GM Marketing Ciputra Group Dalami Kolaborasi Human–AI Lewat Program Doktor di Universitas Ciputra
16 Maret 2026
TRIBUNNEWS.COM – Lebih dari dua dekade berkarier di industri properti nasional, Andreas Raditya Wicaksono terus mengembangkan kapasitas kepemimpinannya melalui jalur akademik.
General Manager Marketing di Ciputra Group itu kini menempuh Program Doktor Manajemen & Entrepreneurship di Universitas Ciputra Surabaya dengan fokus riset kolaborasi antara manusia dan kecerdasan buatan (human–AI collaboration) untuk meningkatkan kinerja organisasi.
Lulusan Teknik Arsitektur dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ini memulai kariernya dari sisi teknis proyek. Dalam perjalanan kariernya, Andreas pernah menjabat sebagai Project Manager yang menangani 19 proyek di 13 kota.
Ia juga sempat memegang posisi strategis sebagai General Manager Operasional hingga General Manager Real Estate dan Hotel Construction di Bela Amara Hotel, Ternate.
Pengalaman panjang tersebut membentuknya sebagai spesialis proyek properti, baik untuk pembangunan high-rise building maupun landed residential, sebelum akhirnya dipercaya memimpin strategi pemasaran di Ciputra Group.
Di posisi tersebut, Andreas dikenal memiliki keahlian dalam strategic marketing and sales, customer engagement, leadership and team development, serta pengembangan digital marketing berbasis teknologi.
Namun pandemi COVID-19 menjadi titik refleksi penting dalam perjalanan profesionalnya.
“Masuk S2 itu tepat pada periode Covid-19. Saya sangat merasa terpukul. Tidak bisa jualan, tidak bisa bertemu klien. Kompetensi lama terasa tidak relevan dengan situasi baru. Dari situ saya sadar harus upgrade pengetahuan,” ujarnya.
Kesadaran tersebut mendorong Andreas melanjutkan studi Magister Manajemen di Universitas Ciputra pada 2020–2022. Ia menilai metode pembelajaran berbasis praktik yang diterapkan kampus tersebut sangat relevan dengan kebutuhan industri.
“Saya sangat menikmati prosesnya karena sangat praktis. Pengalaman 16 tahun saya sebagai praktisi dipertemukan dengan dasar teori dan tools analisis yang sistematis. Bahkan sejak semester dua sudah project based, dan saya membawa proyek internasional dari kantor untuk dianalisis,” tuturnya.
Bekal analisis bisnis yang diperoleh dari jenjang magister kemudian mendorongnya melanjutkan studi ke tingkat doktoral.
Ia melihat perubahan besar dalam dunia kerja akibat perkembangan kecerdasan buatan sebagai fenomena strategis yang perlu diteliti secara lebih mendalam.
“Saat ini kita masuk era AI. Ini seperti industri baru dengan medan baru. Karena itu saya ingin meneliti seberapa efektif manusia berkolaborasi dengan AI. Topik saya tentang collaborative intelligence dengan studi kasus di Ciputra Group,” jelasnya.
Dalam riset doktoralnya, Andreas meneliti empat variabel utama, yakni organizational culture, leadership support, digital literacy, dan employee engagement yang dimediasi oleh Conversational Intelligence (C-IQ) dan bermuara pada peningkatan organizational performance.
“Tujuan akhirnya meningkatkan kualitas perusahaan. Karena riset saya dilakukan di perusahaan sendiri, dampaknya bisa langsung terasa dalam inovasi dan produktivitas,” katanya.
Implementasi kolaborasi antara manusia dan AI sendiri telah mulai diterapkannya dalam strategi pemasaran.
Mulai dari pengolahan data, pelaksanaan focus group discussion (FGD), hingga produksi konten digital kini melibatkan teknologi AI.
“Kalau dulu satu konten bisa tiga hari, sekarang satu hari bisa tiga konten. Pembuatan image, video, avatar, content planning sampai eksekusi sudah AI-based oriented. Secara sederhana, human dan AI collaboration meningkatkan produktivitas karyawan secara signifikan,” ujarnya.
Di tengah kesibukannya sebagai GM Marketing yang berkantor di kawasan Ciputra World Jakarta, Andreas mengakui tantangan terbesar dalam menempuh studi doktoral adalah manajemen waktu.
Namun sistem perkuliahan hybrid yang diterapkan Program Doktor Manajemen & Entrepreneurship Universitas Ciputra dinilainya sangat membantu praktisi yang tetap harus menjalankan aktivitas profesional.
“Saya tidak harus bolak-balik Jakarta dan Surabaya. Konsultasi dengan promotor dan co-promotor fleksibel. Bahkan untuk praktisi seperti saya yang belum terbiasa menulis jurnal, ada pembinaan khusus. Itu sangat membantu,” ungkapnya.
Didukung latar belakang keluarga akademisi, Andreas semakin mantap menempuh studi doktoral. Ia berharap riset yang dilakukan dapat menghasilkan kerangka kerja kolaborasi human dan AI yang bertanggung jawab sekaligus aplikatif bagi dunia industri.
“Saya ingin pengalaman profesional saya menjadi lebih terstruktur secara ilmiah dan menghasilkan model yang bisa meningkatkan kapabilitas perusahaan,” pungkasnya.

