Indonesia bakal menjadi pemain utama ekonomi Asia dalam beberapa tahun mendatang. Syaratnya, segala potensi yang ada bisa dimaksimalkan dan sejumlah persoalan yang mengganjal diselesaikan.
KRT Hariyadi Budisantoso yang akrab disapa Hariyadi B. Sumkandani yakin Indonesia akan menjadi salah satu pemimpin bidang perekonomian Asia.
Sinkronisasi Birokrasi dan Pelaku Usaha
PARIWISATA
Putra keempat pendiri Group Sahid Sukamdani Sahid Gitosardjono itu menilai hal tersebut bisa diraih jika mulai tahun ini segala persoalan yang ada benar-benar dituntaskan.
Hariyadi yang kini dipercaya memimpin jaringan propergi Grup Sahid sekaligus ketua umum Asosiasi Pengusaha Indoesia (Apindo)mengajak semua pihak menyadari betapa terbukanya peluang Indonesia menjadi negara besar. Modalnya sudah sangat nyata telihat.
“Sebagai pimpinan organisasi pengusaha maupun sebagai pengusaha, saya lihat Indonesia punya potensi besar menjadi pemimpin Asia, paling tidak ASEAN,” ungkapnya ketika berbincang dengan Jawa Pos di Hotel Trans Luxury Bandung.
Pertama, Indonesia mulai menegakkan berbagai aturan positif mengenai transparansi serta mengedepankan perimbangan antara hak dan kewajiban. Perusahaan-perusahaan juga meningkatkan prinsip kata kelola yang baik (GCG). “Itu sudah jalan. Karena kita memilih jalan demokratisasi secara penuh,” ucap pria kelahirn Jakarta, 4 Februari 1965, tersebut.
Kedua, masyaralat Indonesia dinilai luar biasa dewasa menghadapi perubahan. Juga tidak gagap menghadapi guduhnya politik, tidak serta-merta panic yang malah bisa membuat situasi tidak karuan, “Bandingkan, misalnya, dengan negara-negara lain yang punya problem macam-macam rakyatnya ikut bergejolak. Kita tidak,” ujarnya.
Ketiga dana untuk pendidikan yang mencapai 20 persen dari total anggaran tahunan total kementerian merupakan modal kuat untuk menelurkan sumber daya manusia (SDM) mumpuni di masa mendatang. Tinggal mengelolanya harus lebih baik.
Potensi keempat, bonus demografi. Populasi sekitar 250 juta orang itu bukan pasar yang kecil. Terbesar di ASEAN. Lalu kelima, potensi alam yang belum tergarap dengan optimal. “Kita punya bebagai macam, mulai yang sifatnya extracting atau yang sifatnya tinggal mengeruk saja sampai yang terbarukan. Semua ada,” papar alumnus Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo itu.
Sector pariwisata termasuk sumber daya alam (SDA) sangat potensial yang belum tergarap dengan baik itu. Indonesia memiliki variasi destinasi wisata yang tidak dimiliki negara kawasan ASEAN lainnya. Begitu pula SDA yang ada di bawah sector maritim. Potensi keenam ada pada perusahaan-perusahaan dalam negeri. Seluruhnya masih punya peluang besar untuk berkembang di sector masing-masing.
Dengan berbagai potensi tersebut, tidak sulit bagi Indonesia mewujudkan sebagai negara dengan perekonomian kuat dan salah satupaling berpengaruh secara global. Itu bisa diraih setidaknya dalam satu decade dari sekarang atau pada 2025 asalkan berbagai persoalan yang ada bisa diselesaikan. Antara lain, kata dia, memaksimalkan system demokrasi.
Kebijakan fiscal juga perlu diciptakan secara mendalam. Terkait kebijakan moneter, termasuk di dalamnya perpajakan. “Yang kita pandang aturan perpajakan itu lebih pada fungsinya sebagai anggaran. Karena pajak itu kan ada fungsi sebagai anggaran juga sebagai stimulus. Nah, yang anggaran itu yang kita punya masalh,” ujarnya.
Selebihnya tinggal memperkuat basis ekspor dan mengurangi impor dengan menyediakan berbagai kebutuhan yang selama ini diimpor agar bisa tersedia di dalam negeri. Salah satu caranya adaah melakukan program hilirisasi.
Ketika itu semua teratasi, Indonesia bisa lepas landas ke level lebih tinggi. Dengan asumsi semua berjalan baik, sector manufaktur akan tumbuh. Begitu pula sector pariwisata. Dia yakin pariwisata masuk tiga besar sebagai penyumbang devisa negara dan tiga besar sebagai contributor pertumbuhan ekonomi. “Karena kita masih punya ruang sangat luas,” kat dia meyakinkan.
Hariyadi tidak melihat satu pun sector di Indonesia yang akan melemah. Tidak ada sector lain atau sector baru yang hadir yang akan melemahkan sector lain. Sebab, semua masih memiliki potensi untuk tumbuh. Yang terpenting, terus melakukan inovasi dan meningkatkan kualitas. Sebab, dia yakin akan terjadi perubahan sangat signifikan dari bisnis model di Indonesia sejalan dengan perubahan perilaku konsumen.
JUMAT 8 JANUARI 2016

