Produksi melesat 12 kali lipat berkat pertanian vertikal dalam ruangan (indoor vertical farming)
Sekilas tidak ada yang istimewa dari rumah toko (ruko) berlantai empat itu. Namun, siapa sangka ruko di perumahan Gading Serpong, kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, itu memiliki kebun sayuran modern nan canggih. Tiga rak berisi aneka sayuran daun menjambut Trubus ketika berkunjung pada Januari 2021. Meski setiap rak berukuran 0,6 x 4 m, totaljenderal terdapat 5.100 llubang tanam.
Jika satu lubang menghasilkan 0,2 kg sayur daun, kapasitas tiga rak itu 1 ton sayuran segar per panen. Bagaimana mungkin kebun sayuran yang menempati area 24 m2 dalam ruko menghasilkan begitu banyak sayuran daun? Rahasianya 3 rak itu masing-masing bertingkat sembilan. Jarak antar tingkat sekitar 40 cm.
Itulah kebun sayuran milik perusahaan rinttisan (startup) bidang argiteknologi (agritech), Tunas Farm. Kebun sayuran dalam ruko itu disebut modern dan canggih lantaran menerapkan teknologi hidroponik mutakhir. Komsepnya pertanian dalam ruangan (indoor vertical farming).
Produksi meroket
Chieft executive officer (CEO) Tunas Farm, Widya Surya Prayoga, mengatakan, “kami dapat mengawasi sistem hidroponik menggunakan gawai.” Beberapa parameter pertumbuhan tanaman seperti kebutuhan nutrisi, cahaya, suhu, dan pH bekerja otomatis.saya menggunakan teknik nutrien film technique (NFT) sehingga aliran nutrisi dalam talang setebal 3-4 mm.
Penggunaan lampu light-emittting diodes (LED) khusus pengganti sinar matahari mutlak diperlukan karena instalasi hidroponik di dalam ruangan. Lampu itu terpasang di setiap tingkat. Durasi penyinaran tergantung dari komoditas yang ditanam. Direktur PT Agrafarm Sarana Exedis Indonesia, Yuslifar mengatakan, harus dipastikan betul spesifikasi lampu yang tertera sesuai dengan kebutuhan tanaman.
Banyak lampu yang memancarkan sinar ungu, merah, putih. Namun, mesti ada jaminan tanaman bisa tumbuh dan tidak memengaruhi sifat genetik tanaman. Menurut Yus jarak lampu dengan tanaman maksimal 50 cm sesuai jenis lampu dan tanaman serta produsen lampu. Lebih dari itu panjang gelombang dan daya sebar cahaya makin kecil.
Ia juga tengah merancang indoor vertical farming di area 3 x 4 m di Kota Bogor, Jawa Barat. Ada dua rak bertingkat 4 yang berisi sekitar 600 lubang dalam ruang sempit itu. “jika menggunakan NFT hanya hanya berisi 150 lubang tanam diluasan sama,” kata pria yang belajar indoor vertical farming di Dubai, Uni Emirat Arab, pada November 2020 itu, Yus mengandalkan teknik rakit apung dengan konsep pasang surut yang terbukti berhasil di Dubai.
Lebih lanjut ia mengatakan produktivitas indoor vertical farming 24 kg/ m2/ bulan. Badingkan dengan kapaisitas smart greenhouse 4 kg/ m2/ bulan dan teknik NFT 2 kg/ m2/ bulan. Menurut dosen Departemen Teknik Mesin dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Intitut Pertanian Bogor, Dr. Slamet Widodo, STp., M.Sc., istilah indoor vertical farming dan plant factory sama . “Saya lebih senang menyebutnya plant factory. Alasannya karena semua dikondisikan sama seperti pabrik yang memproduksi tanaman,” kata Slamet.
Komoditas premium
Pertanian vertikal dalam ruangan lebih baik daripada smart greenhouse karena hampir semua parametir bisa dikendalikan. Termasuk pengayaan karbondioksida yang mempercepat fotosintesis. “Yang utama soal cahaya. Kita bisa memesan lampu dari aspek kualitas (spektrum/panjang gelombang) hingga kuantitasnya (intennsitas dan durasi),” kata doktor alumnus Biosensing Engineering Laboratory, Kyoto Universiity, Jepang, itu.
Selain produksi sayur meroket, plant factory bisa dilakukan dimana saja termasuk di tengah kota. Jadi, produksi bisa langsung menjangkau konsuen tanpa transportasi panjang. Waktu pengiriman singkat sehingga kualitas sayuran terjaga. Yus optimis pertanian vertikal dalam ruangan rakitannya berkembang dimasa mendatang. “Kita bisa mengirimkan peti kemas berisi indoor vertical farming ke posko penampungan di daerah bencana sehingga para korban mendapatkan makanan yang lebih sehat dan berkualtas,” kata Yus.
Konsep pertanian itu juga bisa diterapkan dikawasan apartemen. Cukup gunakan satu atau beberapa unit apartemen sebagai plant factory untuk memasok sayuran segar berkualitas. Tunas Farm juga emmanfaatkan gedung terbengkalai seperti gudang untuk membangun konsep pertanian canggih itu. Dengan begitu biaya investasi dapat ditekan. Yus menghitung biaya pembuatan pertanian vertikal dalam ruangan dengan rak 8 tingkat Rp30 juta per m2.
Oleh sebab itulah, komoditas yang ditanam mesti bernilai ekonomi tinggi seperti herbs dan baby spinach. Surya menawarkan sistem sewa hingga 4 tahun bagi mitra kerja yang tertarik mengembangkan konsep itu. Setelah 4 tahun perngkat canggih itu menjadi milik mitra kerja. Sudah 2 orang yang tertarik dengan konsep pertanian Tunas Farm. Ia mengandalkan indoor vertical farming untuk memenuhi permintaan ekpor selada.
Sumber:Trubus, Februari 2021

