Lika-liku perjalanan Helmi Nurjamil dalam merintis usaha budidaya dan olahan jamur bermerek Jamur Halwa hingga menghasilkan omzet miliaran rupiah.
Menjadi seorang pegawai negeri sipil (PNS) masih menjadi banyak orang. Selain menjanjikan kemapanan dan keamanan masa depan, menjadi abdi negara juga membuka peluang untuk bisa mendapatkan berbagai beasiswa bagi yang ingin melanjutkan kuliah. Namun kenyataannya, tetap saja ada orang yar nemilih untuk ke-luar dari zona nyaman tersebut. dan milih bertarung dalam kancah dunia bisnis.
Hal ini yang terjadi pada diri Helm Nurjamil, pria kelahiran Garut 32shun silam. Setelah sempat berkarier di Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) selama 9 tahun, Helmi memutuskan untuk mengundurkan diri dari status PNS. Dia kemudian fokus menjalani bisnis budidaya jamur.
Kini, pria yang bergelar Master Hukum dari Universitas Indonesia (UI) ini meraup omzet hingga Rp 1 miliar per bulan. Meski awalnya memilih karier sebagai PNS, ketertarikan Helmi terhadap dunia agribisnis sudah ada sejak ia berada di bangku kuliah. Saat kuliah hukum di Universitas Padjadjaran, ia sudah berminat pada budidaya ikan sidat. “Bisa dibilang hobi, ungkapnya.
Hobinya ini ia teruskan saat menjadi PNS di Jakarta. Sembari mengabdi kepada negara, Helmi punya sampingan menjalankan usaha budidaya ikan sidat di tahun 2011. Sayang, usaha ini hanya berjalan tidak sampai empat tahun.
Padahal, in mengaku sempat mengekspor ikan sidat ke Negeri Ginseng, Korea Selatan, di tahun 2014. Selain karena belum bisa membagi waktu, keputusan Helmi menghentikan usahanya karena kalah harga dibanding produk dari China.
Saat itu, Helmi sempat me mutuskan ingin kembali fokus berkarier di PNS. Namun, seiring dengan interaksinya yang cukup rutin dalam dunia usaha, walaupun bekerja di KPPU, panggilan hati untuk menggeluti usaha agribisnis tidak pernah hilang.
Bahkan, Helmi merasa dirinya lebih nyaman menjadi pengusaha daripada berprofesi sebagai PNS. Saking inginnya berbisnis, ia juga sempat bersama beberapa rekannya mencoba bisnis restoran di Jakarta. Namun, lagi-lagi usaha tersebut tidak berjalan mulus dan harus tutup saat masih berusia seumur jagung.
Sampai akhirnya di tahun 2018 ia berkenalan dengan budidaya jamur, khususnya ja mur tiram. la melihat bahwa budidaya jamur ini memiliki peluang usaha yang sangat menjanjikan. Alasannya, jamur bisa dipanen da lam hitungan hari. “Kan beda banget dengan ikan sidat yang masa panennya butuh dua tahun, ungkapnya.
Faktor lain yang menarik perhatian Helmi adalah jumlah petani budidaya jamur juga belum banyak. Jadi, masih ada ruang besar untuk memenuhi kebutuhan pasar terhadap jamur konsumsi.
Modal Rp 20 juta
Setelah mencari banyak informasi dari rekan yang lebih dulu tejun ke budidaya jamur, Bogor. Helmi juga memenuhi kebutuhan akan informasi lewat literatur dan internet. Namun, Helmi bilang, tetap saja yang pa ling dominan membantu adalah kehadiran seorang pembimbing yang sudah lebih dulu terjun di bisnis yang sama. Dengan modal Rp 20 juta hasil tabungannya, ia pun memutuskan terjun kembali ke kancah usaha agribisnis. Ia memulai dengan satu kumbung yang di dalam nya kurang lebih ada 5.000 bag log dan 10.000 bibit jamur tiram. Lokasi usahanya ada di kawasan Jambu Luwuk, Ciawi,
Ternyata langkah pertama Helmi mulai mendatangkan hasil. Ia juga membuktikan bahwa komoditas jamur ini memang bisa dipanen setiap hari.
Gambaran teknisnya, mulai dari memasukkan bibit di awal lalu ditunggu seminggu hingga dua minggu, maka setelah plastiknya dibuka bisa langsung di panen setiap hari. Jadi dicicil hingga sampai 120 hari.
Untuk pemasaran awal, produk jamur segar miliknya dijual ke produsen olahan jamur. Ia juga sempat iseng menjual ke pengepul namun harganya jatuh. “Ini yang menjadi kendala petani jamur umumnya,” ujar Helmi.
Sadar bahwa produk jamur segar memiliki keterbatasan ruang jual dan kendala kualitas yang tidak stabil, maka Helmi pun putar otak, bagaimana bisa membuat penjualannya lebih masif namun tetap dengan harga jual tinggi.
Akhirnya di tahun 2019, ia memutuskan untuk menggeluti olahan jamur. Dengan merek Jamur Halwa, ia mulai mengembangkan produk olahan jadi, mulai dari jamur krispi, nugget jamur, sate jamur, tepung jamur, hingga penyedap rasa.
Selain itu, ia juga memutuskan menggunakan limbah bekas seperti serutan kayu sebagai bag log media tanam jamur. Strategi ini terbukti bisa menekan biaya operasi onal produksi hingga 20%.
Apalagi, setelah baglog habis masa produksinya, baglog tersebut bisa di jadikan media tumbuh cacing dan pupuk tanaman. “Jadi tidak ada limbah yang terbuang,” papamnya.
Demi memastikan kualitas produk olahan jamurnya, Helmi juga mengurus perizinan ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Meski membutuhkan waktu yang tidak sebentar, Helmi meyakini izin produk hal mutlak yang wajib dimiliki untuk bisa bersaing.
Strategi pengembangan produk olahan menjadi langkah jitu baginya, ditambah dengan promosi besar-besaran lewat media online, seperti situs web, media sosial, hingga ikutan marketplace. Dengan branding yang tepat, produk Jamur Halwa mampu diterima oleh konsumen. Untuk mendukung pemasaran bisnisnya, ia membuat badan usaha dengan nama PT Halwafarm Indonesia.
Guna menggenjot pemasaran dan memperkenalkan produk Jamur Halwa, Helmi juga rajin mengikuti berbagai macam pameran, baik level lokal maupun nasional. Tak lupa, ia juga memanfaatkan jejaring kenalan yang sudah ia miliki selama berkarier di KPPU.
Setelah mampu memiliki kapasitas hingga 50.000 baglog atau sepuluh kali lipat dari awal memulai, maka di tahun 2020, Helmi memutuskan untuk mengundurkan diri dari KPPU alias meninggalkan statusnya sebagai PNS. “Alasannya sederhana, saya ingin memfokuskan pada bisnis yang memang menjadi passion,” tegasnya.
Helmi tidak ingin usaha bisnisnya yang sedang tumbuh berkembang malah mengganggu pengabdiannya sebagai PNS. Maka, ia harus memilih salah satu.
Langkah Helmi terbilang tepat. Dengan fokus yang ia miliki, saat ini industri Jamur Halwa mampu melakukan budidaya jamur terintegrasi dari hulu hingga ke hilir. Adapun komoditas yang dibudidayakan mulai dari bibit jamur, kultur jaringan, jamur segar, hingga hasil turunan dari jamur berupa tepung atau kaldu jamur.
Tahun ini juga ia sedang mengupayakan untuk ekspor tepung jamur ke Kanada dan Australia. Namun, ia harus mampu memenuhi kapasitas minimal 10 ton.
Saat ini, hitungan Helmi baru mencapai 60% dari total kapasitas minimal ekspor. Sehingga untuk memenuhi tingginya kebutuhan produksi, Helmi membuka kesempatan bermitra dengan petani jamur di sekitar Bogor. “Selain itu, para mitra nantinya akan mendapat pendampingan dalam budidaya jamur hingga proses pemasaran di Jamur Halwa,” ujarnya.
Dengan pencapaian saat ini, Helmi sudah mampu meraih omzet per bulan antara Rp 700 juta hingga Rp 1 miliar. Produk miliknya pun sudah bisa di nikmati di seantero Tanah Air.
Kini, perusahaannya sudah mempekerjakan sebanyak 50 orang. Helmi pun mengaku sudah memiliki tim manajemen terbaik yang berisi anak anak muda kreatif dan semangat, yang mau terus tumbuh dalam ide dan karya. Usahanya pun makin berkembang berkat anak-anak milenial yang memang paham betul perkem bangan dunia digital.
Masih punya PR
Meski sudah hampir 3 tahun menjalankan usaha budidaya jamur, Helmi masih menyimpan pekerjaan rumah (PR). Misal, ia masih mengalami masalah dengan hama, baik itu hama binatang maupun hama manusia.
Helmi bilang, kalau misalnya panen rata-rata 100 kilogram (kg)) kemudian hilang 5 kg, itu tidak terlalu kelihatan. Namun akan terasa ketika 5 kg ini di kalikan 120 hari masa panen produktif. “Baru lumayan besar,” ujarnya
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, la mengaku membuat pencatacut hasil panen yang menurutnya sangat berguna untuk meminimalisir akibat yang didimbulkan dari hama tersebut. Sehingga, ia bisa mengetahui jumlah panen yang diperoleh setiap hari.
Ke depannya, Helmi juga sedang mengembangkan aplikasi agar budidaya jamur bisa di pantau secara digital. Istilah nya go-digital. Jadi, ia ingin, dalam penghitungan kelembapan jamur, kondisi cuaca, dan jumlah panen bisa dilihat hanya dengan memantau handphone saja. Semoga bisa segera tercapai.
Pentingnya Peranan Mentor
Sukses yang didapat Helmi Nurjamil dalam merintis bisnis bu didaya jamur tidak lepas dari peranan mentor atau pembimbing bisnis. Kenapa mentor ini penting?
Sebab, tidak seluruh informasi yang didapat dari internet itu akurat. Belum lagi terkadang orang hanya menampakkan sisi indahnya saja, jarang yang mau membuka sisi gagal atau sisi pembelajarannya.
Maka itu, tetap perlu seorang mentor berpengalaman yang dapat membimbing jalanya sebuah usaha. Persoalannya, sebanyak 80% petani jamur berpengalaman berusia 50 tahun ke atas. Nah, mereka ini gagap dalam menggunakan internet, termasuk media sosial (medsos). Jadi sebagai generasi muda, Helmi pun mendatangi mereka langsung untuk belajar menuntut ilmu seputar budidaya jamur. Dari situlah ia banyak mendapat ilmu karena mereka bisa cerita banyak seputar budidaya jamur.
Sebagai timbal balik, Helmi dan rekan-rekanya mengupayakan membantu bagaimana produk petani senior ini bisa tetap laku. Makanya, mereka menggenjot produk olahan jamur. Sehingga ketika pasokan bahan baku jamur segar kurang, Helmi bisa membelinya dari para petani. “Pokoknya harus ada simbiosis mutualisme di antara kami, sesama petani jamur,” ujarnya.
Sumber: Kontan. 29 November-5 Desember 2021. Hal. 22,23

