Sumber:https://www.kawalsurabaya.com/surabaya/3312671789/fenomena-bunuh-diri-bukan-sekadar-tren-psikolog-uc-waspadai-depresi-berat-dan-pengaruh-media-sosial

Fenomena Bunuh Diri Bukan Sekadar Tren, Psikolog UC: Waspadai Depresi Berat dan Pengaruh Media Sosial

8 Mei 2026

KAWALSURABAYA.COM – Kasus bunuh diri yang terjadi di ruang publik belakangan ini memicu kekhawatiran masyarakat. Banyak yang mempertanyakan apakah fenomena ini merupakan sinyal bahwa kesehatan mental Generasi Z (Gen Z) sedang tidak baik-baik saja. Menanggapi hal ini, Dr. Stefani Virlia, S.Psi., M.Psi., Psikolog, selaku Head of Professional Psychologist Education Universitas Ciputra (UC) Surabaya, memberikan pandangan mendalam.

Menurut Dr. Stefani, perilaku mengakhiri hidup tidak bisa dikaitkan secara eksklusif dengan karakteristik generasi tertentu. Ia menegaskan bahwa risiko depresi bisa dialami oleh siapa saja, mulai dari anak-anak, remaja, hingga lansia.

“Faktor utama yang mendorong seseorang melakukan bunuh diri adalah depresi atau gangguan psikologis berat. Seringkali orang di sekitar tidak menyadari bahwa keluarga, pasangan, atau teman dekatnya sedang mengalami tekanan psikologis yang sangat berat,” ujar Dr. Stefani.

Akumulasi Tekanan dan Peran Media Sosial

Tekanan psikologis ini, lanjutnya, berasal dari berbagai sumber yang terakumulasi—mulai dari tuntutan akademik, ekspektasi orang tua, hingga masalah relasi sosial. Ketika tekanan tersebut menumpuk dan tidak tertahankan, muncul perasaan tidak berdaya yang membuat seseorang merasa bahwa mengakhiri hidup adalah satu-satunya solusi.

Terkait pemilihan lokasi di tempat umum yang kerap terjadi belakangan ini, Dr. Stefani melihat adanya pengaruh dari arus informasi di media sosial. Filter konten yang longgar membuat cara-cara instan untuk mengakhiri hidup mudah diakses oleh mereka yang sedang dalam kondisi rentan.

“Tujuan utamanya bukan mencari perhatian. Namun, ketika seseorang sedang depresi dan melihat informasi tersebut di media sosial, pikiran itu tercetus sebagai strategi yang cepat. Bagi mereka, itulah cara agar tekanan berkurang dan merasa lebih damai,” jelasnya.

Sebagai langkah preventif, Dr. Stefani mendorong masyarakat untuk mempelajari Psychological First Aid (PFA) atau Pertolongan Pertama Psikologis.

Menariknya, PFA tidak harus dilakukan oleh profesional seperti psikolog atau psikiater.

“PFA bisa dilatih ke siapa pun, terutama orang terdekat. Tujuannya adalah memberikan rasa aman, menstabilkan emosi, dan menghubungkan mereka ke bantuan profesional,” tuturnya.

Ia menyarankan agar lingkungan rumah dan sekolah mulai peka jika melihat perubahan signifikan pada seseorang, seperti menjadi pendiam atau sering menarik diri.

Selain level individu, Dr. Stefani menyoroti pentingnya dukungan komunitas. Di Indonesia, isu kesehatan mental masih dianggap tabu dan sering mendapat stigma negatif.

“Jangan menghakimi. Seringkali orang yang ingin bercerita justru dicap lemah atau ‘sakit jiwa’. Padahal, mencari bantuan profesional adalah bentuk kekuatan untuk memulihkan diri,” tegasnya.

Ia juga berharap pemerintah dan pelaku industri lebih masif dalam menyediakan edukasi kesehatan mental di ruang publik.

Dr. Stefani mencontohkan langkah kecil yang dilakukan di Universitas Ciputra Surabaya, di mana informasi kesehatan mental ditempel di tempat-tempat strategis seperti toilet dan lift untuk menemani waktu termenung mahasiswa.

“Di jalan-jalan lebih banyak iklan komersil seperti kosmetik. Harusnya iklan layanan kesehatan mental dan cara akses bantuan juga diperbanyak di halte atau tempat publik lainnya,” tambahnya.

Sebagai penutup, Dr. Stefani menekankan bahwa kemampuan bertahan hidup (survive) tidak hanya soal akademik dan skill teknis, tetapi juga kemampuan meregulasi emosi dan coping stress.

Ia berharap kurikulum sekolah bisa menyelipkan materi mengenai kesehatan mental dan empati sejak dini.

“Kemampuan meregulasi emosi itu harus dipupuk sejak kecil. Anak-anak perlu diajarkan bagaimana cara berempati dan bagaimana menghadapi stres, sehingga mereka memiliki mental yang tangguh saat dewasa nanti,” pungkasnya. (sms)