Bagi Farida Lucky Utami (43), anak berkebutuhan khusus merupakan guru kehidupan sebenarnya.  Semuanya jadi penyemangat di balik pusat terapi hingga balai latihan keterampilan yang ia dirikan.

Melati Mewangi

Sapaan hangat Farida mengawali perjumpaannya dengan lima siswa Amanda Learning Center, Karawang Jawa Barat, Senin wang, (25/1/2021).  Hari itu mereka akan memulai lagi kegiatan rutin mengemas abon daging ayam.  Setiap siswa sudah siaga.

Salah seorang siswa, Arya Taufiq NM (18), remaja dengan disabilitas intelektual, sibuk memasukkan abon ke kantong plastik dengan sendok dan corong.  Dia sangat berhati-hati agar tak ada remah abon yang jatuh dan mengotori permutraan meja.

Di sampingnya ada Seto IskhakS (15, yang pria bengkel ada abon masing-masing 100 gram per kemasan. Siswa lainnya, M Nafal Suryana (14), bctugas membersihkan kemasan tetap terjaga dengan kain lap.

Siang itu  , total abon yang akan dikemas sekitar 3 kilogram atau 30 kantong plastik. Dalam sebulan, mereka bisa mengemas 10 kilogram abon untuk dijual dengan sistem titip.

Farida menjelaskan, kegiatan membungkus abon menjadi satu dari sekian banyak terapi untuk anak berkebutuhan khusus sejak 2018. Kegiatan ini  dilakukan berulang untuk melatih saraf motorik, konsentrasi, dan mencari minat mereka pada berbagai bidang “katanya.

Farida menemukan cara ini dari pengalaman anak yang juga berkebutuhan khusus.

Terapi antarkota

Tahun 2008 adalah masa ujian perdana bagi Farida. Putra keempatnya, Umar Aziz Nurcholish, didiagnosis sebagai anak dengan autisme.  Sayangnya, tidak mudah memperoleh    informasi terkait kelas terapi dan cara mendidik anak kelompok dan orang terdekat, Farida datangi sejumlah pusat terapi yang Jakarta.  Akhirnya, pilihan jatuh paterapi mencapai Rp 3,5 juta per kelas tersebut.  Dia rasa hanya akan diburu lelah fisik.  tempat untuk melatih anak saya sendiri, “katanya. ngan suatu lembaga pusat terapi di Bekasi sebagai asisten terapi. Ia mengikuti seminar dan acara di tahu, setiap anak berkeristik berbeda. Oleh karena itu, yang lain juga mesti berbeda. Bahkan dengan anaknya, ia perlu pendetimewa di kota kecil seperti Karawang, Jawa Barat.

Berbekal informasi dari internet berada di Bekasi, Bandung, dan da satu pusat terapi di Bekasi. Biaya bulan.

Selama lima hari dalam seminggu, dia  bolak-balik Karawang-Bekasi menggunakan angkutan umum. Namun, dua tahun berselang, Farida memutuskan untuk tidak “Saya lantas berpikir harus punya.

Ia pun mencoba bergabung dengan menambah ilmnu lebih banyak latihan sebanyak mungkin terkait anak berkebutuhan  khusus., Dari kan, untuk memulai komunikasi butuhan khusus memiliki karakter penanganan antara satu anak dan katan yang intens.  dengan bahasa yang mudah hubungan.

Farida mempraktikkan semua pengetahuan yang ia dapat dan menduplikasikan alat peraga di las terapi dengan barang yang ter- media di rumah.  Alat peraga balok kayu, misalnya, ia berubah dengan kaleng minuman bekas.

“Media peraga apa pun yang bisa digunakan untuk melatih pelatihan dan kemampuan mereka dalam pemahaman benda di sekitarnya, baik secara visual maupun motorik,” ucap Farida.  memahami kebutuhan sang anak.  Dia terus mengajari anak-anak melakukan kegiatan sehari-hari, mulai.

Dalam prosesnya, Farida kian dari memegang sendok untuk berpakaian, berpakaian sendiri, melatih ke toilet, hingga peralatan makan.  Tujuanya melatih anaknya agar bisa mandiri.

Beberapa teman Farida tertarik belajar dengannya setelah melihat perkembangan wicara yang lebih baik sebelumnya.  Pada Maret 2013, dia merintis kelompok belajar Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Amanda.  Amanda merupakan akronim dari “anak mandiri dan berguna”.

Farida paham betul bahwa biaya layanan terapi yang mahal menjadi kumpulan orang yang mengikutkan anak di kelas terapi.  Karena itu, ABK Amanda  keuangan siswa siswa.  Ada yang narik iuran bulanan sesuai kondisi yang mencukupkan biaya operasional, lembaga menerima donasi.  membayar Rp 200.000, ada yang Rp 1 juta per anak per bulan.

Pada 2019, ABK Amanda berganti nama menjadi Amanda Learning Center seiring dengan di bentuknya balai latihan keteramilan (BLK) dan pusat kegiatan belmenyediakan lapangan kerja bagi anak berkebutuhan khusus.  Selama ini, tak sedikit yang memandang mereka tak sanggup bekerja seperti orang pada ummnya.  Padahal, bukan halangan untuk mengerjakan dan bekerja.

Diragukan Lebih dari sewindu Farida berkecimpung di dunia pendidikan anak berkebutuhar khusus.  Tak sedikit akademisi ataupun ahli memandang sebelah mata upaya Farida.  Buat mereka, Farida diang- gap tak kompeten mengurus anak berkebutuhan khusus karena tidak memiliki latar belakang formal di bidang itu.

Farida tak mau ambil pusing, dia tetap fokus untuk mengembangkan Amanda Learning Center agar berdampak luas.  Dia juga terus mengasah diri dengan mengikuti beragam pelatihan dan kursus.

“Kalau saya bukan sebagai ahli, (tidak) saya ibu dari anak berkebutuhan khusus. Yang menjadi dasar saya adalah pendidikan pertama anak ada di ibu. Maka, yang paling mengerti kebutuhan- nya adalah ibu itu sendiri,”.

Farida juga sadar, anak berkebutuhan khusus merupakan guru.  kehidupan.  Dari mereka ia belajar tentang kehidupan.  “Pendidikan untuk mereka adalah perjalanan sepanjang hidup, mulai dari lahir, mengatasi hambatan, melatih, bertahan hidup, hingga mereka mandiri,” ujarnya.

 

Sumber: Kompas. 28 Januari 2021.Hal.16