
Goyang “Gemu Famire” dua-tiga tahun terakhir melanda Nusantara. Goyang yang melekat pada lagu berjudul sama itu bahkan berita terkenal lewat masyarakat Indonesia di luar negeri, turis asing, dan tentu saja media sosial. pub Siapakah yang menciptakan lagu “Gemu Famire” yang asyik itu? Dia adalah Fransiskus Cornelis tud Dianbunda yang biasa disapa Nyong Frangko.
Kornelis Kewa Ama
Frangko menceritakan bagaimana lagu “Gemu Famíre” itu tercipta. Suatu hari Frangko berpikir untuk mencip- takan sebuah lagu khas yang bisa mengingatkan orang pada Maumere, kota kelahirannya.
Pada Mei 2011, ia berhasil menciptakan lagu “Gemu Famire” yang ia inginkan, energik, unik, serta mengandung ciri khas budaya Maumere dan Ende. Liriknya sederhana, tetapi menghibur. Musiknya sederhana, tetapi menggairahkan untuk bergoyang.
“Dengan (Gemu Famire ‘) setiap orang yang datang ke Maumere atau Flores bisa diajak bergoyang. Mereka tertarik, lalu bisa bawa pulang sesuatu dari sini, yakni album lagu itu,” ujar Frangko Februari lalu. Dan Frangko terkait lagu itu memang sederhana. Ia sadar orang- orang dari luar Maumere atau Ende dua kota di NTT yang menghubungkan lagu yang ringan, dan cinta orang di Maumere, pertengahan senang.
Keinginan sudah tercapai. Lagu “Gemu Famire” dengan goyangannya meliuk-liuk belakang, tidak hanya dilakukan di Maumere dan Ende, tetapi juga di lot, diplomat, tentara, orang partai, Goyang ini juga dilakukan orang-perti Malaysia, Hongaria, Rusia, Ceko, meriah di halaman sekolah, mal tidak mengerti bahasa daerah yang digunakan dalam lirik lagu “Gemu Famire”. Namun, ia yakin irama lagu tersebut membuat hati orang yang unik Frangko itu asyik, ke kiri, ke kanan, ke depan, ke seantero Nusantara, bahkan dunia. Goyang “Gemu Famire” dilakukan berbagai kalangan mulai ibu rumah tangga, siswa sekolah, pramugari, piselebritas, menteri, hingga presiden. orang asing di sejumlah negara, Kanada, Belanda, Jerman, Vietnam, Australia, dan Perancis.
Goyang “Gemu Famire” dilakukan bersama-sama dalam flashmob yang dung pertemuan, Kedutaan Besar Republik Indonesia di sejumlah negara, studio senam, ajang pencarian bakat, hingga di sela acara kongres partai.
“Nona manis putarlah ke kiri / ke kiri / ke kiri / ke kiri / ke kiri / dan ke kiri manis eh // Sekarang kanan eh nona manis putarlah ke kanan / ke kanan / ke kanan / ke kanan / ke kanan manis eh / /.”
Bahasa leluhur
Menurut Frangko, keunikan lagu “Gemu Famire” adalah syairnya diambil dari bahasa leluhur yang dirangkai dengan musik yang tidak-tidak tertentu. Penggalan syair lagu itu antara lain berbunyi “Maumere dega- le kota Ende / pepin gisong gasong // la lele luk ele rebin ha / si la sol //.”
Unsur leluhur dari lagu ini, yakni degale dari bahasa daerah Lio (Ende) yang artinya ‘menuju’. Degale kota Ende, menuju kota Ende. Pepin gisong gasong dari bahasa Sikka artinya ‘pipi yang kembung berisi jagung yang ditumbuk halus’. La lele luk ele rebin ha artinya ‘sebuah tas dari anyaman daun lontar berisikan pa- kaian dan bekal jagung tumbuk’. “Gemu Famire” sendiri berarti telanjang kira-kira memasukkan nada-nada (fa-mi-re) ke dalam mulut. Maksudnya adalah menyanyikan nada-nada lagu fa-mi-re. Mereka bernyanyi samlu sampai tahun 1970, orang Sikka berjalan kaki atau naik kuda. Tidak ular yang siap mengancam. ngunyah jagung yang ditumbuk kemudian ditumbuk dengan batu bil beraktivitas apa saja. Frangko menceritakan, zaman yang bepergian Ende biasanya ada kendaraan roda empat atau roda dua seperti sekarang. Kondisi jalan pun masih berupa jalan setapak, belum bised aspal. Sisi kiri-kanan jalan penuh rumput dengan lintah dan Mereka berjalan kaki sambil mepai halus. Ini makanan khas orang Sikka zaman dulu. Kalau di Flores Timur yang dikenal adalah jagung “titi”, yakni jagung yang digoreng sampai berbentuk emping sehingga disebut emping jagung.
Jagung merupakan makanan lokal NTT yang sudah dikenal sejak zaman nenek moyang. Untuk bekal perjalanan, jagung biasanya digoreng atau direbus, kemudian ditumbuk halus, dimasukkan ke dalam tas atau keranjang. Bekal itu bisa bertahan sampai 14 hari.
Perjalanan jauh butuh tenaga. Makan bagi orang zaman dulu tidak harus duduk. Mereka biasa praktik sesuatu sambil makan. Mengembara di hutan sambil makan, berburu sambil makan, menenun sambil makan. Biasanya- reka berjalan kaki sambil menggendong keranjang atau tas dari anyaman daun lontar. Tas itu tidak hanya berisi makanan, tetapi juga senjata, sirih pinang, dan pakaian. Sambil berjalan mereka bisa sambil bernyanyi.
Guru musik
Sebelum goyang meledak, nama Nyong Frangko tidak dikenal, bahkan di kalangan masyarakat Maumereka, NTT, dari mana dia berasal. Dia memang bukan selebritas. Sehari-hari ia adalah pengajar musik di SMK Yohanes 23 Maumere. Selain itu, sejak 2013, dia mengelola band sekolah bernama Bahana 23 Band SMK Yohannes 23.
Lewat bimbingannya, para siswa di sekolah itu meraih beberapa penghargaan dalam lomba pentas seni musik tingkat SMA / SMK di Maumere. “Saya sebenarnya tidak punya musik dasar. Saya belajar musik secara otodidak melalui internet. Saya sering ikut pentas musik para Frater di Seminari Tinggi STFK Ledalero dan belajar buku-buku musik dari sana,” katanya. lain mengajar agama.
Pendidikan zaman dulu yang di- terapkan para misionaris Katolik, seajarkan lagu-lagu gereja. Dengan begitu, not-not angka begitu diterapkan orang tua, terutama para guru zaman dulu, rilis anak-anak zaman sekarang.
“Ini juga suatu kritik terhadap pendidikan. Lulusan sekolah pendidikan guru atau SPG, sekolah guru bawah dan guru atas atau SGA sangat pandai membaca not angka, bahkan not balok. Padahal, mereka itu tidak saya memegang gelar apa-apa selain disapa guru. Sekarang lulusan guru gelar sarjana, bahkan magister guru, belum tentu bisa membaca not angka, apalagi balok, “kata Frangko sambil tersenyum.
la menambahkan, di NTT banyak anak muda yang memiliki suara yang bagus, menguasai alat musik tertentu dengan baik. Mereka bisa tampil di ajang nasional, bahkan internasional, tetapi tidak memiliki cara bagaimana meraih mimpi itu. Akhirnya, ketenaran mereka hanya sebatas di lingkungan desa atau kecamatan.
Bahkan, ketika “Gemu Famire” meledak, banyak orang meragukan bahwa itu hasil karya Frangko. Mereka penilaian, tidak mungkin Frangko bisa menyenandungkan kata-kata leluhur dengan nada-nada yang bagus. Karena itu, demi melindungi hak ciptanya, November 2014, Frangko mendaftarkan lagu “Gemu Famire” ke Kementerian Hukum dan HAM. Kini, ia telah memiliki sertifikat hak kekayaan intelektual (HKI) atas lagu sebuah album berjudul Dungkele yang diluncurkan pada 2011 dalam terdiri atas delapan lagu daerah asal N’TT.
Meski lagu “Gemu Famire” mele- dak dan dikenal di mana-mana, kenyataannya Frangko tidak mendapat keuntungan finansial. la menceritakan, album Dungkele hanya disalin dalam 800 keping karena anggaran terbatas. Album itu dijual di Maumere dan Ende. Kenyataannya, album Dungkele di mana-mana, di seantero Nusantara, dalam bentuk keping padat (CD) bajakan.
“Saya tidak mendapat keuntungan dari hasil karya lagu itu. Pembajakan lagu ini terlalu marak. Saya hanya mendapat dari Google atas kontrol lagu itu. Itu pun tidak sampai 10 persen,” keluhnya.
Begitulah kenyataannya, Frangko sejauh ini hanya mendapat kebanggaan karena ikut melambungkan nayang lebih menyukai pendengar. Nama Maumere dan Ende lewat “Gemu Famire”.
Frangko kini sedang mempersiapkan album baru dengan satu atau dua lagu wujudkan album ini.
Sumber: Kompas.10-Maret-2018.Hal_.16
