Kian langka.  Namun, seorang Di era kekinian, sastra daerah, termasuk sastra Jawa, guru bahasa Indonesia di Kencong, Jember, justru kian produktif menulis saat usianya sudah tidak muda.

ADI FAIZIN, Jember

“MENULISLAH, Bu. Supaya Ibu mengembangkan potensi diri.”  Pesan itu sudah menginjak 37 tahun, dia memulai sisi lain dari hidupnya, yakni sebagai seorang penulis.

Dunia tulis-menulis dan perbukuan sejatinya bukan hal baru bagi Eni.  Selain karena profesinya sebagai guru bahasa Indonesia yang menuntutnya banyak terlibat dalam sastra, membaca sudah menjadi kegemarannya sejak remaja.  Jember yang ada di Kencong.  Sehari-hari Eni mengajar di MTSN 9.

Sebelumnya, sejak 2014 sampai 2016, Eni mengajar di MTSN 4 Jember, juga untuk mata pelajaran bahasa Indonesia.  Yang mungkin berbeda dengan kebanyakan orang, Eni sudah gemar sastra Jawa sejak masih anak-anak.  Beberapa majalah sastra Jawa yang kini mulai langka sudah lama menjadi langganannya.  “Dulu semasa SMP saya memang aktif menulis di media lokal. Tapi kemudian sempat vakum beberapa tahun,” ungkap alumnus D-2 PGSD IKIP Malang dan STKIP PGRI Jombang tersebut.

Lalu, tibalah momen ketika anak sulungnya, Farah Aida lmiatul Kulsum, pada tahun 2012 meraih juara nasional lomba menulis bertajuk LMC yang diadakan Kemendikbud.  Prestasi sang buah hati yang kemudian menginspirasi Eni untuk menulis.

Beberapa bulan berselang, terbitlah cerpen setelah sekian tahun. Cerpen berjudul April Mopitu terbit di majalah sastra Jawa Jaya Baya edisi April 2013. Beberapa waktu kemudian, cerpen yang juga dia tulis dalam bahasa Jawa berjudul Layang kanggo Kancaku Lawas dimuat di majalah Panjebar Semangat.

Majalah berbahasa Jawa tersebut memuat cerpen karya Eni pada November 2013. Sejak itu, dipilih berganti, tulisan Eni dimuat berbagai majalah.  Semuanya dalam bentuk cerpen berbahasa Jawa, khususnya romansa.  Sesuatu yang kini jarang ditekuni kebanyakan penulis di Indonesia.

“Tahun 2013 itu saya seperti saya nemukan hidup baru,” kenang ibu dua anak, Farah Aida llmiatul Kulsum (kuliah di Pariwisata UGM) dan Salman Al Farizi Zamzam (kelas III SMPN 1 Kencong), tersebut.

Eni bersedia menyatakan diri tidak percaya diri saat memulai karir kepenulisan. Mengetik di laptop saja masih pakai pagi hingga siang hari.  “Dari cerpen yang saya gapai, lakukan, atau hanya sebatas peroleh,” ujar Eni.  Bukan semata-mata karena usia.  “Saat itu saya masih gaptek untuk teknologi. Dua jari,” ungkap Eni, lantas tersenyum.

Hingga lebih dari lima tahun menjalani prosesmenghasilkan ratusan cerpen.  “Ada saat usia sudah tidak muda. Mungkin takdir ya” ucapya lantas tertawa.

Setelah menghasilkan ratusan cerpen romansa berbahasa Jawa, pada 2016 Eni terdorong untuk mengumpulkan karya-karyanya yang hampir setiap malam Eni berkutat dengan tulisan-tulisan setelah menyelesaikan kewajiban sebagai guru pada cerpen itu beragam hal yang tidak bisa keinginan bisa dengan mudah saya karir sebagai penulis sastra Jawa, sedikit penyesalan kenapabarumemulai terserak.  (* / hdi / c9 / diq)

 

Sumber: Jawa-Pos.18-Maret-2018