Melihat banyak kaumnya yang tak berdaya karena kanker payudara, fitriya Nur Annisa dewi bertekad mencari cara pencegahan serta pengobatan terbaik atas penyakit tersebut.
Bagi sebagian orang, dunia riset atau penelitian bukanlah hal mudah. Selain menuntut waktu dan ketekunan ekstra, biayanya tidak murah. Tapi bagi pipit sapaan fitriya, itu adalah tantangan yang harus ditaklukkan. Sejak 12 tahun lalu, saaat masih berkuliah di fakultas kedokteran hewan, dia tertarik berada di laboratorium, bekerja dengan cawan petri, mikroskop, dan berbagai senyawa kimia. Apalagi, dia berkesempatan magang di pusat studi satwa primata institusi pertanian bogor (PSSP-IPB), tempatnya mengabdi kini. Saat magang dia belajar banyak hal, termasuk peran dokter hewan yang berkaitan dengan riset biomedis. “Terutama untuk konteks kesehatan manusia.”katanya. Pipit memutuskan menekuni bidang tersebut. Sang ibu Wiwiek bagja yang jadi dokter hewan, menjadi role model untuknya.
Selain menjadi peneliti, pipit adalah dosen pada program studi primatology di pasca sarjana IPB. Perempuan berusia 32 tahun itu mengajar di program S2 dan S3. “Semua pekerjaan terasa menyenangkan karena saya passionate terhadap yang saya kerjakan,” ucap dia dengan bersemangat. Menurut pipit, riset tidka bisa dilaksanakan sendiri. Pemikiran, ide dan sharing pengetahuan secara tim sangat diperlukan. Nah, dia paling senang kalau orang yang bekerja dalam timnya sama-sama memiliki hasrat dan semangat berkarya. “bisa ngerasian exciteiment bersama, deg-degan kalau berhasil nemuin sesuatu yang menarik,”ujarnya. Dengan begitu, meneliti tidak lagi terasa seperti kerja. “seru aja, sama-sama excited,”tambah dia.
Untuk fokus penelitian, pipit memilih kesehatan perempuan. Terutama kanker. Perempuan yang berulang tahun tiap 25 juni itu menyatakan, ketertarikan spesifik tersebut muncul saat dirinya kuliah di Amerika. Dia kagum dengan kemajuan penelitian tentang kesehatan perempuan di negari itu. Termasuk semua hal medis yang berkaitan dengan organ-organ reproduksi perempuan serta bahaya kanker yang mengintai. Namun, lantaran dokter hewan dan bukan dokter manusia. Pipit banyak bergerak di bidang penelitian saja. Caranya, dia mencari dasar ilmiah yang berkaitan dengan kesehatan perempuan melalui hewan, terutama primate. Pipit mengkhususkan diri pada kanker payudara. Sebab, itulah penyakit mematikan yang paling banyak menyerang perempuan, tidak hanya di Indonesia tapi juga dunia. m\
Misalnya saja, dia pernah meneliti efek kedelai sebagai bahan pangan yang mengandung senyawa flavonoid dalam memengaruhi risiko kanker. Dia mempelajari pengaruh kedelai pada perkembangan payudara dengan model primata. Temuannya menyebutkan bahwa paparan terhadap kedelai pada primate sejak usia puber mampu meningkatkan diferensiasi sel-sel kelenjar susu pada primata usia dewasa. “Ini menjadi indikasi proteksi terhadap risiko kanker payudara,”katanya. Meski begitu, penelitian tersebut memerlukan konfirmasi lebih lanjut.
Dia juga melakukan studi pengaruh pemberian metabolit kedelai, yakni equol, dalam melindungi Rahim dari risiko kanker. Studi terkininya mulai merambah tanaman yang mengandung flavonoid seperti daun katuk. “Yang ini belum bisa disimpulkan karena studinya masih berlangsung,” tuturnya. Berkat penelitian itu, dia mendapat beasiswa dari L’Oreal-UNESCO for Women in Science National 2014. Bagi pipit hewan termasuk mulia. Mereka banyak membantu manusia. Dalam melakukan penelitian, dia selalu mengutamakan konsep five freedom pada hewan. Yakni memastikan hewan bebas dari rasa lapar dan haus, rasa sakit, cedera, penyakit, serta rasa tidak nyaman. Hewan juga perlu dibebaskan dari rasa takut dan stress serta bebas mengekspresikan tingkah laku alamiahnya. (puj/c11/any)
Tentang Fitriya Nur Annisa Dewi
- Lulus sarjana kedokteran hewan institute pertanian bogor (IPB) pada 2006 dan menyelesaikan pendidikan profesi dokter hewan pada 2007
- Dengan melanjutkan kuliah di wake forest university, North Carolina, Amerika pada 2009, pipit sapaan fitriya Nur Anissa Dewi, memulai program master S2. Dalam satu tahun studi, di loncat ke S3 bidang kedokteran komparatif dan patologi molekuler, lalu lulus pada 2013
- Pada 2014 proposal penelitian pipit yang berjudul pengaruh kaempferol dari daun katuk (sauropus androgynous) untuk potensi pencegahan kanker pada sel epitel kelenjar susu terpilih untuk didanai dalam ajang L’Oreal-UNESCO for Women in Science National 2014.
Sumber: Jawa pos 21 april 2015, Halaman 35

