Indonesia punya modal berharga untuk masuk jajaran lima besar kekuatan ekonomi dunia. Yakni, sumber daya alam yang melimpah dan ketersediaan tenaga kerja.
SUMBER daya alam Indonesia memang cukup banyak dan tersedia dalam jumlah besar. Ada batu bara, CPO, dan karet. Keunggulan itu harus bisa diolah menjadi bahan baku industry agar mengurangi impor. “Seperti bahan baku bijih plastic, saat ini sudah tersedia di dalam negeri,” ungkap Presiden Direktur Maspion Group Alim Markus.
Untuk bahan baku lain seperti alumunium sheet, alumunium file, maupun stainless steel, kebanyakan masih impor. Demikian pula mesin-mesin industry. Dia menyebutkan, jika bahan baku itu diproduksi sendiri, Indonesia bisa lebih bersaing. Khususnya industry produk konsumsi. Sector itu merupakan salah satu penggerak roda perekonomian Indonesia, selain perumahan, mobil, dan makanan.
Factor Daya Saing Juga Penting
PRODUK
“Kalau bahan bakunya ada, produk kipas angina atau peralatan rumah tangga bisa makin bersaing. Baik dan kualitas maupun harga. Lha sekarang ini masih sekitar 30 persen impor. Sisanya, 70 persen, bahan baku local,” kata pria kelahiran 24 September 1951 itu.
Soal keunggulan tenaga kerja, Alim menilai tenaga kerja industry di Indonesia, selain sector teknologi informasi di Indonesia, selain sector teknologi informasi, sudah bagus. Kualitasnya mampu bersaing dengan beberapa negara ASEAN. Hanya, demo tenanga kerja di Indonesia yang terjadi hamper setiap tahun masih menjadi momok pengusaha. Persoalan itu harus diselesaikan karena terkait dengan minat investor untuk masuk tanah air.
Menurut dia, jika dibandingkan dengan Thailand, Malaysia, Filipina, dan Singapura, memang upaya tenaga kerja Indonesia kan boleh dibilang tiap tahun demo. Padahal, aturannya jelas. Tapi, masih saja demo. Saya tidak tahu apa yang didemokan,” kata dia.
Pemerintah memang sudah memberikan kepastian pengupahan tenaga kerja dalam paket kejibajakan ekonomi jilid IV. Mulai 2016, upah minimum provinsi sama dengan upah minimum tahun berjalan ditambah hasil upah minimum dikali penjumlahan angka inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Dengan model itu, pengusaha juga bisa menghitung sendiri kenaikan setiap tahun.
“Dari sisi kebijakan, pemerintah sudah bagus dengan mengeluarkan hingga delapan paket. Nah, kita ni hanya menunggu implementasinya saja seperti apa. Terutama itu, maksimalkan saapan anggaran untuk infrastruktur,” ucap dia.
Sector infrastruktur memang berkontribusi besar dalam penyerapan anggaran yang ditetapkan pemerintah hingga akhir 2015 masih sulit terwujud. Padahal, infrastruktur yang memadai merupakan syarat penting dalam memacu pertumbuhan ekonomi.
Alim menyarakan agar pemeritnahan lebih proaktif melibatkan pihak swasta dalam membangun infrastruktur. Lewat skema penanaman modal asing maupun modal kalangan swasta dalam negeri, anggaran infrastruktur bisa lebih besar tanpa membebani APBN maupun APBD. “Saya minta, pemerintah itu jangan sampai deficit anggaran. Nanti bisa seperti (krisis ekonomi) Yunani, kata suami Sriyanti tersebut.
Dengan modal infrastruktur yang lebih besar, kendala pembebasan lahan bisa diatasi “Soalnya, lahan itu kan hak milik. Jadi, mau jual atau tidak ya terserah pemiliknya. Tapi, kalau modalnya besar, bisa menjadi jalan untuk melakukan pembelian yang besar juga,” tutur penghobi tenis meja dan golf tersebut.
Urusan ekspor juga harus menjadi perhatian penting bagi pemerintah agar ekonomi Indonesia bisa kuat. Saat ini pemerintah menaikan pajak pertambahan nilai (PPN) dari 10 persen menjadi 17 persen. Alim meminta pemerintah mempertimbangkan saran agar mengeluarkan kebijakan mengembalikan PPN seperti yang dilakukan pemerintah Tiongkok. Tiongkok murah dan kompetitif di pasar dunia.
“PPN dalam negeri dinaikkan jadi 17 persen itu tidak apa-apa. Tapi, untuk mempercepat ekspor, idealnya PPN dikembalikan 15 persen ke eksporter. Tiongkok itu sejak 20 tahun yang lalu sudah begitu. Banter kan ekspor mereka?”
Selain volume ekspor, factor daya saing pelaku industry juga penting. Bagi Alim, memenangi persaingan industry juga penting. Bagi Alim, memenangi persaingan industry global hanya bisa dilakukan dengan memberikan kualitas produk terbaik, kualitas layanan terbaik, dan harga yang kompetitif. Untuk itu, pelaku industry harus pandai menekan biaya produksi, salah satunya dengan memperbesar volume. Volume makin besar akan membuat biaya produksi per unit turun dan berimbas pada harga penjuaan yang lebih bersaing.
“Kalau perlu, memang harus melakukan ekspansi bisnis. Tiap tahun harus ekspansi agar biaya produksi bisa turun,” tegas Alim, yang berkantor di Kembang Jepun, Surabaya.
Langkah ekspansi itulah yang menjadi kunci Alim membawa Maspion Group mampu bertahan lebih dari 45 tahun. Berangkat dari sebuah bengkel kecil bernama UD Logam Jawa rintisan sang ayam, Alim Husin, Maspion Group kini menjelma sebagai raksasa bisnis di Indonesia. Bengkel yang awalnya memproduksi lampu teplok itu sekarang berkembang menjadi 34 perusahaan dengan 30 ribu pekerja. Binisnya merambah perbankan, hote, kawasan industry, ritel, hingga energy. Beberapa perusahaan baru juga disiapkan, yaknii pabrik ban berjalan di Gresik dan pabrik pembuatan kapal roro untuk ekspor.
“Dalam tiga sampai lima tahun mendatang, kami akan kembangkan pabrik pupuk urea dan mungkin juga e-commerce. Sebab,, ditunjang Bank Maspion,” ungkapnya. Pertumbuhan produksi Maspion Group memang mengalami pasang surut. Jika biasanya produksi tumbuh hingga 15 persen, sepanjang 2015 hanya 5-6 persen. Hal itu tidak lepas dari kondisi ekonomi nasional dan global yang turut berpengaruh pada daya beli. Tapi, Alim optimistis tahun ini bisa naik menjadi 10 persen. Untuk mengembalikan pertumbuhan hingga 15 persen, Alim realistis dengan menyatakan baru bisa mewujudkannya tiga tahun mendatang.
“Saar ini belum lah untuk kembal 15 persen, mungkin 2-3 tahun lagi. Selain bergantung ekonomi secara nasioal, kami akan genjot dengan ekspansi,” ucap dia dengan yakin.
Selain ekspansi pada sector konsumen industry, Maspion Group bakal memperkuat setor ritel melalui convenience store dan e-commerce. Modal utamanya sudah dimiliki Maspion Group dengan menguasai jalur produksi dan distribusi. Dengan ditopang Bank Maspion, Alim optimistis ekspansi e-commerce bisa terwujud.
Lebih-lebih, kinerja Bank Maspion, terus membaik. Hal itu ditandai dengan peningkatan penyaluran kredit. Pada medio 2015, Bank Maspion sudah menyalurkan Rp 3,15 triliun untuk debitor ritel. Disinggung soal suku bunga ideal, Alim hanya berharap suku bunga bisa diturunkan sehingga akan lebih bagus, tapi, pemerintah juga harus memikirkan kekuatan mata uang rupiah sebelum menurunkan suku bunga.
Sumber: Jawa Pos SABTU 2 JANUARI 2016

