Ida Wahyuni_Memanggil Wisatawan ke Desa.Kompas 6 Februari 2017.Hal

Wisata desa adalah impian Ida Wahyuni (29). Banyak tantangan untuk mewujudkan impian itu. Namun, warga Desa Setanggor, Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, ini pantang bersurut. Kini, Desa Setanggor menggeliat sebagai destinasai wisata yang hasilnya dirasakan warga.

OLEH KHAERUL  ANWAR

“Saat ini ada kecenderungan orang ingin menikmati suasana tidak serumit di kota. Sukanya suasana alami, sederhana, apa adanya di pedesaan. Desa ini punya modal untuk ditawarkan kepada wisatawan asing, domestic, dan orang kota untuk datang berlibur ke sini,” ujar Ida, pertengahan Januari lalu.

Modal desa yang berjarak hanya 5 kilometer dari Bandara Internasional Lombok itu antara lain kekayaan sumber daya alam dan seni budaya yang bisa dikemas menjadi paket wisata. Misalnya, di lokasi disebut ingan benak, sebuah areal persawahan yang menghijau oleh tananman padi serta palawija, dan dari kejauhan tampak panorama gunung Rinjani.

Areal sawah itu pun punya cerita.pada 1980-an, Setanggor termasuk desa di Lombok Tengah bagian selatan yang dilanda krisis pangan (beras) setiap tahun karena memiliki curah hujan sedikit. Lahan sawah tanah liat retak pada saat musim kemarau. Untuk membongkar/mencungkil tanah itu harus menggunakan alat (linggis) khusus.

Kondisi itu kini berubah dengan sistem bertani gogo rancah dengan ketersediaan sara irigasi sehingga Setanggor berkonstribusi menjadikan NTB swasembada beras. “Jejak-jejak sistem gogo rancah dapat dilihat pada kondisi tanah sawah saat ini,” kata Ida. Ia pun menunjuk pohon sawo local, minimal dua batang ditanam di semua pekarangan rumah warga. Katanya, “Tanaman sawo punya kearifan local, sebagai tanaman perintis guna menumbuhkan tanaman lain pada tanah kurang subur.”

Setanggor juga memiliki kekayaan seni budaya, seperti adanya  kelompok gamelan, seni tari dan drama tradisional, serta tradisi memaos atau membaca naskah lontar yang dilakukan pada hari Rabu, Kamis, dan Sabtu serta melibatkan anak anak, dewasa, dan kalangan tua.

Menenun (nyesek) kain songket adalah keterampilan lain yang  menjadi anugerah 90 persen perempuan desa berpenduduk 4.065 jiwa seluas 676 hektar itu. Namun, produk tenun tersebut tersendat pemasarannya, apalagi petenun dalam mengelola usahanya berjalan sendiri, sebatas menerima pesanan. Padahal, kegiatan nyesek adalah produk wisata yang bisa di jual, umpamanya wisatawan bisa memperoleh pengalaman baru dari mempraktikan dan mengoperasikan alat tenun (ane).

Wisata halal

Kehidupan agraris warga desa kemudian dirancang sebagai paket wisata halal berbasis masyarakat. Sebelumnya, awal 2016, Ida belajar di Desa Mas-Mas, Kecamatan Batuk Liang, Lombok Tengah, yang lebih dahulu menerapkan wisata desa.  Produk wisata itu diberi merek Wisata Halal berbasis masyarakat. Ada 14 titik wisata yang disediakan. Beberapa cidomo (kereta khas Lombok) disiapkan guna menjelajahi titik kunjungan atau wisatawan juga bisa berjalan kaki menyusuri kampung warga, pematang sawah, dan saluran irigasi.

Titik-titik wisata itu bervariasi, mulai dari wisata religi berupa mengaji di berugak/ balai-balai di tengah hamparan sawah, sekaligus menjamu tamu dengan makan siang kuliner khas desa itu. Para wisatawan juga bisa menikmati wisata edukasi, yaitu mencoba atau menyaksikan proses membuat limbah kotoran ternak menjadi pupuk kompos dan bio urine. Wisatawan pun diminta untuk menjadi “guru” untuk anak-anak usia SD, SMP, hingga SMA yang mengikuti kursus bahas inggris di desa itu.

Selain itu, ada juga wisata agro, meliputi areal tanam ubi kayu, di mana wisatawan bisa mengambil ubi kayu untuk dibakar dan disantap. Mereka juga bisa memetik sendiri buah naga di lahan seluas 1 hektar. Sementara pada malam hari ada wisata river night. Pada wisata malam tersebut, para tamu atau wisatawan akan mendapat jamuan makan malam. Mereka duduk di amben bambu yang dibentangkan di atas sungai selebar 3 meter, di hibur tarian dan music tradisional Sasak, Lombok.

Kecipratan rezeki

Ida memasarkan atraksi wisata itu lewat berbagai media social, mulai dari Instagram hingga Facebook. Hasilnya, sejak peluncuran pada September 2016 hingga Januari 2017, wisatawan asal Jakarta , Semarang, Malaysia, Norwegia, Perancis, Islandia, Australia,Inggris,Sri Lanka, dan Swedia berdatangan kr Setanggor. “Saat ini kami kedatangan 30 wisatawan Eropa,” ujar Ida.

Sesuai dengan promosi tadi, Ida membangun pariwisata desa itu tanpa bantuan modal lembaga perbankan. Dia memanfaatkan modal social, yaitu dukungan semua kalangan, tokoh agama dan adat serta generasi muda. “Saya katakan pariwisata ini gawe bersama, dari, oleh, dan, untuk mayarakat.”

Dalam proses “pengenalan” itu, Ida menghadapi hambatan dan tantangan. Apalagi persepsi masyarakat tentang dunia pariwisata yang dinilai dapat mempengaruhi efek social dan budaya local masyarakat. Ada juga pihak yang terancam kegiatan usahanya dengan branding halal tadi. Namun, dengan itikad baik, Ida tetap optimis untuk membalikkan persepsi tersebut.

Caranya, dia mulai dari yang sederhana: setiap wisatawan asing dan domestic disediakan sarung tenun atau busana adat saat melakukan tur. “ Ini untuk mengakomodasi pendapat dan sikap masyarakat yang umumnya tidak terbiasa melihat perempuan bercelana pendek di sini,” katanya.

Ida pun harus merogoh kocek sendiri sebesar rp 20 juta untuk pengadaan busan adat hingga fasilitas fisik beberapa obyek kunjungan. Uang itu dia sisihkan dari hasil usaha beberapa perusahaannya di bidang informasi dan telekomunikasi yang dikelolanya.

Pemasukan dari penjualan paket tur diatur agar semua pihak yang terlibat, seperti 32 anggota karang taruna, juga anggota kelompok sadar wisata, kecipratan rezeki dari paket tur yang dijual rp 300.000 per orang kepada wisatawan itu. Penabuh gamelan yang menyambut kedatangan wisatawan di titik start tur pun mendapat uang jasa Rp 45.000 per orang dari setiap wisatawan. Setiap kusir cidomo mendapatkan rp 30.000 per wisatawan sekali tur. Demikian juga para petenun kebagian rezeki dari produk selendang yang dibeli seharga Rp 25.000 per lembar yang diselendangkan kepada setiap turis yang datang.

Merujuk nama desa itu, Setanggor (artinya, ‘memanggil’), desa tersebut kini sedang menggeliat memanggil kedatangan wisatawan. Meski saat ini perkembangan itu sebatas langkah-langkah kecil, dia akan membawa perubahan dalam kehidupan social ekonomi. Ke depan, dengan kunjungan tamu yang berkesinambungan, masyarakat tidak sekedar jadi pelaku, tetapi juga memiliki penghasilan alternative dan membantu pemerintah menekan jumlah pengangguran.

“Apabila pariwisata desa ini berkembang, warga akan merasakan hasilnya seumur hidup,” kata Ida.

 

Ida Wahyuni

Lahir : Mataram, 5 Desember 1987

Orangtua : Sahabudin (alm)-Sumiati

Pendidikan:

  1. SDN 3 Karang jangkong, Mataram, lulus tahun 2000
  2. SMPN 4 Mataram, lulus tahun 2003
  3. SMKN 4 Mataram Jurusan Akomodasi dan Perhotelan, lulus tahun 2006

 

UC LIB-COLLECT

KOMPAS.6 FEBRUARI 2017.HAL.16