Ketika franchisee happy, mereka menjadi brand ambassador yang merekomendasikan bisnis franchisor pun happy. Bagaimana cara membuat franchisee happy.
Penulis : Zaziri
Laporan : Julha Sifadi dan Alvin Pratama
Harus diakui, tidak mudah membuat franchisee happy. Namun begitu mereka happy maka is tidak segan-segan untuk merekomendasikan merek franchisenya apabila terjadi sesuatu pada merek bisnisnya. Sebab mereka sudah merasa bagian dari keluarga bisnis franchise tersebut. Karena itu sudah tugas franchisor untuk membuat para franchiseenya happy.
Yuswohady, Pengamat dari Inventure menyarankan agar franchisee dan francisor saling bergandengan untuk membuat franchisee happy. “karena yang palingmengerti pasar kan franchisee karena dialah yang langsung bersentuhan langsung dengan pelanggan. Sementara yang mengembangkan produk adlah franchisor. Proses pasarnya disarankan oleh franchisee dan strategi pemsarannya dikembangkan oleh franchisor” , jelasnya.
“Tetapi yang banyak terjadi saat ini seperti kebanyakn saya lihat adalah hubungan antara franchisee dan franchisor hubung transaksional. Harusnya hubungan keduanya hubungan bisnis bagaimana mengembangkan merek, yang satu bagaimana mengembangkan bisnis. Harus bersama-sama. Tidak boleh saling menyalhkan akhirnya tidak trust . pada akhirnya mereknya bukan tambah kuat tetapi malah tidak terurus,” sambungnya.
Yuswohady mencontohkan franchisor TX Travel yang melakukan pendekatan baik kepada para franchiseenya. Menurut dia, untuk mensukseskan franchiseenyaTX Travel menfasilitasi berbagai kegiatan bisnisnya. “Jadi mereka (franchisee) pada loyal ke franchisor,” katanya.
Franchisor, tegas dia, harus bisa membangun mensukseskan franchisee, maka franchisee juga akan bercerita kepada yang lain. Tetapu banyka yang terjadi adalah franchisee yang bercerfita jelek ke yang lain karena diperlakukan tidak baik oleh franchisor bahkan mereka melarang untuk memilih suatu merek.
Intinya, kata dia lagi, franchisee dan franchisor itu harus saling mengisi. Franchisee memberi input terkait strategi pasar dan franchisor mengembangkan produknya. “Inputan strategi ini datangnya harus dari franchisee. Olehnya itu tidak bisa franchisee hanya modal duit tetapi harus memiliki penetahuan soal ini,”katanya.
Berbeda dengan Indomaret, ujar Yuswohady, karena Indomaret itu murni standarisasi di mana franchisee tidak perlu ikut-ikut. Tetapi misal restoran, atau pendidikan maka pola seperti Indomaret ini tidka bisa diterapkan. “Karena Indomaret ini simpel, hanya toko dan cukup menempatkan dua orang pegaiwainya disana,” tuturnya.
“Coba kita lihat McDonalds, disini yang paling banyak berperan untuk mengembangkan strategi pemasarannya adalah Sosro. Dan franchisor Amerika tidak mungkin ikut-ikutan karena yang lebih memahami pasar di sini adlah McDonalds di Indonesia,” tegasnya.
Tetapi dari sekian banyak pola itu, kata dia, yang paling ideal adalah kolaborasi. Jadi tidak murni seperti Indomaret. “Tetapi adalah kolaborasi antara franchisee dan franchisor.”idealnya adalah franchisee ini harus punya passion dan dia harus memahami bisnis itu,”ujarnya.
Walau demikian, bukan berarti SOP tidak penting.” Itu penting tetapi yang paling penting adalah strategi. Diatas SOP adalah strategi yang disusun itu awalnya disusun dari pasar. Yang mengetahui pasar ini adalah franchisee karena langsung berhadapan dengan pelanggan,”kata Yuswohady.
SOP itu menurut dia bagian kecil dari strategi. Misalnya strategi pemasaran kan tidak bisa di SOP kan tetapi misal service, menu, itu tidak bisa disamakan. “Namun stretegi pemsaran dan strategi bisnis tidak bisa distandarisasikan. Karena jika itu distandrisasikan maka kompeter mudah menirunya,” bebernya.
Utomo Njoto, Konsultan dari FT Consulting mengatakan, franchisee yang berhasil cenderung mengikuti SOP dan mengikuti training, serta ditambah dengan seleksi SDM dan supervisi di lapangan. Tapi lebih dari itu, kata Utomo, komunikasi dengan franchisor; dengan syarat francisornya memang kompeten, seleksi SDM yang benar, dan Training yang diberikan franchisor secara komprehensif, merupakan faktor utama keberhasilan franchisee.
Sementara itu, CEO Buzz n Co, Sumardi berpandangan, keberhasilannya franchisee dalam bisnisnya ditentukan oleh seberapajauh mereka memahami bisnisnya dengan baik, memahami isndutri dan kompetisinya dengan jelas sehingga dapat menerjemahkan brand dan sistem yang bagus dalam konteks operasional sehari-hari.
Sumber: Franchise. Juni 2017. Hal.86

