Cegah Kemunculan Klaster Kampus

Surabaya, Jawa Pos

Perkuliahan daring (dalam jaringan) alias online memang sudah lama diberlakukan. Namun, kegiatan di kampus tidak serta-merta mati. Kampus tetap menyiapkan beragam Langkah antisipasi agar tidak muncul klister Covid-19. Edukasi berulang menjadi garda terdepan.

“Kami lakukan edukasi di semua platform, baik daring maupun luring. Mulai 3M sampai 5M,” kata dr Salmon Charles P.T. Siahaan SpOG, anggota Satgas Anti-Covid-19 Universitas Ciputra.

Kebutuhan dan jadwal bekerja dari kantor (WFO) maupun bekerja dari rumah (WFH) civitas academica juga diatur. Sebelum Kembali ke kampus, mereka wajib mengisi table-tabel untuk mengetahui risiko terpapar. “Apakah baru dari luar kota, kontak erat dengan pasien. Masing-masing harus mengisi di rumah sebelum ke kampus,” ujar Charles.

Mereka akan mendapatkan e-mail tentang tingkat risiko. Mulai risiko rendah, sedang, sampai tinggi. Saat datang ke kampus, civitas academica dengan risiko tinggi bakal diminta menjalani rapid test antigen. Pengujian tersebut dilakukan di klinik milik Fakultas Kedokteran UC. “Jadi, kami Kelola sendiri. Hasilnya juga cepat untuk ditangani,” ungkap wakil dekan III FK UC tersebut.

Di luar tes terkait dengan kondisi risiko paparan, pihaknya juga menjadwalkan rapid test rutin. Jika memang ada civitas academica yang terkonfirmasi positif Covid-19, satgas segera melakukan tracing atau penelusuran kontak. “Nah, bagi yang positif, bakal kami asesmen. Gejalanya seperti apa. Jadi, kebutuhannya isolasi mandiri atau perlu bantuan rujukan ke RS,” jelasnya.

Universitas Negeri Surabaya (Unesa) juga semakin aktif memaksimalkan peranan Satuan Mitigasi Crisis Center (SMCC). Per Januari 2021, satuan tersebut telah berubah menjadi unit yang lebih mandiri. Sebelumnya, ada program pengabdian kepada masyarakat (PKM) yang bernama Unesa Crisis Center. Crisis center itu didirikan sejak 15 mahasiswa Unesa terjebak di Wuhan, Tiongkok, tahun lalu.

SMCC Unesa bekerja melalui tiga divisi yang dimilikinya. Yakni, divisi mitigasi Covid-19 dan Kesehatan medis, divisi mitigasi Covid-19 dan kesehatan medis, divisi mitigasi kebencanaan, serta divisi manajemen krisis dan Kesehatan mental. Hal-hal yang dilakukan SMCC adalah mencegah persebaran virus melalui pemberian alat sanitasi kepada masyarakat sekitar kampus, menerapkan pembatasan kegiatan berskala besar (PKBB) di lingkungan kampus, serta melakukan testing dan tracing bagi civitas academica.

“Kami memberikan pendampingan berupa penyediaan kamar-kamar atau tempat tinggal untuk civitas academica yang terpapar Covid-19,” ungkap Ketua SMCC Diana Rahmasari.

Pihak kampus juga memberikan pendampingan untuk memulihkan Kesehatan mental bagi civitas academica yang terpapar Covid-19. Upaya itu tidak kalah penting jika dibandingkan dengan pemulihan fisik. Sebab, menurut Diana, orang yang terpapar Covid-19 sering kali mengalami kecemasan yang berlebih, khawatir keluar rumah, dan takut dikucilkan setelah sembuh.

“Nah, di situlah peranan kami. Memberikan pendampingan secara psikis untuk mereka yang butuh konsultasi agar fisik dan mentalnya cepat pulih,” tandas Diana.

 

Sumber: Jawa Pos. 2 Februari 2021.Hal.15