Sumber:https://www.kawalsurabaya.com/surabaya/3312593827/gali-potensi-sense-of-place-prof-astrid-kusumowidagdo-soroti-pentingnya-preservasi-ruang-komersial-tradisional

Gali Potensi Sense of Place, Prof. Astrid Kusumowidagdo Soroti Pentingnya Preservasi Ruang Komersial Tradisional

28 April 2026

KAWALSURABAYA.COM – Keberadaan ruang komersial tradisional di daerah wisata bukan sekadar tempat transaksi jual-beli, melainkan fondasi utama dalam menciptakan kedekatan emosional atau sense of place bagi wisatawan.

Hal ini diungkapkan oleh Guru Besar Universitas Ciputra, Prof. Dr. Astrid Kusumowidagdo, dalam pemaparannya mengenai penelitian mendalam di 13 objek wisata seluruh Indonesia.

Dalam penelitiannya, Prof. Astrid memfokuskan kajian pada empat bentuk ruang komersial tradisional: pasar tradisional, desa wisata, koridor belanja kreatif seperti di Ubud, hingga pasar terapung floating market di Banjarmasin.

Menurut Prof. Astrid, daya tarik utama dari destinasi wisata tradisional terletak pada indigenous entrepreneurship atau kewirausahaan lokal yang mampu menciptakan interioritas. Interioritas ini diterjemahkan sebagai rasa “kerasah” atau betah yang muncul karena adanya interaksi yang intim antara warga lokal dan pendatang.

“Interioritas itu kedekatan. Gampangnya, Bapak Ibu betah, Bapak Ibu kerasan. Karena orang-orang lokal akan membiarkan Bapak Ibu mungkin masuk ke rumahnya untuk melihat tenunan produksi di dalamnya,” ujar Prof. Astrid menjelaskan fenomena di tempat-tempat seperti Desa Sade Lombok.

Ia menekankan bahwa sifat tempat-tempat ini adalah permeable, di mana batas antara ruang privat dan ruang publik menjadi cair, memungkinkan wisatawan merasakan langsung *live practice* atau kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.

Salah satu kegelisahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah fenomena penyeragaman produk cinderamata di berbagai destinasi wisata.

Prof. Astrid berharap hasil penelitian ini dapat mendorong para pemangku kepentingan untuk lebih memperhatikan identitas tempat place identity melalui produk lokal yang unik.

“Keinginan saya itu, kita tidak lagi berbelanja di Bali, berbelanja di Sumatera Utara, berbelanja di Borobudur, tapi kaosnya sama cuma tulisannya saja yang ganti,” tegasnya.

Penelitian ini tidak hanya berhenti pada tataran teori, tetapi juga menghasilkan conceptual framework yang diimplementasikan dalam bentuk website, buku, hingga pengembangan produk.

Kerangka kerja ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi pengelola wisata untuk mempreservasi aspek fisik, sosial, hingga narasi sejarah yang ada.

“Berharapnya penelitian ini itu bisa membuat kita semua aware apa-apa saja sih yang penting untuk diperhatikan, apa-apa saja yang mungkin perlu untuk dimanage,” tambah Prof. Astrid.

Dengan menjaga keaslian pasar tradisional dan interaksi sosial di dalamnya, destinasi wisata diharapkan mampu mempertahankan nilai uniknya di tengah persaingan industri pariwisata global yang semakin modern. (sms)