Internet Jadi Basis Wirausaha. Kompas. 13 Maret 2015

JAKARTA, KOMPAS – Technopreneuer atau kewirausahaan berbasis inovasi teknologi berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia. Hal ini sering dengan meningkatnya pertumbuhan pengguna internet aktif. Pemberdayaan bisnis ini perlu meliputi kapasitas sumber pembiayaan, pemasaran, dan perlindungan hak cipta produk.

Faculty Member in Marketing of Prasetiya Mulya Business School Fathony Rahman, dalam diskusi “Digitizing Business: Setting TheStage for Generation Z”, Kamis (12/3), di Jakarta, mengatakan pengguna internet aktif di Indonesia berasal dari kalangan muda. Mereka lahir pada 1982 hingga 2005 atau kini berusia sekitar 33 tahun atau lebih muda. Masyarakat menyebut mereka sebagai generasi Y.

“Mereka hidup ditengah ketersediaan teknologi informasi komunikasi (TIK) yang melimpah. Kehidupan mereka erat dengan media sosial. Ini tidak bisa dimungkiri karena Facebook lahir pada 2004, Twitter pada 2006, Tumblr pada 2007, Pinterest pada 2010, dan Instagram pada 2010,” ujar Fathony.

Pengguna internet aktif diperkirakan semakin mendekati usia remaja atau mereka yang lahir sekitar 2005. Fathony mengatakan, masyarakat mengistilahkan kalangan itu sebagai generasi Z.

Pada 2015, jumlah pengguna internet aktif diperkirakan mencapai 94,3 juta orang. Angka ini melonjak besar dibandingkan dengan sekitar 71,2 juta penggguna pada 2014  (Kompas, 16/2/2014).

“Bisnis apa pun tidak bisa dipisahkan dari internet. Bagi pelaku usaha yang mau bertahan, tentu saja, mau tidak mau, harus berinovasi,” kata Fathony. Inovasinya bisa berupa teknologi dan pemasaran.

Pemanfaatan “big data”

Dalam hal teknologi, Fathony menyinggung bagaimana jutaan pengguna internet aktif menghasilkan volume dan jenis data yang terua meningkat secara signifikan atau dikenal big data. Namun, big data di Indonesia baru 10 persen yang sudah dimanfaatkan untuk bisnis, seperti promo kuliner melalui penyebaran pesan pendek secara massal (short message service blast). Sisanya sebnayak 90 persen belum dikelola.

Staf Ahli Menteri Bidang TIK dan Transaportasi Kementerian Riset dan Teknologi Indonesia I Wayang Budiastra menyampaikan, di Indonesia sebenarnya wirausaha sudah memanfaatkan TIK untuk bisnis. Mereka menciptakan aplikasi – aplikasi untuk telepon pintar dan mendesain laman.

“Kami mendukung kewirausahaan berbasis inovasi teknologi ini. Di beberapa kota besar seperti Bandung dan Yogyakarta, kami bekerja sama dengan perusahaan telekomunikasi dan kementerian atau lembaga terkait mendirikan pusat inkubasi untuk mereka,” ujar Budiastra

Dia mengakui, bentuk pemberdayaan ini belum maksimal dari segi penyaluran pembiayaan karena besaran dan yang dikucurkan masil puluhan juta rupiah hingga ratusan juta rupiah.

Namun, Budiastra mengatakan, pengembangan kewirausahaan ini harus terus dilakukan. Upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia juga dilakukan antara lain dengan mewajibkan perusahaan importir terdaftar (IT) telepon seluler, komputer genggam, dan tablet membangun pabrik di dalam negeri.

“Dengan demikian, pemerintahan bisa mendorong mereka agar turut menyalurkan alih teknologi. Atau bahkan mereka dapat membantu memasarkan produk wirausaha lokal berbasis inovasi teknologi,” ujar Budiastra.

Faculty Member in Finance Prasetiya Mulya Business School Rangga Winantyo mengatakan, strategi pemasaran produk harus menyesuaikan konsumen yang juga pengguna aktif internet.

“Promosi harus inovatif. Medianya pun kian beragam seperti media sosial dan laman. Konsumen sekarang mencari referensi produk dengan menggunakan mesin pencari,” kata Rangga.

Drama

Secara terpisah, LINE Indonesia, sebuah perusahaan platform kehidupan, mengeluarkan seri dram Nic and Mar. Serial drama ini dimainkan oleh Mariana Renata dan Nicholas Saputra yang ditayangkan secara berseri melalui LINE . Durasi waktu hanya tujuh menit.

Team Leader Marketing LINE Indonesia Galuh Candrakirana mengatakan, seri drama tersebut adalah bentuk televisi sosial. Dia tidak menyebutkan berapa target jumlah pengguna baru yang bisa digaet melalui program televisi sosial itu. (MED)

Sumber: Kompas.-13-Maret-2015