tourism di antaranya, rafting, sailing, racing, surfing, diving, snorkeling, triathlon, golf, mountain bike, dan lari maraton 10K. Pada jenis olahraga inilah umumnya dikolaborasikan sebagai event wisata. Sebagai misal, Tour de Singkarak, Tour de East Java, Sail Banda, dan sebagainya.

Secara khusus, wisata olahraga melalui event-event sport berkelas internasional, meskipun diadakan temporer, ditengarai sebagai motor pemicu peningkatan taraf ekonomi yang signifikan bagi tuan rumah penyelenggara.

Hal itu dipertegas oleh Arismundar (1997), bahwa pariwisata juga akan berkembang sampai ke wisata ilmu dan teknologi, serta wisata olah raga.

Kebutuhan pariwisata dan olah raga dapat memicu bisnis baru, jasa dan produk baru. Di antaranya, jasa layanan tempat olahraga, perdagangan peralatan olahraga, serta meningkatnya kesadaran masyarakat berolahraga.

Selain itu, menyangkut komitmen pemerintah dalam pembangunan infrastruktur – baik yang terkait langsung dengan olah raga maupun yang mendukung – yang berkualitas dan berstandar internasional. Infrastruktur yang terkait langsung terletak pada fasilitas dan standar kualitas arena pertandingan berstandar internasional.

Sarana pendukung mulai dari bandara, transportasi, akomodasi hotel, tempat perbelanjaan dan sarana rekreasi, rumah sakit, keamanan dan kebersihan, dan lain sebagainya.

Merupakan tantangan bagi kita semua, khususnya pelaku usaha dan pemerintah daerah untuk memajukan setiap potensi yang ada.

Di bidang olah raga, stakeholder olah raga di daerah perlu berkolaborasi dan bersinergi dengan stakeholder pariwisata untuk mengemas turnamen olahraga agar tidak sekadar menjadi even olahraga, tetapi juga event pariwisata.

Olahraga dapat menjadi alternatif dan peluang untuk memajukan pariwisata tanah air. Selain prestasi, citra sebagai negeri yang berperadaban tinggi dalam olahraga juga penting untuk mendongkrak event-event pertandingan olah raga tingkat dunia diadakan di Indonesia.

Selamat untuk atlet bulu tangkis Indonesia yang memenangkan Thomas Cup 2020. Mari kita jaga tradisi prestasi olahraga di tingkat internasional, dan kita bangun sport tourism di tanah air.

Sumber: Kontan. 20 Oktober 2021. Hal.15.