Hindari Killer Word, Pasang Gestur Positif

2 Maret 2024. Hal. 18

Kapan lulus? Sudah lulus, kapan kerja? Sudah kerja, kapan menikah? Sudah menikah, kapan punya anak? Sudah punya anak, kapan nambah anak? Anak sudah besar, kapan mantu? Sudah mantu, kapan punya cucu? Pertanyaan kepo terkait fase kehidupan terkadang bikin dongkol. Bagaimana cara elegan menjawabnya?

KUMPUL keluarga atau reuni bersama teman harusnya menjadi momen yang menggembirakan. Namun, banyak orang merasa ketakutan dan perlu mempersiapkan mental terlebih dahulu. Sebab, banyak pertanyaan yang datang dari sekeliling. Baik itu keluarga, teman, maupun tetangga. Usia senior pun tidak terhindar dari pertanyaan kepo terkait fase hidup. Lantas, bagaimana memberikan respons yang tepat?

Ubah Mindset Menjadi Positif

Terjadinya pertanyaan-pertanyaan itu bergantung dua orang. Yakni, yang bertanya dan yang menjawab. Yang bertanya terlalu kepo, sedangkan yang menjawab terlalu baper. Kalau kita mau membawanya dengan santai, ceria, tanpa prasangka negatif terhadap penanya, sebenarnya wajar saja orang bertanya. Sebaliknya, kalau kita menganggap hal itu sangat privasi, jadinya kurang nyaman.

Maka, ubah mindset kita bahwa mereka bertanya karena memiliki perhatian yang lebih kepada kita. Memang, terkadang pertanyaan tidak sesuai dengan keadaan kita bikin tidak nyaman. Perlahan tanamkan bahwa orang murni bertanya karena ingin tahu dan peduli.

Teknik Mengulang Pertanyaan

Ulang kembali pertanyaan yang dilempar dengan menyampaikan bahwa semua orang menginginkan apa yang ditanyakan tadi. Terakhir, minta doa agar yang bertanya ikut mendoakan apa yang dia pertanyakan.

Umpama ditanya kapan lulus? Jawab begini, “Kalau ditanya kapan lulus pasti semua ingin lulus cepat, nilai bagus, dan tidak ada masalah saat menyusun skripsi, jadi mohon doanya saja.” Atau, umpama ditanya kapan punya anak, “semua pasti pengin punya anak yang sehat dan lucu, mohom doanya ya.”

Mimik Wajah Positif, Hindari Nada Tinggi

Nah, saat menjawabnya, pasang mimik wajah positif dengan tersenyum. Dengan kita positif, kita akan merasa ringan menghadapinya dan tidak dongkol. Jangan sampai gestur yang keluar kurang baik. Hal itu bisa membuat interaksi renggang.

Perhatikan pula cara komunikasi ketika menjawab. Maka kita jangan sampai tidak menatap penanya. Jawablah dengan fokus kepada orang tersebut. Jangan sambil lalu.

Hindari Jawaban Sarkas dan Killer Word

Hindari killer word yang menyakiti hati. Misalnya dengan bertanya balik, “memangnya anak tante sudah nikah?” Apalagi dengan wajah ketus dan nada suara tajam. Sekalipun kita sedang malas meladeni pertanyaan yang sama berkali-kali, sebaiknya hindari menjawab dengan kata-kata sarkas seperti “it’s not your business.” Sebab, bisa jadi, penanya betul-betul perhatian kepada kita. Bukan sekedar kepo.

Hindari Bertanya Personal di Keramaian dengan Suara Keras

Sebenarnya boleh saja menanyakan fase hidup orang lain karena murni peduli. Namun, sebaiknya pilih pertanyaan yang sekiranya tidak berpotensi membuat yang ditanya baper. Di beberapa negara, ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak boleh ditanyakan secara pribadi. Apalagi di tempat umum atau keramaian dengan suara keras sehingga menarik perhatian kepada orang yang ditanya. Apalagi jika kita sudah tahu kondisi atau masalah yang sedang dihadapi orang itu, tetapi kita tetap menanyakannya untuk mempermalukan.

Untuk mempererat hubungan antarsaudara, keluarga, teman, atau tetangga, sebaiknya pilih pertanyaan yang tidak spesifik. Atau, ubah pertanyaan lebih terbuka. Umpama belum lulus kuliah, jangan ditanya kapan lulus, tapi “bagaimana kuliahnya? lancar?” Atau, sudah mantu tapi belum gendong cucu, jangan ditanya kok belum punya cucu, tapi “gimana nih sudah punya anggota keluarga baru sekarang?”

Pada prinsipnya, coba dibalik posisinya jika kita ditanya hal yang tidak kita sukai. Tentu tidak nyaman. Sekali lagi, mari bijak bertanya dan menjawab agar suasana tetap hangat dan penuh kebahagiaan. (*)

Sumber: Jawa Pos