2. Belajar Hospital Tourism di Fuda Cancer Hospital Guangzhou, Tiongkok. Jawa Pos.23 Agustus 2014.Hal.1,19

Vonis kanker stadium empat membuat sebagian pasien di Fuda Cancer Hospital Guangzhou seperti tidak punya harapan hidup lagi . Tapi , sebagian lainnya tetap terus berjuang melawan penyakit ganas itu . Tak sedikit yang akhirnya sembuh total . SITI AISYAH , Guangzhou WAJAH Hardi Mustakim Tjiong tam pak berseri – seri . Senyumnya terus mengembang kepada pembesuknya . Jika Hardi tak memakai baju rumah sakit ( RS ) dan tidak terlihat infus yang tertancap di tangan kanannya , orang bakal mengira pria 69 tahun itu baik baik saja.

Bersemangat setelah mendengar suara cucu harus hendak, penyakitnya bisa kambuh

Padahal , dia penderita kanker hati stadium empat . Hanya , dia kini merupakan survivor kanker yang berhasil bertahan dan mendekati sembuh . ” Kalau sedang tidak diinfus , biasanya saya pakai jalan – jalan , ” ujar Hardi , pasien asal Indonesia , ketika ditemui Jawa Pos di ruang perawatannya di lantai 4 Fuda Cancer Hospital Guangzhou , Tiongkok , Sabtu pekan lalu ( 16/8 ) .

Di rumah sakit khusus kanker itu terdapat pasien dari berbagai negara . Salah satunya dari Indonesia . Bahkan , pasien dari Indonesia terbilang paling banyak di antara pasien dari negara lain . Dalam setahun rata – rata ada 300-500 pasien dari Indonesia yang menjalani pengobatan di RS yang memberikan layanan.

Hardi adalah salah seorang pasien yang Idni menjalani pengobatan intensif di Fuda Mengenakan apron antiradiasi , Hardi bercerita bahwa sebelumnya dirinya tidak pernah sakit parah . Sampai pada awal 2003 dia di- diagnosis menderita hepatitis C yang meng- akibatkan sirosis atau pengerasan hati . Namun , dengan pengobatan teratur , sirosis yang dia derita berhasil disembuhkan .

Kondisi Hardi benar – benar sehat sampai awal Juni 2010 tiba – tiba dadanya sesak . Tak mau mengambil risiko , Hardi langsung pergi ke dokter untuk memeriksakan diri . Awalnya dia hanya di – USG ( ultrasonografi ) . Hasilnya . diketahui ada benjolan di area livernya . Tak puas , bapak tiga anak itu akhirnya mela kukan CT – scan . Hasilnya serupa , ada benjolan sebesar kurang lebih 10 sentimeter di livernya yang menekan paru – paru . Karena itulah , dia kerap merasa sesak . Salah seorang dokter yang memeriksanya menjelaskan bahwa pasien hepatitis C , meski sudah sembuh , harus menjaga pola makan dengan disiplin . dan berkembang menjadi kanker hati sepuluh tahun kemudian . ” Mendengar penjelasan seperti itu , saya langsung shock ” ungkap suami Maria Murniati tersebut .

Hardi lantas mencari second opinion dari dokter lain , namun hasilnya sama . Bahkan , yang menambah kaget . seorang doktery yang memeriksanya menyatakan bahwa kanker yang diderita Hardi sudah masuk stadium 4B . Harapan kesembuhannya sangat tipis . Hanya mukjizat yang bisa membuatnya sembuh .

” Saya divonis hanya mampu bertahan enam hati stadium 4B . Masih tahun 2010 tambah.

Tapi , vonis dokter tersebut tak lantas membuat Hardi terpuruk . Dia tetap bersemangat men- jalani hidup . Bagi dia semangat merupakan 30 persen modal untuk bisa sembuh . Bersama anak – anaknya . Hardi lalu mencari RS yang bisa menyembuhkan kankemya . Baik itu lewat in- formasi dari kenalan maupun internet . Fasil- nya , Hardi dan keluarga memutuskan untuk melakukan pengobatan di Fuda Cancer Hos rusak pital . Sebab , di RS tersebut pengobatan kanker bisa dilakukan tanpa operasi .

Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan , tim dokter di Fuda juga menyatakan bahwa kanker yang diderita Hardi sudah masuk stadium 4B Namun kanker itu belum menyebar Selama 2010 dia menjalani lima kali i cryosurgery dan tujuh kali kemoterapi dengan metode TACE di Fuda .

 Cryosurgery adalah metode untuk mematikan sel kanker dengan mendinginkannya , kemudian memanaskannya sehingga sel kanker dan menyusut . Sedangkan metode TACE merupakan kemoterapi yango gobatnya diberikan di area kanker saja dengan dosis lebih besar Hasilnya , kesembuhan lebih cepat dengan efek samping lebih ringan.

Akhir 2010 Hardi dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang ke Indonesia . Dalam dua kali pemeriksaan rutin pada 2011 dan 2012 pun , tidak ditemuka tidak ditemukan sel kanker di tubuh Hardi . Dia begitu lega .

Tapi , pada 2013 Hardi kembali shock . Pasal- nya ditemukan titik kanker baru di livefnya . Sel kanker tersebut ditemukan secara tidak sengaja . Saat itu Hardi mengikuti kegiatan pe ngobatan dan pemeriksaan kesehatan yang diselenggarakan sebuah lembaga . Tak diduga , hasil pemeriksaan tersebut mengindikasikan sebuah titik yang bergerak . Setelah diteliti lebih jauh , itu ternyata sel kanker baru yang tumbuh lagi . Maka , pada akhir Desember 2013 Hardi kembali berobat ke Fuda di Guangzhou . Dia melakukan cryosurgery satu kali di RS internasional tersebut . Seminggu kemudian dia pulang ke Jakarta.

Terakhir , Sabtu pekan lalu bapak murah se nyum itu datang untuk melakukan seed knife therapy . Yaitu terapi dengan menanam pisau halus yang berupa biji radioaktif iodine 125 di area sel kanker . Tubuh Hardi akan n mengeluar- kan n radiasi selama kurang lebih 59 hari . Karena iga itulah , dia harus memakai apron ke mana – mana Dia agar orang yang berada di dekatnya tetap 8 dung dari radiasi yang dipancarkan tubuhnya .

Saking seringnya berobat ke Fuda kenal dengan banyak dokter dan perawat Pribadinya yang ramah hjuga membuatnya cepat in pasien lain . Kini , saat berobat . Har di pergi sendiri tanpa didampingi keluarga .

Di Fuda Hospital Hardi juga dikenal karena kemurahan hatinya membantu pasien lain . Dia memiliki keahlian bahasa Mandarin . Maka saat staf penerjemah Mandarin – Indonesia di RS itu sudah pulang atau libur , Hardi dengan mau menjadi penerjemah bagi pasien Indonesia dan dokter atau perawat setempat .

Pasien lain yang tak kalah Brahmana Silalahi , 67. Dia adalah mantan pejabat Pertamina yang divonis menderita kanker prostat pada 2009. Awalnya dia mengeluh saat buang air kecil . Badannya lemas dan sering berkeringat . Bahkan beberapa kali kencingnya mengeluarkan darah .

Semula Brahmana berobat di sebuah RS swasta di Jakarta . Namun , dokter yang mera- ngani terkesan menggampangkan keluhan Saking seringnya ke Fuda , Hardi akrab dengan dan masuk kategori ganas turuti Brahmana . Kata dokter , hanya dengan mema sang kateter di saluran kencing , penyakit Brah mana sudah bisa sembuh .

Tak puas dengan tindakan dokter RS itu , Brahmana kembali memeriksakan keluhannya di RS di Singapura . Dari situlah penyakitnya diketahui , yakni kanker prostat stadium tiga.

Brahmana kaget bukan kepalang ketika divonis terkena kanker ganas . Dia langsung memutuskan pulang . Ayah seorang anak ter sebut lalu bersiap menjalani pengobatan lebih lanjut . Namun , sebelum itu , selama se tahun dia bertekad menyelesaikan hal – hal yang menurut dia harus dituntaskan . Di anta ranya menikahkan putri semata wayangnya serta menyelesaikan utang piutangnya . ” Alham dulillah , semua bisa selesai dalam setahun . ” ujar konsultan perminyakan tersebut .

Brahmana lalu berobat selama 1,5 tahun di Singapura . Pada awal 2011 dia dinyatakan sem buh . Dia kemudian mulai sibuk dengan akti vitas seperti biasa . Namun , pada fuli 2011 dia kembali merasakan sakit , tapi pada tulang . tulang tubuhnya . Maka , dia pun pergi lagi ke Singapura untuk memeriksakan diri . Hasilnya , dokter menyatakan bahwa kanker yang diderita Brahmana ternyata telah menyebar dan sudah masuk stadium empat . Dia harus menjalani kemoterapi , tapi memilih pulang .

Di tengah kegalauan Brahmana mencari pe ngobatan , Menteri BUMN Dahlan Iskan yang pemah menjalani operasi ganti hati di RS Tian jin , Tiongkok , lalu menyarankan dia berobat ke Negeri Panda itu . Saran tersebut dan pilihannya jatuh ke Puda Cancer Hospital . ” Saya percaya kepada Pak Dahlan , ” ujarnya .

Di Fuda Brahmana melakukan positron emission tomography ( PET ) scan . Hasilnya , kanker di tubuhnya telah menyebar ke iga , leher , tulang panggul , dan tulang belakang . 8 kali TACE . ” Pada 2012 saya kembali dinyatakan ujar suami Hariana Brahmana itu .

Namun , kesembuhan tersebut tak berlangsung lama . Pada akhir 2013 kankemya kembali mun cul dit tempat yang sama , termasuk di prostat . Kini Brahmana kembali ke Puda Cancer Hos pital . Dia menjalani imunoterapi untuk me . ningkatkan sistem kekebalan tubuhnya . Dia juga berencana menjalani terapi stem cell .

Selama Brahmana sakit keluarga menjadi penyokong utama semangatnya melawan penyakit ganas itu . Sang istri dengan setia terus mendampingi . Suara dari cucu saat ditelepon juga membuatnya kian bersemangat untuk kembali sehat .

Brahmana mengakui , saat divonis menderita kanker ganas , dirinya sempat benar – benar down . Namun , hal itu tak berlangsung lama . Dia kini sudah bisa melupakan penyakitnya tersebut dan justru sering membagi pengalamannya menjadi pasten kanker kepada pasien – pasien lain . Banyak pasien yang datang ke rumahnya untuk bertanya seputar pengobatannya . ” Saya selalu terbuka untuk sharing agar bisa mem bantu pasien lain , ” pungkasnya . ( * / c9 / ari )

 

Sumber: Jawa-Pos.23-Agustus-2014