
Peristiwa “coral bleaching” atau pemutihan karang yang melanda perairan laut Sumatera Barat pada 2016 sempat membuat Indrawadi mantari (47) dan Mabruri Tanjung (36) hampir putus asa. Terumbu karang hasil transplantasi yang sudah bertahun-tahun mereka tumbuhkan dengan sangat baik turut terdampak.
Ismail Zakaria
Pemulihan karang terjadi karena hilangnya pigmen karang akibat pemanasan global. Pada 2016, dampak pemutihan karang lebih besar daripada tahun-tahun sebelumnya, termasuk di Sumbar.
Pemutihan sudah terjadi pada 1998 di taman Wisata Perairan Pieh. Pada 2000 yang diawali fenomena alga merah, pemutihan karang juga terjadi di Kepulauan Mentawai dan sebagian Kabupaten Pesisir Selatan, Sumbar.
“Tahun 2016, suhu air laut ideal untuk terumbu karang berkisar 25-28 derajat celsius. Tetapi, saat fase puncak, sampai kedalaman 25 meter, malah sampai 31 derajat celsius. Kawasan yang sebelumnya tidak terdampak seperti Mandeh di Pesisir Selatan ikut terdampak. Terumbu karang yang kami transplantasi disana sejak 2012 juga turut memutih, kemudian menghitam,” kata Indrawadi, Kamis (18/1).
Di Mandeh, ada sekitar 30.000 bibit terumbu karang yang ditransplantasi oleh Indrawadi dan Mabruri. Karena itu, pemutihan karang sangat mengejutkan Indrawadi dan Mbruri. “Secara psikologis kami terpukul dan sempat menangis. Apalagi, terumbu karang yang memutih itu sudah bertahun-tahun kami pelihara. Tetapi, kami sadar bahwa kejadian itu bukan karena prosedur yang salah, melainkan fenomena alam,” ujar Mabruri.
Kini, Indrawadi dan Mabruri hanya bisa menunggu momentum yang tepat saat suhu kembali normal. “Sekarang memang sudah mulai pemulihan,” ucapnya.
Indrawadi dan mabruri bekerja sama melakukan transplantasi terumbu karang di Sumbar sejak 2012. Transplantasi dilakukan dengan dana swadya maupun dana pihak lain seperti pemerintah. Hingga kini, sudah ratusan ribu bibit terumbu karang telah mereka tranplantasi.
Mereka bertemu karena sama-sama menyukai selam dan beraktivitas selam di almamaternya. Universitas Bung Hatta (UBH), Padang. Indrawadi yang berasal dari Baso, Kabupaten Agam, mulai menyelam pada 1992 sejak menjadi mahasiswa Jurusan Pemanfaatan Sumber Daya Perairan Fakultas Perikanan UBH. Saat ini, dia menjabat Kepala Bidang Hubungan Masyarakat UBH dan terlibat dalam berbagai kegiatan menyelam, terutama riset bawah laut.
Tahun 1994, bersama teman-temannya, Indrawadi menginisiasi pendirian Bung Hatta Diving Club yang kemudian berganti nama menjadi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Diving Proklamator Universitas Bung Hatta. Pada 2001, Mabruri bergabung dengan UKM itu dan bertemu dengan Indrawadi yang menjadi pembina.
“Setelah menjadi karyawan UBH pada 2000, saya menggantung tabung alias berhenti menyelam. Meski demikian, saya tetap mendampingi UKM Diving Proklamator,” kata Indrawadi yang mendapat lisensi menyelam pada 1996.
Sementara itu, Mabruri mendapat lisensi menyelam ketika masih menjadi mahasiswa di Fakultas Hukum UBH pada 2004. Keduanya mulai aktif melakukan transplantasi terumbu karang pada 2012 di Mandeh di Kabupaten Pesisir Selatan. Saat itu, Indrawadi yang sebelumnya gantung tabung kembali menyelam.
“Pada tahun itu, ada program lingkungan dengan focus ekosistem bawah laut dari pemerintah. Program ini mendorong sepenuhnya pelibatan masyarakat. Kami diminta menjadi fasilitator,” kata Mabruri.
Keduanya terlibat dalam seluruh proses transplantasi mulai dari menyiapkan konsep, menyediakan perlengkapan seperti substrat dan rak-rak persemaian bawah laut, bibit , hingga penanaman. Mereka melibatkan masyarakat, termasuk anak muda. Dari kegiatan itu, anak-anak muda mendapatkan tambahan penghasilan. Rasa memiliki mereka pun tumbuh sehingga ikut mengawasi dan menjaga kelestarian terumbu karang.
Di sisi lain, anak-anak muda itu mendapat peran dalam kegiatan wisata bahari di Mandeh sebagai salah satu obyek wisata yang dikembangkan Kabupaten Pesisir Selatan dan Pemerintah Provinsi Sumbar. “Pemuda-pemuda yang dulu kami libatkan sekarang sudah menjadi pemandu di sana. Beberapa orang ada yang berkuliah di UBH untuk memperkuat kapasitas mereka,” kata Indrawadi.
Menyebar
Dari Mandeh, keduanya melanjutkan kegiatan tranplantasi ke daerah-daerah lain, seperti Pasaman Barat, Agam, Padang Pariaman, dan Pariaman. Tidak sekadar menanam, mereka juga rutin memonitor perkembangan terumbu karang yang ditanam.
Monitor, menurut Mabruri, dilakukan dengan membersihkan sedimen dan mengganti bibit yang mati. “Biasanya, dalam satu blok berisi 500 bibit, ada sekitar 10 bibit yang mati. Namun, di Mandeh, sejak penanaman pertama hingga peristiwa pemutihan, semua tumbuh 100 persen karena perawatan yang bagus<” ujar Mabruri.
Meskipun awalnya sebagian kegiatan transplantasi adalah program pemerintah, pemonitoran dilakukan secara sukarela. “Monitoring dari pemrintah memang ada, tetapi tidak setiap saat ada. Kadang terkendala dana. Kami pun berinisiatif melakukan monitoring sendiri. Sebagai orang yang menanam, tentu kami ingin melihat terumbu karang itu tumbuh,” Kata Mabruri.
Sering kali, ketika memonitor, mereka merogoh kocek sendiri. Apabila ada bantuan dari pemerintah, sumbangan itu lebih berupa transportasi dan makan. Awalnya, mereka kesulitan menyediakan peralatan sehingga meminjam peralatan dari berbagai instansi, seperti Dinas Kelautan dan Perikanan Pesisir Selatan, Balai Pelestarian Cagar Budaya Batusangkar, Unit Pelaksana Teknis Penyu di Pariaman, Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Padang Padang, Pangkalan Angkatan Laut II Padang, dan Badan SAR Nasional Padang.
Jika mendapat honor dari kegiatan, mereka menabung untuk mencicil peralatan seperti tabung dan regulator. Bahkan, Mabruri meminjam uang ke bank untuk membeli kompresor selam. Belum lama ini, dia mendirikan Minangkabau Diver.
Selain itu, Indrawadi dan Mabruri, yang sedang menyelesaikan studi pacasarjana Jurusan Pengelolaan Sumber Daya Perikanan dan Kelautan di UBH, juga mencetak penyelam-penyelam baru asal Sumbar. “Kami ingin ada regenerasi. Apalagi, banyak titik penyelaman di Sumbar yang menarik dan memenuhi standar untuk dijual dan mendatangkan nilai ekonomi,” kata Mabruri yang menjadi instruktur sejak 2016
Saat melatih, biasanya Indrawadi focus pada sisi akademis tentang ekosistem laut, sedangkan Mabruri lebih pada teknis menyelam. “Harapan kami, siapa pun yang ambil bagian tidak sekadar bisa menyelam, tetapi juga menjadi duta bagi pelestarian ekosistem bawah laut di Sumbar,” kata Mabruri.
Indrawadi Mantari
Lahir: Baso, 16 Juli 1971
Istri: Elvira Devi
Anak:
- Nadira Faijatul Fajrin
- Naila Alisa Fahira
- M Adli Farizi
- Fauzan Ahmad Rasyid
Pendidikan: S-1 Perikanan UBH (1990)
Pekerjaan: Kepala Bagian Humas UBH
Penghargaan: Anugerah Terumbu Karang Indonesia dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (2001)
Mabruri Tanjung
Lahir: Sibolga, 4 Januari 1982
Istri: Yulia Amna
Pendidikan: S-1 Fakultas Hukum UBH (2001)
Pekerjaan:
- Instruktur FOSI Sumbar
- Pendiri Minangkabau Diver
Sumber: Kompas.7-Februari-2018.Hal-16
