Stefanus Rangga Santoso bisa saja berdiam di Singapura, hidup mapan dengan gaji berkecukupan sebagai agen properti. Pria asal Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, itu memang memilih bekerja sampingan menjadi agen properti sembari berkuliah di Singapura. “Dulu belum memiliki lisensi, jadi hanya menawarkan pada konsumen Indonesia saja,” kata Rangga. Bekerja sampingan selama 3 tahun itu membuat tabungan makin gemuk, hingga Rp 1 miliar.

Dari hasil jerih payahnya itulah Rangga kembali ke tanah air memulai usaha pertanian. Kini pria 27 tahun itu menjadi pemasok melon premium dengan kapasitas produksi 3,7-4 ton melon per 20 hari. Harga jual melon premium itu rata-rata Rp 40.000. Omzet Rangga dari perniagaan melon premium Rp 148 juta-Rp 160 juta per 20 hari. Rangga mengubah sawah seluas 1,3 hektare menjadi greenhouse atau rumah tanam.

Teknologi canggih

Di lahan itu berdiri 18 rumah tanam dengan populasi 1.400-1.800 tanaman per rumah tanam. Lahan untuk rumah tanam 8.500 m2. Rangga mendirikan CV Santoso Agro dengan kebun bernama Laguna Greenhouse di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, pada 2018. Ia fokus membudidayakan melon karena termasuk komoditas elastis. Artinya harga tidak dipatok sehingga bisa mengisi pangsa pasar premium.

Rangga menggunakan hidroponik untuk memproduksi melon. Musababnya, panen hidroponik hasilnya terukur, seragam, dan optimal. Sisten budidaya canggih dan terkomputerisasi. Rangga bisa mengatur kebutuhan nutrisi setiap rumah tanam menggunakan 1 alat di satu ruangan. “Pengaturan nutrisinya bisa disesuaikan tergantung kebutuhan,” katanya. Kebutuhan nutrisi melon setiap fase berbeda, sehingga lebih mudah pengaturannya jika serba otomatis.

Alat itu pun sudah menerapkan manajemen Internet of Thing (IOT) atau terkoneksi pada jaringan internet. Jika kandungan nutrisi berubah, terjadi kebocoran, suhu, atau kelembapan di rumah tanam tidak sesuai, alat akan menghubungkan pada ponsel pintar operator untuk segera memperbaiki masalah. Tujuan Rangga menggunakan sistem serba otomatis menjamin pasokan kontinu dan mengoptimalkan melon hasil budidayanya.

“Pembeli tentu akan lebih senang jika pasokan kontinu dan mutu produk jelas,” kata Rangga. Permasalahan produk pertanian di tanah air pasokan tidak menentu dan petani tidak mengerti mutu produk. “Selain penerapan teknologi, edukasi sumber daya manusia di bidang pertanian pun penting agar bisnis pertanian bisa langgeng,” katanya.

Titik impas 2 tahun

Rangga mulai melirik pertanian ketika memasuki jenjang sekolah menengah atas (SMA). Kala itu harga cabai melambung hingga Rp 120.000. Harga tinggi itulah yang membuat Rangga dan dua orang temannya mulai mencoba menekuni pertanian. “Sampai membuat rumah tanam mini di halaman rumah untuk budidaya cabai,” kenangnya. Kegiatan itu terhenti ketika Rangga melanjutkan studi ke luar negeri.

Tahun pertama Rangga berkuliah di Jurusan Arsitektur Interior, Monash University, Malaysia. Setahun berselang ia pindah ke Raffles Design Institute, Singapura, masih dengan jurusan yang sama. Semasa berkuliah di Singapura itulah Rangga bekerja sambilan menjadi agen properti hingga lulus pada 2016. Selepas lulus tawaran menjadi agen properti datang dari kolega di tanah air, mengembangkan properti di Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Sayang, belum Rangga bergabung bisnis properti itu terkendala sengketa. Telanjur kembali ke tanah air, Rangga tidak memutuskan kembali ke Singapura. Alih-alih menunggu kepastian mengenai bisnis properti, Rangga kembali menekuni kegemaran lamanya bertani. Pemuda kelahiran 31 Januari 1994 itu bermitra dengan kolega ayahnya menanam cabai dan bawang merah di Kabupaten Wonogiri dan Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

“Akhirnya tawaran bisnis properti ditinggalkan, fokus di pertanian,” katanya. Rangga memulai bisnis pertanian dengan modal sendiri hasil jerih payah kerja sambilan menjadi agen properti. “Tabungan itu pun akhirnya habis untuk biaya belajar dan bereksperimen,” katanya. Rangga mencoba menggunakan irigasi tetes dan rumah tanam sederhana untuk budidaya cabai dan bawang merah.

Dua tahun belajar bertani holtikultura itulah Rangga mantap memilih melon sebagai salah satu komoditas andalan. Rangga menuturkan, bisnis hidroponik melon dengan sisten serba otomatis itu sebetulnya bisa balik modal dalam 2,5 tahun. Asalkan pasokan kontinu, mutu terjaga, dan manajemen sumber daya manusia optimal.

 

Stefanus Rangga Santoso

Tempat, tanggal lahir: Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, 31 Januari 1994

Pendidikan: Desain Interior, Raffles Design Institute (Singapura)

Jejak agribisnis:

  • Pekebun melon hidroponik sejak 2018
  • Petani holtikultura (2016-2018)

 

Sumber: Trubus, Februari 2021