
Diluar cara – cara investasi yang biasa seperti membeli property, saham, ataupun komoditas, memberli barang – barang mewah juga bisa disebut investasi.
Menjadikan barang – barang mewah atau luxury goods sebagai bentuk investasi dilatarbelakangi asumsi bahwa barang – barang itu bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi di masa depan.
Bagi pencinta tas mewah seperti Hermes, Chanel, atau Louis Vuitton, barang yang dikoleksi itu tak sekedar aksesoris pelengkap penampilan atau cara untuk masuk dalam strata elite.
Di balik itu terdapat sebuah investasi dengan nilai yang tinggi. Salah satu contoh, Hermes Birkin dengan kulit buaya menjadi produk dengan harga jual tertinggi karena dilengkap dengan 200 butir berlian 8,2 karat.
Inestasi barang mewah juga dapat dikatakan sebagai investasi alternative dikatakan sebagai investasi alternatif dari investasi kovensional. Dengan kata lain, investasi tersebut menjadi langkah untuk mediversifikasi portofolio dan memitigasi resiko investasi.
Kendati demikian, investasidi barang mewah memiliki resiko yang tinggi. Pasalnya, bukan tidak mungkin harga barang jatuh ketika investor tidak bisa menemukan pembeli yang rela merogoh kocek lebih dalam. Prencana keuangan Tatadan Consulting Tejasari Asad menutukan bahwa perluang investasi barang mewah masih besar, apalagi pemain barang untuk investasi tersebut terbilang tidak banyak. Dia mengatakan keuntungan yang mewah bisa didapat dari investasi barang mewah bisa mencapai 10% hingga 30%. Namun, tidak ada investasi yang tidak memilii resiko, semakin besar keuntungan, makaresiko juga semakin tinggi. Menurutnya, investasi di barang merah juga memiliki resiko yang tinggi, sama halnya bermain investasi properti
“Konsekuensinya kita juga harus berhati – hati. Artinya mesti tahu banget trik triknya bagaimana menemukan pembeli, dan harus tahu pemeliharaannya seperti apa, karena unjung – ujungnya kalau salah pelihara jadi rusak, tidak bisa dijual lagi,” paparnya.
Apalagi hal tersebut terjadi, keuntungan yang sudah dibayangkan dari awal hanya menjadi sebuah mimpi belaka karenayang didapat malah bunting. Selain pemeliharaan, investor harus tahu tren barang mewah yang sedang on point pada zamannya.
“Misalnya, investasi jam tangan Rolex, eh ternyata waktu dijual sudah bukan trennya lagi. Jadi sudah tidak laku lagi di pasaran, terus buntung karena jatuh harga,” tuturnya.
Menurutnya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan apabila ingin investasi barang mewah. Pertama, perhatikan pendapatan dan portofolio investasi yang dimiliki supaya likuiditas keuangan tidak terganggu. Pasalnya investasi barang mewah membutuhkan modak yang besar.
Kedua, investor harus mengalokasikan biaya dan mengetahui cara pemeliharaan terhadap barang mewah tersebut, untuk menjaga supaya barang masih memilik nilai yang tinggi. Diantaranya dengan penyimpanan yang benar untuk menjaga kelembapan udara agar tidak merusak barang.
Ketiga, investor harus masuk dalam komunitas yang menyukai barang mewah agar lebih update terhadap berbagai informasi seputar luxury goods. Dengan masuk dalam komunitas, investor juga dapat mengetahui minat pasar terhadap barang mewah yang dimiliki.
Bahkan, dari komunitas bisa mendapatkan calon pembeli. Apabila seseorang sudah memiliki hobi untuk mengeloksi barang mewah, semahal apapun barangnya tetap akan dibeli.
“jadi harus aktif di komunitas misalnya berinvestasi pada tas mewah, ya, eksis dengan orang – orang yang menyukai tas mewah. Karena tidak mengerti, harga akan ikut jatuh,” tambahnya.
Sumber: Bisnis-Indonesia-Weekend.11-Maret-2018.Hal_.4
