Oleh Nindya Aldila

 

Momentum investasi di perusahaan rintisan semakin diperkuat oleh menjamurnya bisnis finansial technology (fintech) dan layanan kesehatandigital juga bakal mendominasi tujuan investasi bagi perusahaanmodal ventura (PMV).

Pertumbuhan industri fintech dari tahun ke tahun menujukan angka yang positif. Tahun lalu, capaian penyaluran pinjaman mencapai Rp3 triliun.

Adapun beberapa perusahaan bahkan sudah menujukkan pertumbuhan portofolio hingga 10 kali lipat.

Ketua Umum Asosiasi Modal Ventura Indonesia untuk Startup Indonesia (Amvesindo) Jefri R. Sirait mengatakan, dua industri yang bakal menjadi tren investasi pada tahun ini adalah industri teknologi finansial (fintech) dan layanan kesehatan.

Dia mengatakan denganadanya kebutuhan akses keuangan masyarakat dan memperlebar inklusi keuanga, fintech bakal menjadi sector yang atraktif.

“Modal ventura yang fokus dalam digital akan selalu melakukan investasi atau penyertaan saham dengan melihat investment deal yang tumbuh dua kali lipat pada 2017. Ini sinyak positif utnuk digitalisasi di Indonesia,” tuturnya.

Hal tersebut juga terungkap dalam survei Indonesia Modal Ventura Outlook pada 2017 yang dilakukan oleh Google dan A.T Kearney Indonesia yang menunjukan, kendati industri fintech masih pendatang baru, tren pertumbuhan transaksi online dan pencarian alternatif dari perbankan tradisional cukup pesat.

  • Kendati industry fintech masih pendatang baru, teteapi tren pertumbuhan online dan pencarian alternatif dari perb angkan tradisional cukup pesat.
  • Tren kegiatan usaha penyertaan saham yang naik diyakini menjadi pendorong positif dinamika investasi pada kalangan startup.

Untuk itu, 67% responden meyakini fintech akan naik daun. Survei tersebut juga berasal dari responden yang merupakan 25 PMV yang terdiri dari perusahaan lokal dan asing.

Berdasarkan data OJK, pembiayaan perusahaan modal ventura dalam negeri telah mencapai Rp7,14 triliun tau naik sekitar 5% pada Januari 2018 dibandingkan dengan Januari 2017.

Kegiatan usaha pembiayaan bagi hasil masih mendominasi sekitar Rp5,4 triliun, diikuti oleh penyertaan saham dan obligasi konversi yang masing – masing mencapai Rp1,26 triliun dan Rp475 miliar.

MODAL VENTURA

Saat ini, sudah ada 67 perusahaan di industri modal ventura hingga Januari 2018. Jumlah tersebut naik jika dibandingkan dengan Januari 2017 yang berjumlah 62 perusahaan modal ventura konvensional.

Dengan demikian, tren kegiatan usaha penyertaan saham yang naik diyakini menjadi pendorong positif  dinamika investasi pada kalangan perusahaan startup.

Ditinjau dari keamanannya, OJK sudah mengatur dan mengawasi pemain fintech yang telah teregristasi.

Selain itu, edukasi masyarakat terkait pelindungan konsumen yang semakin ditegakan oleh perusahaan fintech memberikan kenyaman.

Atmosfer investasi modal ventura semakin naik dari tahun ke tahun. Ditambah lagi akan didorong oleh wacana Kementerian Keuangan untuk memberikan kebijaksanaan insentif untuk mendorong masuknya arus investasi di Indonesia, terutama untuk kalangan UKM.

Waca tersebut dilatarbelakangi tingginya pertumbuhan industry digital dan e-commerce beberapa tahun terakhir.

CEO Modalku Reynold Wijaya mengatakan, saat ini eksistensi PMV memberikan kontribusi yang besar bagi pengembangan bisnis fintech, mengingat kepemilikan ekuitas perusahaan fintech masih disokong secara mayoritas oelh PMV.

Perusahaan yang mendapat suntikan dana dari Sequoia Capital dan Alpha JWC Venture ini terus menunjukan pertumbuhan yang sangat signifika. Modalku  mencata telah menyalurkan lebih dari Rp1,33 trilliun pinjaman modal usaha bagi kalangan UMKM di Indonesia, Singapura, dan Malaysia pada 2017. Adapun sampai awal maret, distribusi pinjaman khusus di Indonesia sudah mencapai Rp640 miliar atau tumbuh hamper sekitar 20 kali lipat disbanding tahun lalu.

“Potensi besar, tetpai seperti yang kami lihat pemainnya sudah banyak. Jadi lebih pada pertumbuhan dari perusahaan yang sudah ada versus penampakan perusahaan yang semakin banyak,” tuturnya.

Hal senada juga disampikan oleh Wakil Sekjen Amvesindo Rimawan Yasin.

Menurutnya, dalam lima tahun ke depan, fintech bakal mendominasi. Hal tersebut didukung dengan transaksi digital yang semakin digaungkan.

Sementara itu, survei teresebut juga menunjukan bahwa 25% responden memilih layanan kesehatan online yang tengah berkembang di Indonesia mengingat meningkatnya kemampuan dan segmen kesehatan belum tergarap maksimal.

Menurutnya, dengan tingginya kebutuhan layanan kesehatan yang dapat menolong saat keadaan darurat, investasi di segmen ini juga cukup menggiurkan.

Aplikasi tersebut membantu ketika ada seornag anggota keluarga yang sak, dan dengan aplikasi kita bisa langsung terhubung dengan dokter.

“Era e-commerce sudah jenuh, nah ke depan akan muncul healthtech, startup yang berkecimpung di teknologi yang berkaitan dengan industry kesehatan. Sekarang sudah banyak aplikasi penyedia layanan tersebut,” ujarnya.

Di samping kedua industri tersebut, 8% sisanya menyebutkan bahwa industry agitech dan service on demand bakal menjadi sasaran lanjutan.

Menurutnya, era e-commerce sudah jenuh dengan demikian, tujuan investasi  ke industry tersebut bakal lebih ramai. Bahkan, beberapa di antaranya mulai masuk untuk berinvestasi ke industry kreatif. Dinamika investasi di ranah startup yang sangat cepat, membuat PMV semakin yakin dengan kecepatan pengembalian modal.

Namun, hal tersebut tergantung dari kelancaraan usaha dan pertumbuhan startup itu sendiri.

 

Sumber: Bisnis-Indonesia.27-Maret-2018.Hal_.22