Eric Stark Maskin_Kesenjangan Bermuka Dua 20 Januari 2017.Hal

Datang ke Indonesia untuk memberikan pencerahan tentang “ Mengapa pasar global gagal untuk mengikis kesenjangan” ekonom A merika Serikat. Erik Stark Maskin ternyata bisa menjabarkan hal sulit itu menjadi mudah dimata awam. Peraih Nobel Ekonomi 2007 itu seakan tak kenal lelah melayani berbagai sesi wawancara dan paparan.

OLEH ABRAHAM RAMBEY

Aula Universitas Surabaya, Jawa Timur tidak menyisakan satupun tempat duduk kosong ketika acara diskusi dengan Erik Stark Maskin digelar, Minggu (15/1). Diskusi berlangsung seru sampai-sampai sesi Tanya jawab harus dipotong karena penanya terus bermunculan.

“Kesenjangan baik social maupun ekonomi yang selalu berhubungan, hanya bisa mengandalkan bperan pemerintah setempat untuk bisa menguranginya. Ingat. Menguranginya. Kesenjangan tidak pernah bisa dihilangkan sama sekali” Kata Maskin, yang meraih Nobel lewat peletakan dasar teori Ekonomi tentang Teori Desain Mekanisme (Mechanism Design Theory). Teori juga dipakai maskin untuk membahas toipiknya di Indonesia itu secara umum adalah bagian dari Teori Ekonomi Mikro dan Teori Permainan (Game Theory). Desain mekanisme memikirkan bagaimana cara mengimplementasikan sebuah sistem yang paling baik untuk mengatasi masalah yang melibatkan banyak pihak, dimana tiap pihak memiliki kepentingan masing-masing. Teori ini syarat dengan unsur matematika yang tentu rumit dimata awam. Siang itu Maskin dengan gambling menjabarkan teorinya hanya dalam waktu sekitar satu jam dalam sebuah diagram sederhana.

Menurut maskin, kesenjangan terjadi terutama karena adanya berbagai tingkat kemampuan manusia  dimanapun. Kemampuan manusia (Skill) akan berhubungan dengan bagaimana seorang manusia hidup, berinteraksi dengan sesame dan mencari nafkah. Kesenjangan dalam jangka panjang menimbulkan berbagai masalah lain dalam kerangka social ekonomi. “Bagaimanapun cara mengatasi kesenjangan terutama adalah dengan pendidikan dan pelatihan” papar Maskin yang datang ke Indonesia dalam program Bridges, yaitu program yang berusaha menciptakan kedamaian dan keharmonisan lewat alog ilmu dan budaya di sejumlah negara. Program Bridges yang diusung International Peace Foundation, lembaga pusat yang berniaga di Vienna, Austria berlangsung juga dibeberapa negara ASEAN, yaitu Filippina, Malaysia, Kamboja, dan Vietnam. Peraih Nobel lain yang akan datang ke Indonesia dalam program Bridges pada Januari ini adalah Jose Manuel Baroso pada tahun 2012 meraih hadiah Nobel untuk perdamaian dan demokrasi.

PERTUMBUIHAN EKONOMI

Menurut Maskin, ekonomi yang terus bertumbuh juga makin menimbulkan kesenjangan itu, juga pernah dijabarkan oleh David Ricardo, ahli ekonomi politik sejak 200 tahun lalu. Pelatihan, ujar Makin selalu membutuhkan peran serta industry yang sudah berjalan karena pelatihan menyangkut cara melakukan sesuatu atau cara menggunakan sebuah alat. Pelatihan sifatnya spesifik dan kadang tidak bisa dibuat umum untuk sebuah tempat. “Masalahnya smeua pabrik tidak selalu mau memberikan pelatihan dalam skala luas karena mereka berpikir bahwa makin terlatih seorang pekerja, peluang untuk lari keperusahaan pesaing semakin besar”. Kata Maskin yang membuat hening ruangan. Soal pendidikan maskin menegaskan bahwa itu menyangkut sistem total yang secara international berhubungan karena menyangkut ilmu-ilmu umum. “ Disinilah memang hanya negara yang bisa berperan. Tentang pendidikan dan regulasi dengan sistem yang baik membuatnya jadi baik. Untuk pelatihan sebuah negara bisa memacu sebuah pabrik untuk memberikan pelatihan dengan imbalan pengurangan pajak misalnya”, papar Maskin. Pendidikan dan pelatihan menurut Maskin, memang hal utama  untuk mengurangi kesenjangan tidak akan mungkin dihilangkan sama sekali. Terkait kesenjangan, Maskin menjabarkan dengan membagi kemampuan manusia dan empat kelompok. Manusia dengan kemampuan tertinggi dinilai dengan angka 4.

Selanjutnya dengan skala menurun, kemampuan manusia dinilai dengan angka 3 dan 2. Menurut Maskin dalam penelitiannya produktivitas mempunyai rumus O (Output, ke-luaran)= M               2 X S (M kuadrat asli S). M adalah kemampuan manajer sedangkan S adalah kemampuan karyawan-nya. Maskin menunjukkan bahwa kemampuan manajer 4 dan karyawan 3, akan didapat produktivitas lebih baik jika 4 bekerja dengan 3 dibandingkan 4 dengan 4 dan 3 dengan 3. Sebagai contoh sebuah sistem terdiri dari 4, 4, 3 dan 3.

(42x3) + (42x3) = 96 sedangkan (42x4) + (32x3) = 91. Terlihat bahwa menggabungkan 4 dan 3 menghasilkan keluaran yang lebih baik daripada 4 dengan 4 atau 3 dengan 3. Akan halnya di area dimana saja pekerja dengan level 2, misalnya ada 4,4,2 dan 2 maka: (42x4) + (22x2) = 72 sedangkan (42x2) + (42x2) = 64. Menurut Maskin saat ini masih snagat banyak tingkat kemampuan 2 di berbagai penjuru dunia. Sementara itu, banyak negara dnegan kemampuan 4. Maka, yang terjadi adalah banyak negara maju tetap membiarkan 2 dengan 2. Kesenjangan kadang dibiarkan tetap kesenjangan bagi kelompok tertentu karena menguntungkan bagi mereka. Maka, bisa dikatakan bahwa kesenjangan bisa bermuka dua. “Pendidikan yang baik akan membawa pekerja dengan leverl 2 menjadi 3.  Selain akan mengurangi kesenjangan, hal itu akan menciptakan dunia yang lebih baik.” Ujar Maskin.

Sumber: Kompas 20 januari 2017. Hal 16