
Menindaklanjuti arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam menyikapi dampak penyebaran virus korona terhadap penurunan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan (Kemhub) menyampaikan kebijakan pemberian diskon tiket pesawat dan insentif lain senilai Rp 500 miliar pada Sabtu (29/2) lalu. Bahkan, besaran insentif ini akan dinaikkan bila diperlukan untuk meningkatkan perputaran ekonomi dari industri pariwisata yang terdampak penurunan kunjungan wisman.
Di sisi lain, kebijakan tersebut bermakna positif untuk meningkatkan pergerakan wisatawan domestik (wisdom) yang menjadi penopang dan harapan di tengah lesunya kunjungan wisman. Perjalanan di dalam negeri ke 10 destinasi wisata Bali Baru diharapkan kian melesat seiring lebih murahnya harga tiket pesawat ke destinasi-destinasi tersebut.
Kebijakan ini mengingatkan semua pihak tentang pentingnya peran daerah, khususnya investasi pariwisata di daerah, yang menjadi kunci pertumbuhan ekonomi di tiap daerha. Apalagi, dalam situasi krisis seperti saat ini, yakni ketika pertumbuhan ekonomi di daerah menjadi kunci, maka investasi menjadi penting. Semangat ini coba digulirkan pemerintah lewat Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja atau Omnibus Law yang kini sedang dikaji bersama DPR. Untuk itu, peran pengusaha pariwisata menumbuhkan pariwisata melalui investasi di daerah merupakan esensi yang menyertai kebijakan pemerintah pusat memberi diskon tiket pesawat.
Pada ranah ini bisa disebut salah satu pengusaha papan atas Indonesia yang berani berinvestasi secara besar-besaran di daerah. Chairul Tanjung (CT). Melalui grup korporasinya, CT Corps banyak merilis bisnis di daerah. Kawasan terpadu Trans Studio yang merupakan sebuah area one stop lifestyle and entertaintment yang mencakup taman bermain indoor, pusat perbelanjaan, dan hotel berbintang, telah merambah di beberapa daerah.
Sosok pengusaha seperti CT layak dijadikan contoh ideal pengusaha dan pebisnis di Tanah Air dalam kerangka pemerataan pertumbuhan ekonomi di daerah. Selain CT, sosok pengusaha papan atas legendaris Indonesia seperti mendiang Ciputra juga mendedikasikan pengembangan bisnis di daerah. Bisnis CT Corp dan Ciputra Group menjadi teladan, betapa potensi ekonomi daerah layak untuk dikembangkan dan menjanjikan dari segi perumbuhan bisnis. CT dan Ciputra adalah motor pertumbuhan pariwisata di berbagai daerah, tidak hanya di Jakarta dan Bali.
Esensi pertumbuhan ekonomi melalui sektor pariwisata selain investasi adalah kreativitas. Peran kreativitas dalam percepatan kemajuan pariwisata di daerah memang terasa signifikan. Sekadar menyebut contoh lain yang menjadi sosok penting yang mewakili hal tersebut adalah mendiang Dynand Fariz (President Jember Fashion Carnaval). Insan kreatif dan memiliki cara kerja kewirausahaan dengan melipatgandakan berbagai sumber daya yang dimiliki untuk menciptakan nilai lebih dan daya saing menjadi esensi peran kepemimpinan dan investasi swasta di daerah dalam pengembangan pariwisata.
Ubah tren
Kebijakan insentif dari pemerintah pusat untuk mengatasi dampak negatif dari virus korona di bidang pariwisata, kiranya bisa meningkatkan kunjungan di berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, diharapkan mampu mengubah tren perjalanan wisata di negeri ini. Bandung, misalnya, selain selama ini telah dikenal sebagai destinasi wisata belanja, dengan adanya ikon destinasi wisata baru semakin memperkuat branding sebagai the next destination. Di Jawa Timur (Jatim), pertumbuhan industri wisata tidak hanya terfokus di Surabaya, tetapi juga terlihat di berbagai daerah, seperti Malang Raya (Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu), Jember, Banyuwangi, Pacitan, dan daerah lainnya.
Penelitian yang saya lakukan pada 2008 lalu di Kota Batu menemukan beberapa kekuatan yang menjadi daya saing pariwisata daerah ini. Diantaranya, jarak antara satu destinasi ke destinasi lainnya mudah dijangkau (point to point reachable) petunjuk jalan jelas (accessible) tersedia restoran makanan lokal dengan menu dan kemasan tradisional yang menarik, masyarakat lokal ramah, bersahabat dan sadar wisata, infrastruktur menunjang, jalan-jalan bersih, serta sinergi antara Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) setempat berjalan baik. Ada keterbukaan sektor hotel dan restoran (PHRI) setempat untuk menerima produk-produk yang dihasilkan Gapoktan. Beberapa kekuatan ini menjadi modal penting untuk meningkatkan daya saing untuk menarik pengunjung.
Investasi di bidang pariwisata di berbagai daerah memanfaatkan atau mengeksploitasi keunggulan daerah serta mereduksi kelemahan di berbagai sisi yang masih melekat di daerah. Penciptaan ikon baru destinasi wisata di berbagai daerah merupakan urgensi dalam industri pariwisata Tanah Air, selain profesionalitas dalam pemasaran, pengemasan acara, dan memperbanyak penerbangan langsung dari luar negeri ke Indonesia.
Jatim, misalnya, selama ini ikon pariwisata yang dimiliki sekurangnya ada tiga, yaitu Gunung Bromo, karapan sapi, dan reog. Keberanian pengusaha berinvestasi di daerah untuk menciptakan ikon baru adalah keputusan bisnis dengan risiko yang telah terukur. Di samping memperhatikan dengan jeli potensi bisnis di daerah, juga pertumbuhan kelas menengah yang mengakibatkan kebutuhan dan permintaan berwisata semakin tinggi.
Bank Dunia (World Bank) mencatat, jumlah warga kelas menengah di Indonesia bertambah 50 juta jiwa dalam kurun waktu 2003-2010, atau sebanyak 7 juta jiwa per tahun. Kelas menengah, menurut Bank Dunia, adalah golongan atau kelompok masyarakat, dengan pengeluaran harian per kapita sebesar US$ 20 dollar.
Pada 2003 lalu, jumlah kelompok tersebut baru sebesar 81 juta jiwa. Maka akhir 2010 jumlahnya mencapai 131 juta jiwa atau 56,5% dari populasi Indonesia sebanyak 237 juta orang. Kelas menengah sebagai bagian warga negara merupakan kekuatan baru kepariwisataan dalam negeri dan untuk waktu seterusnya. Di samping pertumbuhan kunjungan wisman, saat ini Indonesia membutuhkan pergerakan dan pembelanjaan dari wisdom yang di atas kertas terlihat berpeluang meningkat seiring pertumbuhan jumlah kelas menengah baru. Karena itu, kebijakan insentif dari pemerintah pusat sangat tepat dan bermanfaat untuk sektor pariwisata.
