Para desainer muda tak hanya membuat baju sesuai gaya dan usianya. Di antara mereka ada yang menampilkan gaun haute couture untuk digunakan di event tertentu.
Sebanyak 12 mahasiswa Binus International Northumbria School of Design memamerkan koleksi dengan tema “The Magnificent Celebes”. Mereka membuat karya berdasarkan imajinasi tentang segal hal berkait dengan Pulau Sulawesi.
Warna ceria seperti kuning, merah, hijau, biru, dan warna pastel putih, peach, abu-abu mendominasi karya Binusian, sebutan untuk mahasiswa Binus University. Gaun tumpuk ber-pattern tenun Toraja karya Athalia Rebecca Tio mencuri pandangan hadirin. Langkah khas model membuat baju bersusun tiga bak kue tart itu bergerak naik-turun.
“Tenun Toraja kupilih karena desainya unik. Mereka punya pattern dasar bernama Seko Mandi. Sebenarnya warna dasar pattern-nya kecoklatan, tetapi kutambahkan merah dan hitam untuk mendapat unsur pop art-nya,” kata Athalia, mahasiswi Jurusan Desain Manajemen Binus Northumbria School of Design tahun ketiga itu.
Athalia butuh waktu enam bulan untuk membut enam potong baju dan celana. “Perlu revisi beberapa kali. Misalnya untuk bagian bawah gaun terusan supaya jatuhnya bagus,” ujarnya.
Proses rumit
Rekan sekelasnya, Claresta, menampilkan karya berbeda. Ia membuat baju siap pakai bagi biker. “Aku mendapat inspriasi dari biker yang perlu baju nyaman,” tutur cewek yang menamakan karyanya “Italian Biker” karena terinspirasi dari Italia.
Dengan bahan wool, kanvas, kulit dan parasit, Claresta membuat baju untuk biker cowok dan cewek. “Bahan yang ringan itu penitng karena iklim di sini panas,” ujar Calresta.
Meski tampak sederhana, pembuatan lukisan yang menghiasi setelan itu tidak mudah. Lukisan abstrak tersebut merupakan interpretasi dari gambar anoa, binatang khas Sulawesi dan lukisan abstrak karya pelukis Kanada, Barduos, yang cetak di kanvas setelah proses cukup rumit.
Semula Claresta melukis dari berabgai bahan seperti cat minyak dan cat air. Setelah menemukan formula yang cocok untuk kanvas, lukisan itu dipindai, diedit, dan dicetak.
Sementara itu delapan desainer dari Raffles Institute of Higher Education, di antaranya Frebecca, menampilkan baju haute couture yang pembuatannya rumit. Ada pula baju bertema kerusakan bumi dan dampaknya bagi manusia. Tema terakhir dipilih Anita Natalia.
Tak mau kalah kreatif, enam desainer dari La Salle College Jakarta juga menunjukan kepiawaiannya. Fitlosophy yang dimiliki Anggi Lupitasari, Gabriel Olivia, dan Maharani Yogita, membuat setelan yang mengawinkan konsep street wear dan active wear. Warna kehijauan dengan motif bebatuan metamorfosis tampak sejuk di mata. Lebih dari itu potongan yang sederhana membuat koleksi ini bisa dipakai untuk berolahraga dan kegiatan santai lain.
Linda Mulia, desainer lain dari sekolah mode yang berdiri tahun 1997 itu menampilkan gaun feminim bersiluet sederhana. Koleksi “Stars in the Sky” tersebut jadi perwujudan pemikiran Linda tentang mimpi seorang anak yang ingin melihat bintang di angkasa. Ia mengaplikasikan bordir motif potongan rembulan dan bintang dari kristal di gaun agar semua orang bisa melihat bahkan memegang bintang itu.
Sumber: Kompas/5 Desember 2014/Hal 34

