16 Februari 2016. Harry Gunawan o tentang Pemerataan Pembangunan_Berikan Harapan kepada Tempat yang Sulit. Jawa Pos.16 Februari 2016. Hal.1,11

Seberat apa pun tantangan menuju negara dengan perekonomian maju, akan selalu ada ruang untutk menggapainya. Kunci utamanya adalah pembangunan infrastruktur sebagai gerbang pembuka pertumbuhan bersama.

Pemilik sekaligus Presiden Direktur PT Kencana Graha Global Harry Gunawan Ho teringat Tiongkok sekitar awal dekade 1990-an. Kala itu perekonomian negara tersebut belum diperhitungkan.

Di kota sekelas Guangzhou saja, jalanan masih relatif sempit. Penuh dengan pengguna jalan yang bersepeda kayuh.

“Kalau kita buka lampu, mereka marah. Silau,” tutur dia saat berbincang dengan Jawa Pos di kantornya, kawasan M.H. Thamrin, Jakarta, Senin (15/2).

Namun, coba lihat Tiongkok hari ini seperti apa. Jalannya saja bahkan sudah sampai tingkat empat. Industri dibangun sedemikian pesat. Tentu saja karena regulasinya menopang kuat. Segala hal yang pada zaman sebelumnya masih dikekang, bahkan diikat, kemudian dilepaskan.

Dari gambaran kebangkitan Tiongkok itu, tambah Harry, banyak hal bisa dipelajari Indonesia. Antara lain, upaya tumbuh mesti dilakukan secara bersama serta saling mendukung antara pemerintah, korporasi, dan pelaku usaha menengah sampai kecil.

Banyak potensi besar yang belum dimaksimalkan di Indonesia. Mulai saat ini sudah harus diupayakan. Harry melihat, pemerintah sedang berupaya kearah itu. Terutama melalui rencana pembangunan infrastruktur, baik jalan, pelabuhan, bandara, maupun fasilitas pendukung lainnya.

Memang tidak ada salahnya meniru langkah positif orang lain. Ada pepatah jika dalam bahasa Indonesia berbunyi, “Belajarlah dari kesalahan orang lain dan mengikuti orang benar.” “Belajar dari kesalahan orang lain itu filosofi China. Kalau mengikuti orang benar atau saleh kan memang di semua kitab agama juga diajarkan,” ulasnya.

Seperti contoh di Tiongkok pda masa lampau, di Indonesia banyak daerah potensial yang belum tersentuh infrastruktur layak. Padahal, di dalamnya banyak sumber pendapatan baik dari sisi pariwisata maupun hasl alam, terutama pertanian.

Kalau ada Bandar internasional, lanjut Harry, pasar global bakal memperhiungkan. Investor akan masuk. Dia mengambil Belitung, seandainya aksesnya dibuka dengan membangun bandara internasional, hotel bintang lima akan masuk. Wisatawan asing akan semakin ramai. Karena wisatawan asing itu lebih memilih akses langsung.

Hasil alam dibanyak daerah Indonesia juga sama. Jagung bermutu, kelapa, ikan, dan komditas yang dibutuhkan pasar dalam negeri aupun mencanegara pada akhirnya hanya berputar di situ-situ saja. ”Karena tidak ada yang collect. Sebab, bingung mau ke mana karena kasesnya susah dan mahal,” papar pengembang sejumlah proyek property prestisius di Jakarta seperti Senayan City tersebut.

Harry yakin, saat mendapat dukungan infrastruktur, semua daerah potensial itu akan berkontribusi besar terhadap kekuatan perekonomian Indonesia. Potensi yang selama ini seolah-olah terikat akan mencuat. Kemudian bisa berkompetisi dengan daerah lain yang sudah lebih tersentu pembangunan.

Jika itu terjadi, pertumbuhan perekonomian tidak hanya ditiopang oleh sebagian dari negara ini. Seluruh daerah akan bergerak untuk turut berkontribusi dengan kekuatan dan kelebihan masing-masing.

Bahkan, daerah yang tidak memiliki sumber daya alam sebagai daya tarik atau daya jual saja, papar salah seorang pengusaha property berpengaruh di dalam negeri itu, tetap bisa berkontribusi maksimal. “Kita lihat, negara maju di dunia ini adalah negara yang tidak punya natural resources, Singapura, Taiwan, Jepan, atau Swiss. Taiwan yang mengimpor bahan baku, kemudian diolah, bisa hebat,” ungkap pria kelahiran Perbangan, Sumatera Utara, 4 Desember 1959, tersebut.

Tidak ada sedikit pun keraguan bahwa Indonesia akan menjadi salah satu negara dengan kekuatan eknomi besar di ASEAN maupun global pada masa mendatang. “Artinya, kita harus selalu memberikan harapan kepada tempat yang sulit. Sebab, di sana adalah tempat yang punya banyak mimpi. Kalau mereka punya kesempatan untuk berkembang, akan digunakan dengan baik,” ujar Harry.

Peluang serta dibukanya akses dan harapan di tempat yang saat ini masih sulit itu akan dimanfaatkan secara maksimal oleh individu, keluarga, komunitas, kota dan pada akhirnya menjadi energi positif bagi negara. “Tidak ada yang mustahil,” pesan dia. (gen/c11/sof)

Sumber: Jawa-Pos.16-Februari-2016.-Hal.111