SURABAYA – Anak Anda sering sakit? Sebaiknya periksakan kemungkinan adanya alergi. Kasus alergi memang sering muncul dengan gejala penyakit lain.
“Setiap hari selalu ada anak yang datang karena alergi, terutama alergi protein susu sapi. Tapi, banyak orang tua yang tidak tahu anaknya alergi,” ujar dokter spesialis anak Siloam Hospitals Surabaya dr Dian Pratamastuti SpA kemarin (14/5). Menurut dia, selama ini anak yang alergi sering datang dengan keluhan yang dikira penyakit lain.
Misalnya, gejala gangguan perncernaan. Anak muntah dan diare. Atau, buang air besarnya keras. Kotoran anak berbentuk seperti kotoran kambing. Ada lagi yang mengalami gangguan pernapasan. Misalnya, batuk pilek berulang tanpa demam. Meski diberi obat flu, anak tidak sembuh sempurna.
Ada lagi anak alergi yang dikira mengalami gangguan kulit. Sebab, pada tubuh anak muncul bitnik merah di kulit atau dermatitis. Selain itu, ada yang mengalami gata;-gatal, kulit kering, dan bersisik. Kalau tidak segera diketahui ahwa penyebabnya adalah alergi, tumbuh kembang anak bakal terganggu. Sebab, anak diberi banyak obat oleh dokter yang tidak menyembuhkan penyakit primernya “Anak jadi sering kena antibiotik yang sebenarnya tidak perlu,” ujar Dian.
Alumnus FK Unair itu mengungkapkann, banyak orang tua yang memang belum paham masalah itu. Jika terus-menerus sakit, berat badan anak sulit naik. Dian menyebut turunnya berat badan memang menjadi salah satu tanda utama anak alergi.
Penanganan alergi bisa dengan menghentikan pemberian susu. Sebaiknya, susu sapi diganti dengan susu kedelai. Tidak perlu takut anak menjadi kurus karena mengkonsumsi soya. Sebab, minum anak akan dicerna optimal sehingga berat badannya naik lagi. “Alerginya juga teratasi dengan menghentkan susu sapinya,” katanya.
Cara lain bisa dengan menggunakan susu sapi hialergenik. Yakni, susu sapi yang kandungan proteinnya dikurangi. “Konsultasikan ke dokter anak untuk pilihan terbaik,” ujarnya.
Dian menambahkan, kasus alergi sebenarnya tidak muncul dengan sendirinya. Alergi hanya mengenai anak yang mempunyai bakat alergi. “Dari riwayat keluarga biasanya ketahuan,” ungkapnya.
Untuk menghindari anak terkena alergi, ada beberapa langkah. Yang pertama, ibu hamil mengkonsumsi vitamin D. Kemudian, ibu tidak merokok. Tujuannya, pertumbuhan organ pencernaan anak optimal. Selanjutnya, untuk mencegah alergi, berikan air susu ibu minimal enak bulan kepada anak.
Dian mengungkapkan, alergi tidak dapat disembuhkan, tapi frekuensi serangannya bisa dikurangi. Penanganannya juga bukan dengan obat tertentu. “Hentikan pencetusnya, kondisi akan membaik,” ucapnya.
UC Lib-Collect

