
Fakultas Industri Kreatif UC Surabaya Bikin Masker dan Baju Hazmat khusus untuk Tenaga Medis
SURYA.co.id | SURABAYA – Pandemi virus corona atau covid-19 yang belum mereda, membuat ketersediaan alat pelindung diri (APD) rumah sakit semakin menipis.
Rumah sakit sebagai garda terdepan penanganan virus merasa kesulitan mendapatkan APD yang langka dan mahal.
Melihat kondisi ini, dosen berserta mahasiswa dan alumni jurusan Desain Produk Fashion dan Bisnis Fakultas Industri Kreatif Universitas Ciputra (UC) Surabaya membuat Masker dan Baju Hazmat khusus untuk tenaga medis.
Kepala program studi Desain Produk Fashion, Marini Yunita Tanzil menjelaskan, produksi masker dan baju hazmat tersebut dilakukan dosen, mahasiswa, dan alumni di rumah masing-masing.
“Kami menghindari produksi dengan kerumunan, kami mengirim paket bahan ke rumah, sehingga mahasiswa dapat menjahit masker tersebut dari rumah,” kata Marini seusai memproduksi masker dan baju hazmat di Studio Jahit Universitas Ciputra Surabaya, Rabu (8/4/2020).
“Mengingat mayoritas mahasiswa mempunyai mesin jahit di rumah, terutama mereka sudah dibekali dengan pengetahuan menjahit,” imbuhnya.
Mereka memproduksi 2500 pcs masker dan 200 pc baju hazmat dengan menggunakan materi bahan lokal (dari Surabaya) seperti nonwoven dan polypropylene.
“Kami bersyukur ternyata di Surabaya masih ada yang menjual bahan-bahan tersebut, sehingga kami tidak mengalami kesulitan mendapatkan bahan,” kata perempuan yang juga dosen tersebut.
Teknis pembuatan masker, setelah sudah dijahit rapi menggunakan mesin jahit akan dicek terlebih dahulu oleh Fakultas Kedokteran UC.
Setelah itu, distrelisasi ke rumah sakit kemudian di-packing dan didistribusikan ke beberapa rumah sakit dan puskesmas di Surabaya.
Sedangkan untuk baju hazmat diproduksi khusus dengan dua bahan dan fungsi berbeda, yakni baju surgical gown berbahan dasar water resistance untuk perawat dan baju hazmat suit berbahan dasar waterproof untuk dokter.
“Kami bedakan bahannya karena dokter lebih intens berinteraksi dan bersentuhan dengan pasien positif covid-19 dan kami beri karet di tangan dan kaki, sehingga terlindung dari percikan droplet yang dikeluarkan pasien,” tutup Marini.
Produk ini mendapat sambutan antusias para mahasiswa dan alumni.
Seperti diungkapkan Gabriella Cindy, alumni fashion Fakultas Industri Kreatif UC yang mengaku bangga dapat berkontribusi dengan skill yang ia miliki.
“Senang sekali, tidak menayangka bahwa ilmu jahit dapat berguna untuk tenaga medis,” kata Gabi sapaan akrab Gabriella Cindy.
“Saya juga belajar sesuatu hal yang baru, seperti pemilihan bahan, dari sisi cutting harus minim karena sebisa mungkin agar lebih aman, intinya selama proses pembuatan saya banyak belajar dengan niat membantu,” pungkasnya.
Sumber : https://surabaya.tribunnews.com 8 April 2020
