Ir Yohanes Somawihardja_Global Ekspose untuk Universitas Ciputra. Radar Surabaya.16 April 2017

IR YOHANES SOMAWIHARDJA

Rektor Universitas Ciputra

Belum satu bulan Yohanes Somawihardja menjadi rektor Universitas Ciputra (UC) menggantikan Toni Antonio. Namun, sepak terjang untuk menjadikan civitas akademika dan mahasiswa UC bisa terjun ke global ekspose, sudah terasa. Wartawan Radar Surabaya, Umi Hany Akasah berkesempatan untuk mewawancara mantan wakil rektor I UC itu.

Bagaimana ceritanya Bapak bisa menjadi bagian dari Universitas Ciputra (UC)?

Saya sempat kuliah dan kerja di Amerika selama 12 tahun.  Karena bosan dan ingin merawat orang tua di desa, akhirnya tahun 2000 saya kembali ke Parakan, Temanggung. Selama empat tahun sayafokus  membantu ayah saya menerjemahkan buku dan lainnya di desa. Tahun 2014 saya diajak oleh Bapak Antonius Tanan membuat konsep kampus entrepreneur oleh Pak Ci (Ciputra). Akhirnya, selama dua tahun (2004-2006) saya bolak-balik Parakan-Surabaya untuk mempersiapkan kampus ini. Tahun 2006 saya mengajar dan akhirnya tinggal di Surabaya mengabdikan diri di UC.

Bagaimana Bapak langsung tertarik mengonsep UC, padahal waktu itu persaingan dunia pendidikan juga tinggi sehingga tidak bisa menjamin UC bisa sebesar sekarang?

Waktu diajak Pak Antonius Tanan, saya mendengarnya sudah tertarik. Dengan konsep entrepreneur Pak Ci. Mulanya saya sempat berpikir kalau entrepreneur itu ngajari jualan saja. Namun, setelah saya pelajari, ternyata itu salah. Entrepreneurs education adalah pendidikan modern yang mengajarkan seseorang logis, berpikir kritis dan reaktif dengan lingkungan sekitar sehingga orang-orang yang memiliki jiwa entrepreneur itu mampu menyelesaikan masalah dan mampu melihat kondisi lingkungan mereka untuk langkah ke depan.

Kebtulan saya itu suka sekali dengan sejarah dan peradaban bangsa di dunia ini. Dari yang saya baca, pendidikan modern di dunia barat itu dimulai abad ke-12 yang disebut zaman Renaissance. Sebelumnya mereka tertinggal. Justru yang maju adalah dunia Arab dengan berbagai filsuf, seperti di Bagdad yang pernah dipimpin Harun Al Rasyid. Hal itu menginspirasi dunia Barat kalau belajar dan teknologi itu sangat penting, hingga di Eropa mulai terbuka dan gerejapun membuka sekolah modern. Mereka mengajarkan bila berpikir itu penting. Namun beberapa abad kemudian justru muncul zaman Aufklarung yang membuat manusia jadi ahli, bukan berpikir dan terampil lagi. Dan saya rasa konsep Pak Ci benar. Dengan konsep liberal Arts yang diusung waktu zaman Renaissance, yang artinya pendidikan itu membebaskan sehingga kami bisa menjadikan anak Indonesa bukan hanya pengetahuan, terampil juga pada sikap dan rasa sehingga mereka menjadi manusia terdidik, bermartabat, juga memanusiakan orang lain.

Wah, Bapak cukup lama tinggl di Amerika Serikat. Bagaimana kisahnya?

Sedari kecil saya suka dengan dunia mesin hingga sekolah dn kuliahpun mengambil jurusan itu. Beberapa kali kuliah dan tahun 1991 saya mendapat beasiswa keluar negeri. Di Amerika Serikat saya kuliah di Ohio State University seangkatan dengan Rizal Mallarangeng, Deny Ali, dan kerja di Amerika Serikat.

Kalau diluar negeri yang pegang mesin itu harus perusahaan yang punya lecense, mahasiswa enggak boleh pegang. Karena tidak bisa praktik kerja langsung, ama kamu akhirnya mencari klient berat sehingga kalau ada masalah teknik, kami bisa selesaikan sehingga merka membayar upah US 2000 hingga US 3000. Disitu juga saya aktif di Departemen Radiologi sehingga saya juga dengan tim mengerjakan proyek scan MRI sampai 8 Tesla, dimana fungsinya untuk melihat kondisi saraf dan gangguan di otak. Saya di Amerika cukup lama dan lumayan mengabdikan diri untuk ilmu pengetahuan.

Ternyata background Bapak adalah teknik mesin, Bagaimana Bapak bisa tertarikd engan dunia pendidikan?

Saya sudah lama suka dengan dunia pendidikan meskipun background teknik mesin. Apalagi, ilmi itu selalu berkembang. Dimana disiplin ilmu sama yang kita miliki bisa dibagikan ke orang lain. Saat ini, pendidikan yang dibutuhkan adalah learning capability, bahwa orang harus berpikir kreatif, jujur dan terbuka. Makanya saya sangat kagum dengan pemikiran Gus Dur (Abdulrahman Wahid, Presiden RI ke-4), bahwa ilmu pengetahuan membuat manusia lebih terbuka, saling berbagi yang ujungnya pada sikap pluralisme.

Memimpn UC?  Rektor sebelumnya Bapak Tony Antonio sudah berhasil memperkuat dan memperkokoh UC sampai akhirnya mampu menempati urutan 11 Perguruan Terbaik di Indonesia dan Jatim.

Kalau saya menargetkan seluruh akademusu dan mahasiswa UC bisa global ekspose. Saat ini, Lembaga Pusat Peelitian (LPP UC), juga meningkat statusnya dari madya menjadi utama. Status ini membuat LPP bisa mengakses dana hingga Rp 5 Miliar. Kami tetap menargetkan bahwa mahasiswa kami tidak mencari kerja, melainkan berwirausaha serta menciptakan lapangan kerja. Kalau ada 100 persen lulusan, 30 persen diantaranya meneruskan usaha yang dirintis sejak kuliah, ada yang mengeloa family business, dan menciptakan bisnsi baru.

Bagaimana langkah Bapak untuk melakukan ekspose civitas akademika ke dunia global?

Kami ingin mengejar profil global supaya kami tidak dilihat hanya berani bermain di kandang. Kami harap alumnus maupun akademika UC lebih luas, percata diri dan berani. Makanya kami mengejar itu dengan mengajak para dosen luar negeri atau dosen ekspatriat untuk mengajar dan menularkan ilmunya di UC. Begitu juga dosen dosen kami kirim ke luar negeri, baik untuk sekolah maupun join riset dangan kampus luar negeri. Saat ini jumlah dosen kami 200 orang, sedangkan mahasiswa berjumlah 3.500 orang. Saat ini kami sudah banyak mengirim dosen untuk belajar ke luar negeri.

Ir Yohanes Somawihardja

Tempat/Tanggal lahir     : Parakan, Temanggung, 14 Maret 1959

Istri                                        : Imelda Lewono

Anak                                      : Ignaz Aryaguna

Ivan Aryasatya

Pendidikan                         : 1970 SD Remaja Parakan

1973 SMP Remaja Parakan

1976 STM Kolose St Mikael

1984 S1 Fakultas Teknik UKI Jakarta

1998 S2 Mechanical Engineering Dept The Phio State University

Karir                                       : 1995 – 1991 Dosen Jurusan Mesin

1995 – 1998 Kepala Laboratorium Mesin

1988 – 1990 Sekretaris Jurusan Mesin

1996 – 1998 Teahing Assistace The Ohio State University

1994 – 2003 Design Engineer, The Ohio Technology Transfer Organization

2016-2017 Direktur Akademik Universitas Ciputra

2017 – sekarang Rektor Universitas Ciputra

Hobi                                       : Kolektor buku dengan lebih dari 10 ribu judul

Minat pada seni dan budaya, terutama budaya Jawa dna peranakan Tionghoa

Sejak 2008 sebagai kolektor batik lawas

 

KOLEKTOR BATIK

Berasal dari daerah Parakan, Temanggung, Yohanes Somawihardja memiliki cita rasa yang cukup tinggi terhadap budaya Jawa. Ia adalah salah satu kolektor setia batik Indonesia. Koleksi batiknya ribuan, dengan kisaran harga terendah mulai Rp 4,5 juta hingga Rp 30 juta per lembar.

Yohanes menceritakan, awal mulanya dirinya mencntai batik tidak lepas dari daerah asal muasalnya, yakni Jawa Tengah. “Saya ini punya identitas ganda, kakek saya itu Tionghoa tapi dia adalah abdi dalem Keraton Jogjakarta dan kepercayaannya kejawen,” jelas Yohanes.

Sang kakek juga sering dibilang dukun jawa, karena ia memiliki ratusan koleksi keris. Hal itu makin membuat Yohanes mencintai budaya Jawa.

Sosok sang kakek juga berpengaruh pada pilihan jurusannya. Sewaktu muda, kakeknya juga pernah beerja di Stasiun Tugu, Jogjakarta. Hal itu membuatnya sering memperhatikan kondisi mesing-mesin kereta api, sehingga sejak kecilpun ia sudah sangat tertarik dengan mesin. Sampai akhirnya lulus SD ia melanjutkan studi pendidikan mesin langsung ke Sekolah Katolik Kejuruan Santo Mikael Surakarta, Jawa Tengah.

Dari masa kecil itulah, Yohans menyatkan sangat berdampak pada pribadinya. Ia sangat mencintai sejarah dan ilmu mesin. Sejarah budaya tidak hanya Jawa, namun juga agama, seperti Islam, Kristen, dan lainnya. “Suka sekali baca budaya dan sejarah agama maupun peradaban bangsa-bangsa dunia,” ungkap ayah dua anak itu.

Dari kecintaan itu pula, Yohanes makin bersyukur karena dari seluruh perbedaan dnegan istrinya ada persamaan yang membuatnya bisa tetap mempertahankan cita rasa seninya terhadap budaya jawa.

Keduanya sama-sama menyukai batik, hingga memiliki  ribuan koleksi batik tulis asli. “Dari beribu-ribu perbedaan, ada satu persamaan saya dnegan istri. Kami sama sama suka dengan batik,” jelasnya.

Pamahaman Yohanes pada batik emmang terlihat begitu mendasar. Kepada Radar, Surabaya, ia menjelaskan makna dan corak pada tiap kembar batik Oey Soe Tjoen asal Pekalongan. “Saya sangat apresiasi terhadap para pembatik. Bisa dibayangkan mereka mengerjakan satu lembar kain batik itu bisa empat hingga satu tahun. Membuatnya harus jeli dan hati-hati. Kagum sekali,”kata Yohanes sembari menunjukkan motif-motif batik.

Sumber : Radar Surabaya, 16 April 2017