Penampilannya sama sekali tidak menunjukan perempuan itu berusia 70 tahun . Dia masih cekatan dan memberi pengarahan kepada sejumlah orang dengan rinci. Sejumlah orang mengelilinginya dan menyimak . Siang itu , Erna Witoelar – perempua itu- sedang mengecek persiapan acara peluncuran bukunya yang berlangsung pada Jumat (10/2) malam.
OLEH AGUS HERMAWAN
Perempuan bernama lengkap Erna Anastasia Waliono itu bukan nama asing lagi dalam dunia lembaga swadaya masyarakat Indonesia. Posisinya di sejumlah lembaga nonpemerintah yang penting menjadikan kiprahnya malang melintang tidak hanya di dalam negeri , tetapi juga di kancah internasional.
Umur hanyalah sebatas angka. Ungkapan itu rupanya pas bener dijalani Erna, yang lahir di Danau Tempe, Wajo , Selawesi Selatan, itu . Walaupun kini menyebut dirinya sebagai senior citizen, pergerakannya tidak kalah dengan para eksekutif muda yang supersibuk dengan mobilitas tinggi.
Dalam satu pecan, dia bisa berada di sejumlah tempat, seperti akhir tahun lalu yang tiba-tiba sudah berada di Marrakesh, Maroko, untuk menghadiri Pertemuan Para PIhak (COP) ke-22 Konferensi Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim ( UNF – CCC ).
Perjalanan Erna sebagai aktivitas demikian panjang hingga menempati berbagai posisi penting, termasuk sebagai Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah pada Kabinet Persatuan Nasional semasa pemerintahan Abdurrahman Wahid.
“Saya ketendang-tendang jadi sesuatu . Praktis seumur-umur tidak pernah melamar pekerjaan , tetapi pada saat yang sama ada momen saya menangani lima lembaga,” kata Erna .
Demikianlah perjalanan hidupnya memanjang dari sebagai aktivis mahasiswa saat berkuliah di Jurusan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung; ikut membesarkan dan memegang berbagai jabatan di sejumlah organisasi nonpemerintah , seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) , Yayasan Keanekargaman Hayati Indonesia (Kehati) , Dana Mitra Lingkungan (DML) , dan Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan ; serta disejumlah lembaga level dunia sebagai Presiden Konsumen Internasional Kepedulian hingga Konsorsium Filantropi Asia Pasifik (APPC).
Kepeduliaannya terhadap lingkungan ataupun masyrakat sekitar adalah kepedulian masyarakat sekitar adalah kepedulian dengan totalitas . Semuanya kemudian mengalir sebagai takdir.
Saat Sekertaris Jendral Perserikatan Bangsa-Bangsa Kofi Annan melakukan kampanye Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs), Erna diajak bergabung untuk memimpin kampanye serupa di Kawasan Asia Pasifi . Saat itu dia diberi dua tawaran , yakni menjadi Duta Besar Khusus PBB yang “dibayar” pro forma sebesar 1 dollar AS setahun atau sebagai konsultan yang dibayar mahal .
Saat itu, sebagai konsultan internasional , Erna sudah mendapat bayaran lebih dari 500 dollar AS perhari . Erna kemudian memilih bertugas sebagai Duta Besar Khusus PBB. Alasannya , dengan posisi seperti itu, dia akan lebih efektif menggalang rasa kepemilikan negara-negara Asia Pasifik terhadap MDGs.
Erna bersyukur apa yang diperjuangkannya bersama rekan-rekan di LSM sudah menampakkan hasil. Menjadi tugas LSM dan media untuk terus meningkatkan pemerintah menyangkut isu-isu lingkungan atau kepentingan orang banyak lainnya. Namun, untuk itu, rekan-rekan LSM harus berbekal data yang kuat.
“Dulu pada era Orde Baru , zaman Pak Harto ataupun Pak Sudomo (Panglima Kopkamtib), kami melakukan advokasi aman-aman saja. Karena kita mengkritisi kebijakan tidak menyerang personal . Jangan takut menjadi LSM , suarakan kebenaran sejauh itu fakta , ilmliah , dan benar,” kata Erna.
Namun , Erna mengingatkan , untuk melakukan semua itu, pihak LSM harus beres terlebih dahulu, “ Jangan teriak – teriak anti korupsi jika dianya sendiri korupsi,”ujarnya.
Berkat tumbuhnya kesadaran konsumen , misalnya , kata Erna , saat ini dunia pengusaha juga tidak melulu mencari untung semata , tetapi mereka juga memberikan konstribusi nyata bagi masyarakat.
Jejak-jejak Erna membekas dalam sejarah perjuangan organisasi non-pemerintah atau LSM.
Ketika orang menyinggung perlindungan konsumen, orang akan teringat YLKI. Bahkan , YLKI sering kali dididentikkan dengan dirinya yang sempat dijuluki juga sebagai , “ Dewi Pelindung Konsumen “. Sebuah julukkan yang menurut Erna berlebihan . Kesadaran konsumen akan hak-haknya kini sudah menjadi bagian dari masyarakat . Konsumen tidak lagi nrimo atas suatu produk, tetapi mereka berhak mendapatkan berbagai standar suatu produk dengan kualitas seharusnya. Hal itu antara lain berkat perjuangan YLKI yang berdiri tahun 1973 oleh sejumlah tokoh.
Kesadaran masyarakat saat ini akan isu lingkungan hidup juga tidak terlepas dari kiprah Walhi , yang dibentuk oleh 10 organisasi nonpemerintah pada 1980 . Selain, sebagai salah seorang pendiri , Erna menjabat sebagai Direktur Walhi pada fase-fase awal hingga tahun 1986.
Cikal bakal kerja sama antara pemerintah dan organisasi nonpemerintah mulai terbangun pada era ini. “Sekaligus juga menjadi semacam jembatan antara aparatur pemerintah dan masyarakat dalam menangani masalah lingkungan hidup,” ujarnya.
Sejarah kehidupan Erna pun terus bergulir. Kiprahnya tidak lepas dari kelahiran sejumlah LSM. Semua lembaga yang dilahirkannya , seperti Walhi , dia kelola dengan transparasi dan akuntablitas tinggi. Untuk menggerakkan organisai , bersama Emil Salim , Erna mendekati sejumlah pengusaha , termasuk konglomerat Om Willem alias William Soeryadjaja.
Sejumlah pengusaha yang tergerak kemudian membentuk sebuah yayasan yang diberi nama Dana Mitra Lingkungan yang dibentuk Oktober 1983. Erna menyebut , para tokoh, pengusaha, dan pelaku bisnis yang mendirikan DML itu boleh disebut sebagai pelopor aksi filantropi terhadap lingkungan hidup Indonesia.
Sebagai perempuan, Erna tidak memungkiri apa yang dicapai dalam perjalanan hidupnya tidak lepas dari dukungan keluarga : suami dan anak-anaknya . “ Mereka adalah teman diskusi dan pendukung saya, “ katanya.
Semua pencapaian bisa dicapai dengan saling mendukung . “Perempuan jangan takut untuk menjadi ambisius yang malah di cari ,” ujar Erna.
Sang teman diskusi semasa aktivis mahasiswa , yang kemudian menjadi suaminya, Rachmat Witoelar, mangungkapan , semua perjuangan Erna selama ini mengerucut pada satu definisi. “ Saya melihatnya dia itu seperti pembangun jembatan ,” katanya . Di sebut demikian Karena Erna bisa menghubungkan ide-ide ataupun potensi banyak pihak tersebut ke posisi yang lebih tinggi .
Sebagai rasa bersyukur , Rachmat beserta ketiga anaknya sepakat “mangabadikan” sosok istrinya dalam sebuah buku . Buku Erna Witoelar : Membangun Jembatan yang ditulis penulis Safrita Aryana setebal 256 halaman pun kemudian hadir dan diluncurkan pada Jumat malam untuk merayakan hari jadi Erna yang ke – 70 .
Untuk menjangkau lebih banyak pembaca generasi muda, buku tersebut disiapkan dalam bentuk e-book. Siapa pun bisa mengunduhnya di http://witoelar.com/erna.
“ Saya ingin buku pengalaman saya ini bisa menjangkau generasi muda. Mereka bisa mengunduh tanpa membayar,” kata Erna.
IR ERNA WITOELAR , MSI
- Lahir : Sulawesi Selatan , 6 Februari 1947
- Pendidikan :
– Jurusan Teknologi Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) , Bandung (1974)
– Magister Ilmi Lingkungan Universitas Indonesia (UI) , Jakarta (1993) - Suami : Ir Rachmat Witoelar K
- Anak :
Aria Sulhan Witoelar
2. Surya Cipta Witoelar
3. Wirya Takwa Witoelar - Karier dan Jabatan , antara lain :
– Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Kabinet Abdurrahman Wahid
– Duta Besar Khusus PBB untuk Millennium Devepment Goals di Asia Pasifik ( 20 Agustus 2003)
– Berbagai posisi di sejumlah LSM dalam dan luar negeri.
UC – Lib Collect
Sumber : Kompas, Sabtu , 11 Februari 2017

