Inspirasi Baju Perang nan Anggun. Jawa Pos.4 Desember 2015.Hal.44

Perhelatan Arva Annual Fashion Show 2015

Surabaya- Jepang dan segala sudutnya memang tidak pernah habis untuk dieksplorasi. Keindahan budaya, seni dan tradisinya menjadi inspirasi berkarya. Dengan alasan itulah, kali ini dalam ajang Arva Annual Fashion Show 2015, enam siswa mereka menampilkan keindahan Jepang dari sisi yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Membawa tema Brimming Void, enam siswa tersebut menampilkan busana yang diadaptasi dari baju perang dan martial art Negeri Matahari Terbit itu.

Dipilih warna-warna lembut seperti krem, cokelat, putih, biru, dan hitam. Busana avant garde itu menggunakan bahan-bahan sederhana seperti katun, linen, dan wol. Busana-busana tersebut menuai banyak pujian karena mampu memberikan kenyamanan kepada pemakaianya meski terkesan jubah ataupun kostum perang.

Baju rancangan Clara Angeline, misalnya, dengan perpaduan putih dank rem. Kesan perempuan yang keras, tegas, dan berani ditampilakn lewat cutting lurus sederhana. Terinspirasi dari pakaian seni bela diri jiu jitsu, Clara menampilkan blazer panjang dan tank top krem.

Ada juga karya Baby Agdira yang bertema Egde Grandeur. Lewat dominasi warna gelap, desainer asal Kalimantan itu berupaya mewujudkan sosok prajurit perang seperti Shogun. Bahan-bahan linen dan wol ditampilkan dalam tiga pieces yang stylish. “Saya ingin menampilkan baju perang yang feminim, tidak menakutkan,” ujar Baby.

Sementara itu, Alawiyah lebih memilih sosok perempuan samurai bersejarah, Onna Bugeisha. Dengan warna hitam dan abu-abu khas, kesan simpel hadir saat melihat cape besar yang menutupi seluruh tubuh sang model.

Rancangan Alif Permana tidak kalah mengagumkan. Membawa sosok perempuan dari film Kill Bill, dipilih bahan seperti katun drill dan semi-wol. Dia memadukan hitam dan putih untuk menyiratkan kesan dingin. “Cutting-nya lurus biasa. Cuma, bagian kerahnya saya eksplorasi agar kesan kejamnya kelihatan,” bebernya.

Astrid Lauwis, 22, pengajar Arva School of fashion, mengungkapkan bahwa tema Brimming Void dipilih karena Jepang merupakan salah satu Negara yang memiliki kekhasan di dunia fashion. “Harapannya, murid-murid bisa tergerak untuk menemukan orisinalitas karya,” kata Astrid.

Astrid menambahkan, hal tersulit saat membawa tema itu di dalam satu rancangan adalah cara mengaplikasikan ide ke dalam sebuah busana. Puluhan video, baik dari Youtube maupun film, dilihat murid hanya untuk menemukan satu aplikasi tepat untuk menemukan satu aplikasi tepat untuk mewujudkan kesan busana perang. “Kesannya memang berat sekali baju-bajunya. Tapi, kalau dipakai, terasa dingin Karena pilihan bahannya,” terangnya.

Sumber : Jawa Pos Jumat 4 Desember 2015