Oleh Dewa Gde Satrya

MENYINGKAPI pembatalan penerbangan maskapai sejumlah maskapai akibat letusan Gunung Agung, Menteri Pariwisata Arief Yahya telah meminta kebijakan khusus untuk wisatawan yang mengalami flight cancellation, rescheduling, dan re-check in agar diberi tarif khusu, misalnya diskon up to 50 persen. Bukan hanya kebijakan khusus dari maskapai, juga dalam pengurusan visa. Lankah yang diambil sudah tepat meski rasa kecewa dan frustasi di benak wisatawan tak dapat dielakan.

Indonesia berpengalaman mengelola krisi serupa pada masa sebelumnya. Upaya Kemenpar dalam Gunung Raung beberapa tahun lalu patut diapresiasi. Kemenpar telah menyusun standard operating procedure (SOP) pengalihan moda transportasi yang lebih aman bagi wisatawan. Bagi wisatawan mancanegara yang “teperangkap” di Bali, Kemenpar menawarkan dua ahl. Pertama, extension program berupa wisata overland ke Banyaungi atau ke Gili Trawangan di Lombok, NTB. Kedua, bebas biaya kamar horel sebagai kompensasi perpanjangan lama tinggal.

Krisis terlanjur kita pahami sebagai sesuatu yang tidak mengenakkan. Ban Indonesia Kantor Perwakilan Denpasar menghitung kerugian industri pariwisata dampak penutupan Bnadara Ngurah Rai selama tiga hari yang lalu sebesar Rp 209 miliar. Itu berdasara penghitungan 44.000 turis mancanegara yang batal datang dengan rata-rata belanja sekitar Rp 1.3 juta per hari per orang selama rata-rata tinggal tiga hari di Bali. Angka tersebut ditambah penghitungan batalnya kedatangan turis domestik sekitar 44.000 orang dengan potensi belanja berkisar Rp 520.000 per hari per orang orang selama dua hari. Itu belum termasuk dari kerugian sekitar Rp 11,5 miliar dari pemabatalan 11.031 kamar di 44 hotel dan vila.

Rhenald Kasali (2009:35-36) menyatakan, krsi mengundang kesempatan dan harapan, yaitu kesempatan dan harapan, yaitu kesempatan untuk tampil lebih baik, untuk merebut garis depan, untuk mengalahkan orang-orang/perusahaan yang lemah. Setiap kali krisis, selalu diikuti lima hal ini. (1) Gabung, an dari bencana dan kesemoatan. (2) Menghancurkan sekaligus menimbulkan pasar-pasar baru. (3) Alat bagi Yang Mahakuasa untuk menghancurkan keangkuhan yang tampak dari begitu kuatnya resistansi-resistansi yang dilakukan manusia terhadapa gagasan-gagasan erubahan. (4) Titik belok yang krusial, berbahaya kalau digas, sehingga diperlukan kehati-hatian dan ketepatan. Tapi, begitu berhasil melewati jalan berbelok, banyak peluang terbuka lebar. (5) Terhadap peringatan akan datangnya krisis, belum tentu peringatan itu berakibat krisis.

Karena itu, krisis harus dipahami dari kacamata yang kontradiktif. Krisis adalah peringatan yang bisa berakibat fatal kalu Anda tidak merespon dengan cepat dan bijak.

Wisatawan Unggul

Bencana alam seperti erupsi Gunung Agung sepantasnya tidak hanya dilihat dari sisi negatif. Aspek negatif selalu mengasosiasikan dengan kerugian materiil dan nonmateriil. Rasa frustasi pasti ada, bahkan (berkaca pada erupsi Gunung Raung) imbas kerugian dari pariwisata alam itu amat dirasakan wisatawan,pengelola bandara, dan maskapai penerbangan Citilink, misalnya dikabarkan menanggung kerugiann Rp 5 miliar.

Namun, keselarasan dan harmoni alam semseta serta manusia sebagai bagian dari filosofi Tri Hita Karana menjadi keniscayaan untuk menggali kebaikan dari erupsi Gunung Agung. Karena itu, gagasan Rhenald Kasali perihal krisis di atas memiliki irisan yang tepat manakala dikaitkan dengan profil wisatawan unggilan yang dibutuhkan. Bali khusunya dan Indonesia umunya.

Pesan dan sinyal itu sebenarnya mulai terang benderang saat kunjungan kburan manatn Presiden AS Barack Obama di Bali beberapa waktu lalu. Obama yang memilih Ubud sebagai pusat liburannya mengingatkan kembali akan cita rasa berwisata yang substantif untuk kesegaran jiwa sebagu dmapak keserasian dengan ketenangan alam interaksi dengan kebudayaan. Inilah “pet jalan” seseorang menjadi manusia unggul melalu aktivitas traveling.

Kehadiran Obama mengingatkan pula kehadiran manusia –manusia di masa lampau yang karyanya semasa hidupnya masih diapresisasi hingga sekarang. Walter Spies (Jerman), Rudolf Bonnet (Berlanda), Antonio Blanco (Italia), dan Aris Smith (AS), atas undangan Raja Ubud Tjokorda Sukawati, berinetraksi dan berkarya di Ubud. Bahkan, karya-karya abadi mereka juga berasi dengan totalitas hidup mereka sempai wafat di sana. Di Ubud pula ajang senu udaya mengarahkan emebtukan manusia-mausia unggul. Di antaranya Ubud Writers &Readers Festival, Bali Institute dor Renewal (Gloal Healing Conference), Bali Spriti Festival, dan Humanitad Foundation.

Kehadiran Obama di Ubud dapat dimaklumi manakal melihat jejak orang-orang tersohor dunia lainnya yang pernah singgah di sana. Beberapa tahun lalu Philip Kotler juga datang ke Ubud, bahkan sambutan istimewa melalui kehadiran Museum Marketing 3.0. mereka itulah yang akan menjadi “penyeimbang” profil wisatawan asiang di Bali.

Kita meyakini, wistawan yang paham dengan fenomena alam ini akan bijak menyingkapi flight cancellation, rescheduling, dan sebagainya. Kepada merekalah turisme Indonesia dapat diandalakan. Mereka tidak mudah “termakan isu” atau hoax, samrt, bijaksana, dan loyal. Mungkin erupsi Gunung Agung, salah satunya, akan mengahidrkan harmoni alam dan wisatawan Bali.(*)

*) Dosen Hotel &Tourism Business Universitas Ciputra Surabaya.

 

Sumber: Jawa-Pos.-6-Desember-2017.Hal_.4