Hafiz Rancajale_Bersuara dengan Gembira.Kompas 14 Januari 2017.Hal

Lewat Forum Lenteng, Hafiz Rancajale (45)  mendorong anak- anak muda di sejumlah daerah untuk bersuara . Mereka diajarkan bagaimana menggunakan aneka media untuk mengrikitisi berbagai persoalan di sekitarnya.

OLEH BUDI SUWARNA.

Di sebuah meja yang berantakan oleh buku, Hafiz Rencajale memperlihatkan jurnal daring Akumassa.org. Di sana, kita bisa menemukan aneka kisah bernada miris dari sejumlah daerah. Ada kisah orang-orang yang tergilas rakusnya industry pariwisata di Lombok, ada pula kisah hancurnya lingkungan sebuah desa akibat pertambangan .

Kisah-kisah itu ditulis oleh anak-anak muda usia sekita 20 tahun dengan latar belakang beragam,mulai dari mahasiswa , pedangang loak, petani, guru , hingga pengelola binatu. Mereka memiliki kemampuan mengupas persoalan setelah mengikuti aneka pelatihan dan diskusi yang difasilitasi Forum Lenteng.

Hafiz menjelaskan , yang dilakukan Forum Lenteng adalah menanamkan kesadaran kepada warga tentang praktik hegemoni di sekitar kita.

Hegemoni adalah dominasi kesadaran kelas sosial tertentu kepada kelas sosial lain sehingga pandangan atau wacana yang didiktekan kelompok dominan diterima sebagai sesuatu yang wajar.Praktik hegemoni bisa dilakukan melalui bahasa,media massa, sejarah, seni, dan sebagainya.

Karena itu, Forum Lenteng mendorong warga agar kritis terhadap informasi yang mereka terima dari media . “ Mereka tidak akan termakan hoax,” ujar Hafiz di kantor Forum Lenteng di kawasan Pasar Minggu,Jakarta , akhir Desember lalu.

Pada saat yang sama, Forum Lenteng  mengajarkan mereka bagaimana menggunkan aneka media untuk memberik advokasi mengenai persoalan-persoalan di sekitarnya.Media yang digunakan mulai dari situs daring, film, buku, seni pertunjukan, murah, hingga aktivitas .”Hasilnya luar biasa. Warga ternyata bisa membedah persoalan dengan sudut pandang menakjubkan.SEnsitivitas mereka terhadap persoalan lokal membuat mereka mampu mencium hal-hal yang tidak disentuh media arus utama.”

Ini bisa dilihat dari film pendek Mama Amamapare buatan komunitas Jurnalis Warga Yoikotra- jaringan Forum Lenteng di Timika , Papua. Film itu mengajak penonton melihat wajah Papua saat Indonesia berusia 70 tahun dari sosok seorang dukun bayi . Ia mesti menolong ibu-ibu melahirkan dengan dengan alat-alat seadanya . Kalau tidak ada gunting mereka menggunakan silet untuk memotong ari-ari.

Film itu dinobatkan sebagai Film Dokumenter Pendek Terbaik Festival Film Indonesia 2016 dan Eagle Award 2016. Sutradanya, Yonri Revolt dan Febian Titarsole, adalah mahasiswa drop out,” Mereka belajar film dari nol,” ujar Hafiz.

Manyenangkan

Hafiz gembira dengan pencapaian Yonri dan Fabian. Namun , ia menegaskan bahwa hasil akhir sebenarnya bukan tujuan utama, melainkan proses. “ Saya tidak sedang mencetak superstar , tetapi agen-agen organic yang diharapkan akan membuat perubahan ,”katanya.

Ia menambahkan, anak-anak muda Forum Lenteng bekerja menurut ideal yang ingin mereka capai. Namun, mereka memilih jalan yang tidak frontal. “Kami berusaha merespons persoalan dengan cara yang keren dan menggembirakan , yakni melalui aneka aktivitas , media, kebudayaan . Pendekatan ini cocok untuk anak-anak muda sekarang,”

Ketika mengenalkan sejarah kepada anak-anak generasi milenial, misalnya, Hafiz mengajak mereka ke Monumen Nasional setiap hari. Mereka diminta mengamati dan mencatat bagaimana public merespons diorama-diorama, termasuk diorama yang menggambarkan pariwisata 30 September 1965. Ia juga mengajak anak-anak muda untuk merekam apa yang terjadi di sebuah halte selama 24 jam penuh . Mereka meletakkan kamera di satu tempat yang tidak boleh bergeser sedikit pun . Intinya, bagaimana kamera diperlukan seperti tubuh,mata,dan telinga.

Dari aktivitas seperti itu, lahirlah anak-anak muda yang memiliki keterampilan membuat riset , karya jurnalistik, film, teater, seni jalanan, dan sebagainya. Pengetahuan dan keterampilan baru itu lalu mereka gunakan untuk membuat karya dan memberi advokasi terkait persoalan-persoalan lokal.” Dengan membuat karya kritis , mereka bisa berdialog dengan pemerintah setempat. Sebelumnya, mereka tidak diperhitungkan ,”

Setiap aktivitas atau program diasrsip secara rapi dalam bentuk buku, foto, atau film. Ada puluhan buku dan film yang telah dihasikan Forum Lenteng. Buku-buku itu disebar secara gratis . Sementara itu, film mereka di putar di “bioskop-bioskop” mini yang didirikan jaringan Forum Lenteng di sejumlah daerah. Dengan begitu , pengetahuan yang terekam dalam buku dan film tersebar luas.

 

Aktivis

Hafiz memiliki akar cukup panjang sebagai aktivis. Saat kuliah di Jurusan Seni Murni Institut Kesenian Jakarta pada 1990-1994 , ia membuat media kampus . Selain itu, ia mengelola komunitas film serta aktif bermain  teater dan musik. Setelah lulus dan bekerja , ia tetap aktif di teater , komunitas  seni dan kelompok diskusi.

Ia juga berjejaring dengan para wartawan dan aktivis lain. Bersama mereka , Hafiz membentuk media indikator. Ia kebagian tugas menulis seni dan film.”Dari situ saya mengeti bagaimana kerja media, politik media, hingga persoalan teknis, seperti distribusi.”

Setelah gerakan reformasi pecah,ia kehilangan pekerjaan. Hasiz pun menenggelamkan dirinya di kelompok diskusi seniman. Dari sana, mereka berpikir untuk membentuk ruang ekspresi berbasis proses kerja bagi anak muda. Maka, berdidirlan komunitas Ruang Rupa pada 2000 di Jakarta.”Karena saya masih menganggur , saya ditunjuk jadi direktur.”

Setelah menikah pada 2003 dengan Otty Widasari, ia mundur sebagai Direktur Ruang Rupa . “Saya mesti mencari uang untuk menghidupi keluarga,” katanya jujur.

Meski begitu, ia tetap menyempatkan untuk beraktivitas dan berdiskusi . Kebetulan ia tinggal di Lenteng Agung,Jakarta Selatan. Bersama Otty dan beberapa seniman lain, ia mendirikan Forum Lenteng pada 2003.

Awalnya, anggota Forum Lenteng terdiri atas para mahasiwsa di Jakarta . Seiring waktu, Forum Lenteng dikelola oleh 18 orang itu membuat jaringan dan mendorong lahirnya beberapa komunitas di daerah , seperti Gubuak Kopi (Solok), Pasir Putih Lombok, Saidjah, dan Jurnalis Warga Yoikatra.

Untuk menandai kegiatan komunitas , Forum Lenteng mengandalkan dana dari donatur .” Secara ekonomi , saya tidak dapat apa-apa dari Forum Lenteng . Jadi superstar pun tidak. Saya sendiri menghidupi keluarga dari pekerjaan saya sebagai kurator dan  konsultan ,” tuturnya.
Namun , lanjut Hafiz , ia dan teman-temannya senang menularkan pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki kepada anak-anak muda .”Mereka sekarang saling terhubung , dan itulah seharusnya Indonesia.”

 

HAFIZ  RANCAJALE

Lahir : Pekanbaru, 4 Juni 1971

  • Istri : Otty Widasari
  • Anak : Bodas Rancajale
  • Pendidikan : Jurusan Seni Murni Institut Kesenian Jakarta , 1990 – 1994
  • Kegiatan :
    – Pendiri Forum Lenteng
    – Inisator ARKIPEL Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival
  • Penghargaan :
    – Piala Citra Film Pendek Terbaik Pilihan Juri untuk film “Alam; Syuhada”, 2005
    – Film Dokumenter Panjang Terbaik Festival Film Dokumenter Yogyakarta untuk film “Anak Sabiran : Di Balik Cahaya Gemerlapan ,” 2013


Sumber : Kompas, Sabtu 14 Januari 2017