Universitas Ciputra Kukuhkan Empat Guru Besar

25 Januari 2024. Hal. 15

SURABAYA – Empat guru besar Universitas Ciputra (UC) resmi dikukuhkan kemarin (24/1). Mereka adalah Prof Dr Ir Denny Bernardus Kurnia Wahjudono MM, Prof Dr Wirawan E.D. Radianto SE MScA Mth CLC CMA CFP QWP CIQaRAkCA, Prof Dr Drs Thomas Stefanus Kaihatu MM, dan Prof Dr Jimmy Ellya Kurniawan SPsi MSi Psikolog. Pengukuhan empat guru besar tersebut membuat UC kini memiliki total 14 guru besar.

Rektor UC Ir Yohannes Somawiharja MSc menyatakan, guru besar atau profesor adalah lambang reputasi. “Dan, mereka juga setara pakar,” ujarnya.

Dia menambahlan, empat guru besar tersebut dinilainya lebih dari sekadar mendapat titel profesor. “Yang pertama karena mereka bukan sekedar profesor, tapi juga selalu mendapatkan award di dalam pelaksanaan pengajaran di kelas masing-masing,” jelasnya.

Yohannes menjelaskan, mereka bukan hanya ahli teori, tetapi juga praktisi. “Yang terakhir, mereka ini punya jiwa pendidik yang besar. Selalu bersedia mengorbankan energi dan waktu untuk pendidikan. Baik itu pekerjaannya maupun keluh kesah dari para mahasiswanya,” ungkapnya.

Kepala LLDIKTI Wilayah VII Jatim Prof Dr Dyah Sawitri SE MM menuturkan, dikukuhkannya guru besar menjadi contoh bahwa dosen memang harus terus melanjutkan jenjang mereka hingga menjadi guru besar. Tujuannya, membantu meningkatkan nilai dari universitas maupun mahasiswanya.

“Karya nyata yang dihasilkan UC ini luar biasa. Kami berharap besar karya nyata ini juga bisa menghasilkan output yang nyata. Artinya apa, kita bisa mengolaborasikan karya nyata para profesor, dosen, mahasiswa, dan dunia industri untuk mewujudkan Indonesia emas 2045,” tuturnya.

Prof Wirawan, salah seorang guru besar yang dikukuhkan, menyampaikan bahwa tantangan selanjutnya setelah menjadi seseorang guru besar adalah bisa berdampak nyata kepada masyarakat, berbagai lembaga, dan bangsa untuk meningkatkan kesejahteraan. “Tantangannya, memajukan Indonesia. Baik di kancah pendidikan maupun industri,” ungkapnya.

Dia berharap kontribusi yang diberikan para guru besar tidak hanya berakhir masuk ke perpustakaan, tetapi juga harus bisa memberikan dampak positif yang riil untuk Indonesia. (ama/c14/may)