Alissa wahid dikenal memiliki kepedulian sosial yang cukup tinggi. Putri pertama mantan presiden Abdurrahman wahid itu memang berkomitmen terus bergerak membela rakyat melalui jalur nonpolitik. Air mata Alissa wahid mengalir deras ketika nada putus ada terdengar dari ponselnya di suatu sore pada 2010. Suara disana bergetar mengatakan siap untuk mati. Lawan bicaranya pun mengutarakan kesedihannya karena Gus Dur yang selalu membelanya telah tiba.
“Kalau Gus Dura da, setelah mengadu, kami yakin besok sudah ada disini untuk membela. “kenang Alissa wahid sembari mengualang percakapan kala itu. Lawan bicaranya adalah tokoh ahmadiyah manislor kuningan. Saat itu warga ahmadiyah di serang dan sangat mencekam. Alissa wahid benar-benar kulut. Ucapan tokoh ahmadiyah tersebut benar-benar menyentil hatinya yang paling dalam. Di tengah tangisnya, dia tersadar. “Gus Dur memberikan rasa aman tidak Cuma sebagai orangtua. Tetapi juga warga Negara,”katanya. Alissa tidak bisa melupakan peristiwa itu karena terjadi tidak lama setelah Gus Dur wafat. Komitmen untuk meneruskan apa yang sudah dirintis ayahnya membuat Alissa ikut berdiri membantu. Hal serupa terjadi saat dia ikut menolak pembangunan pabrik semen di rembang, jawa tengah.
Dia melanjutkan janji Gus Dur yang pernga mengatakan akan datang ke rembang untuk berada di sisi warga pada 2009. Namun, janji tersebut tidak pernah dipenuhi karena kesehatan sang ayah terus menurun. “Sekarang (saya) banyak melanjutkan apa yang dulu dirintis Gus Dur, “tuturnya. Psikologi keluarga itu juga aktif membela komisi pemberantasan korupsi (KPK). Dia mendukung lembaga antirasuah tersebut melalui banyak cara. Mulai media sosial lengkap dengan kultwit atau kuliah lewat twitter sampai ikut datang ke gedung KPK. Meski sekarang dikenal sebagai aktivis perempuan yang vocal, Alissa ternyata pernah down dan ingin menghentikan kegiatan sosialnya. Kondisi itu terjadi ketika Gus Dur menjabat presiden Indonesia. Apa yang dilakukan Gus Dur untuk rakyat ternyata tidka selalu bersambut baik.
Di istana, seluruh keputusan diambil untuk rakyat. Tapi di luar, serangannya kayak gitu. Kok orang baik tidak selalu menang. Kenapa perjuangan begini beratnya,”katanya. Setelah itu, Alissa lantas memutuskan untuk rehat dan menjalankan profesinya sebagai psikologi keluarga. Namun, tidak lama setelah Gus Dur wafat, Alissa memutuskan kembali terjun ke kegiatan sosial. Keputusannya tersebut didasarkan pada pertemuan keluarga di rumah Ciganjur, Jakarta Selatan. Saat itu banyak yang datang, terutama kaum minoritas. Pertanyaannya sama, akan berlindung kepada siapa. Anak-anak Gus Dur sadar bahwa mereka tidak bisa menggantikan peran almarhum. Namun harus ada yang melanjutkan perjuangan Gus Dur. Akhirnya keputusan pun diambil. Yang mengambil porsi politik praktis adalah yenny wahid sedangkan keluarga lainnya mengambil jalur nonpolitik. “Kami sadar nggak bisa mengambil alih peran itu. Tapi kami, akan berusaha. Kalau dulu Gus Dur mengayomi setidaknya kami bisa menemani, “ungkapnya.
Saat ini dia ingin fokus pada beberapa permasalahan lebih dulu. Antara lain, demokratis hubungan lintas iman, dan NU. Dia tidak bekerja sendiri. Ada GUSDURian yang tersebar dimana-mana untuk memabantu. Koneksi itu membuat Alissa bisa memahami atau menangani banyak masalah sekaligus. Meski perempuan, Alissa tidak melihat gender sebagai batasan untuk aktif dalam kegiatan sosial atau menjadi aktivis. (dim/c15/any)
Sumber: Jawa pos selasa 21 april 2015 hal 34

