Setelah bertahun- tahun berkelana sebagai pecinta alam, Fachrul Alamsyah pulang ke kampung halamannya di Jabung, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Ia lantas mengembangkan gubuk baca bagi anak- anak kampung. Kini, muncul gubuk- gubuk serupa yang berkembang jadi ruang kegiatan kreatif kawula muda.
OLEH DAHLIA IRAWATI
Fachrul Alamsyah (40), biasa disapa Irul, pada awalnya bukanlah siapa- siapa. Ia sarjana ekonomi Universitas Islam Malang yang kebetulan menjadi aktivis pecinta alam. Ia banyak mengisi masa mudanya dengan berkelana dari satu kota ke kota lain di Jawa Timur, baik untuk sekadar “main” maupun bekerja.
Namun suatu massa pada tahun 2012, Irul merasa cukup mengembara. Ia merasa sudah waktunya kembali ke tanah kelahiran untuk berkarya dan bermanfaara bagi orang lain.
September 2014, mantan tenaga penjualan (sales) kendaraan bermotor itu membangun Gubuk Baca Lentera Negeri (GBLN) di garasi rumahnya di Jabung. Ia membuka gubuk baca bermodalkan uang Rp 25.000 untuk membuat banner bertulis “Gubuk baca Lentera Negeri”. Saat itu, tak ada sebuah buku pun yang dimilikinya.
Irul lantas mengunggah foto banner tersebut ke media sosial miliknya. Seminggu kemudian, gubuk baca itu pun mulai kebanjiran relawan dan buku dari teman- teman dan jaringannya di sejumlah wilayah.
Sejak itu, GBLN mulai hidup. Banyak anak dan pemuda datang untuk membaca buku, berkumpul, dan berkegiatan bersama. Setidaknya ada lebih dari 30 relawan GBLN aktif di sini adalah mulai dari mendapatkan sumbangan dan menyalurkan buku- buku hingga membuat aneka kegiatan di gubuk baca.
“Saya ingat pesan guru ngaji saya bahwa belajar itu tidak ada habisnya dan tidak hanya di dalam kelas. Jadi, saya merasa panggilan saya sudah tiba untuk bermanfaat bagi sesama. Makanya, saya berhenti main dan berusaha bermanfaat untuk orang lain,” kata ayah satu anak itu saat ditemui di Taman Budaya Jawa Timur, Kota Malang, akhir desember 2016. Sebelumnya, awal desember lalu, kami juga ngobrol di GBLN di Jabung.
ANGON BUKU
Tahun 2014 pula, Irul membantu mengajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Marhamah, Gunung Kunci, Jabung, kekurangan guru dan ruang kelas.
Di sini, selain membantu mengajar, Irul juga membangun Gubuk Baca Gunung Kunci. Gubuk baca itu akhirnya tidak sekadar menjadi sarana untuk menyalurkan hobi anak- anak membaca, tetapi juga berkembang sebagai ruang kelas bagi siswa MI. Memang pada akhirnya MI tersebut mendapat bantuan dari perusahaan otomotif Yamaha dengan dibangunkan dua ruang kelas tambahan.
Pada tahun 2016, Irul masuk ke Gang Tato, Jabung. Sebelumnya selama beberapa bulan ia melakukan survei untuk memetakan kondisi kampung tersebut. Kegiatan itu diterima dengan baik, tidak mendapat tantangan. Irul berkeyakinan, senakal- nakalnya orang pasti ada secuil keinginan berbuat baik.
Di Gang Tato, Irul mulai dengan program angon buku (membuka perpustakaan keliling) dari rumah- rumah warga kampung yang terkenal sebagai kampung “keras” itu. Irul awalnya menyasar anak- anak untuk membaca. Namun, lama-lama, ibu, kakak, dan orangtua si anak pun turut mendukung kegiatan tersebut.
Sebulan kemudian, lahirlah Gubuk Baca Gang Tato. Gubuk dibangun pemuda setempat dengan menggunakan lahan milik warga. Irul mengajak pemuda di sana maju bersama- samal. Sebagian pemuda setempat dengan menggunakan lahan milik warga. Irul mengajak pemuda di sana maju bersama- sama. Sebagian pemuda yang semula dikenal berangasan dan kurang berpendidikan tinggi kini justru menjadi agen perusahaan.
Para pemuda bekerja sebagai buruh tani, sopir, dan kuli pada siang hari. Saat malam tiba, sepulang kerja, mereka berkumpul di Gubuk Baca Gang Tato untuk berorganisasi. Mereka mengaktifkan kegiatan, seperti perpustakaan keliling, dolanan anak, dan bimbingan belajar, serta membangun usaha bersama pembuatan kaus suvenir Gang Tato. Gang Tato, kampung kelam dan menyeramkan dimasa lalu, kini menjadi kampung percontohan. Kampung di sebelahnya kini juga mulai tertarik membangun gubuk baca serupa.
November 2016, Irul membuat Taman Baca Kampung Damar, Jabung. Dengan konsep serupa di Gang Tato, ia mengajak pemuda desa setempat berdaya melalui produksi lampion. Tentu, pintu masuk usaha itu melalui taman baca.
RUANG KREATIF
Gubuk baca terus berkembang bukan sekadar sebagai taman baca dan buku- buku. Gubuk baca itu juga menjadi tempat pelatihan berbagai keterampilan serta menjadi titik kumpul warga dari semua lapisan.
“Lebih jauh, gubuk baca menjadi semacam wadah berkumpul bagi anak- anak dan pemuda untuk berdaya. Mendidik semua menjadi agen perubahan, minimal di kampungnya, kampung sekitar, dan kalau bisa meluas untuk negeri ini,” kata Irul. Komunitas perlu didorong untuk menghasilkan pemimpin- pemimpin lokal dan sosok- sosok bermanfaat bagi orang di sekitarnya.
Yang menarik, saat Irul bergerak membangun gubuk baca di lokasi lain, ia selalu mengajak tokoh- tokoh sukses di gubuk baca terdahulu turut serta. Dengan cara itu, mereka diharapkan bisa menularkan ilmu kepada orang lain. Itu akan menimbulkan rasa bangga mereka sebagai manusia dan mendorong rasa percaya diri.
“Sejak awal, saya membuat semacam perjanjian dengan relawan atau dengan orang gubuk baca. Kalau gubuk baca kampungnya sudah baik, ia harus mau menularkan ilmu kepada tentangga atau orang lain. Begitu pula dengan relawan GBLN. Saya meminta tiap relawan membangun gubuk- gubuk baca serupa binaan mereka sendiri. Harapannya, gubuk baca ini menyebar kemana- mana,” tuturnya.
“Saya membayangkan akan muncul banyak tokoh masyarakat lokal yang bisa menata dan memandirikan kawasannya. Jika itu terjadi, masyarakat bisa berdaya dan mandiri tanpa harus bergantung kepada pemerintah. Kita tahu, pemerintah selama ini lebih fokus membangun infrastruktur, bukan membangun mental masyarakat,” ujarnya.
Usaha Irul tidak sia-sia. Di Kecamatan Jabung kini sudah ada beberapa gubuk baca, yaitu GBLN, Gubuk Baca Kampung Damar, Taman Baca Ikapala Duwet Tumpang, dan Gubuk Baca Gunung Kunci. Yang menarik, gubuk baca pun berkembang ke kecamatan lain, misalnya Backyard ID di kecamatan Pakis. Beberapa waktu ke depan sudah ada permintaan dari tiga dusun di Kecamatan Jabung untuk membangun gubuk untuk membangun gucu serupa, yaitu di Dusun Sukolilo, Putukrejo, dan Gedangan.
Lewat gubuk- gubuk baca, Irul tak hanya membangun perpustakaan atau taman baca, tetapi juga mengembangkan ruang yang menyokong berbagai kegiatan kreatif kaum muda. Pada gilirannya, ruang itu juga potensial mendorong lahirnya tokoh- tokoh yang berperan memberdayakan masyarakat.
Sumber : Kompas 17 Januari 2017. Hal 16

