
SURABAYA – Siiapa yang menyangka, dari sisa benang yang sering terbuang begitu saja, Karin Theodora Satyaputra bisa membuat perhiasan nan cantik. Mahasiswa program fashion design and business Universitas Ciputra tersebut mengumpulkan benang dari sisa bahan praktik di kampus maupun penjahit. Helaian sisa benang itu dijadikan “mata” cincin, anting, hingga kalung.
Prosesnya, benang-benang sisa disusun di atas polyner clay warna putih. Step itu cukup menantang. Karin menyusunnya hanya menggunakan tangan dengan bantuan pinset. “Bisa sampai dua hari untuk bikin satu set ini. Tengkuk sampai kram cerita perempuan kelahiran 10 Juni 1997 itu.
Setelah itu, benang dioven. Karin harus jeli saat memilah benang. “Beberapa kali eksperimen, ada yang gosong juga,” tambahnya.
Setelah “matang”, Karin membingkainya dengan tembaga gold plated 22 karat.tembaga dipilih agar harga penjualan tidak terlalu mahal. Karin menuturkan, desain perhiasannya itu berkiblat pada lukisan kontemporer. “Aku suka melihat lukisan kontemporer yang simpel, bunder-bunder, dan warna-warni,” ucapnya.
Untuk karya pertamanya itu, warna-warna cerah menjadi pilihan. Kuning, hijau, dan oranye. Untuk satu koleksi hanya ada sekitar lima set terdiri atas cincin, kalung, dan anting, Eksklusif. Sebab, bahannya bergantung pada jenis dan warna benang sisa yang terkumpul. (ama/c7/nor)
