
Mengunjungi negara iran seakan menumpang mesin waktu ke sekian abad silam. Keindahan alamnya belum banyak dikotori jejak modernisasi, seperti papan iklan atau corat-coret dengan cat. Sementara di banyak tempat pola kehidupannya sungguh jauh dari hiruk pikuk modernisasi yang serba terburu-buru.
ARBAIN RAMBEY
Di beberapa tempat kita bisa melihat kondisi perumahan masih seperti ratusan tahun yang lalu, dari bentuk bangunan, susunan perumahan, hingga bahan pembuat bangunannya.
Di kota Kashan ada sebuah hotel yang berada di tengah permukiman sangat padat. Permukiman itu terdiri atas rumah-rumah yang terbuat dari tanah liat walau bagian dalamnya tentu sudah berisi peralatan modern, seperti pemanas listrik dan juga berbagai peralatan elektronik lain.
Yang menarik, susunan rumah di sebuah area di Kashan itu sudah terbuat dari abad belasan. Bentuk dan susunan rumah tidak pernah berubah, hanya diturunkan lintas generasi dan hanya diperbaiki kalau ada yang rusak. Ukuran, bentuk, dan bahan untuk perbaikannya sungguh-sungguh sama seperti asilnya.
Secara umum, berwisata ke Iran memang kurang lazim bagi orang Indonesia karena aneka kesalahan informasi tentang negara itu. Kenyataan menunjukkan bahwa orang Iran secara umum sangat terbuka, bahkan pengalaman menunjukkan mereka tidak keberatan difoto di tempat-tempat umum.
Ibu-ibu yang menggendong anak malah ada yang mendekat kalau melihat ada turis memotret anak kecil lain. Tawa ceria mewarnai komunikasi turis dan warga lokal di mana pun walau kesulitan bahasa sering jadi penghalang. Tidak semua orang di sana bisa berbahasa Inggris, bahkan di kota Teheran beberapa orang terpelajar malah lebih menguasai bahasa Perancis daripada bahasa Inggris.
Di provinsi Isfahan malah ada kota Abyaneh yang merupakan situs warisan dunia yang diakui UNESCO. Kota Abyaneh sudah ada sejak 2.500 tahun lalu dengan susunan perumahan tidak berbeda dengan saat didirikan sebelum Masehi itu. Saat ini penduduk Abyaneh tidak lebih dari 500 orang, dengan jumlah rumah sekitar 200 rumah.
Terletak di lereng sebuah bukit batu, penduduk Abyaneh mempertahankan tradisinya dengan kukuh, bahkan cara berpakaian dan berbahasanya pun berbeda dengan daerah di Iran yang lain.
Salju sampai gurun
Bagi orang Indonesia, berwisata ke Iran sungguh punya cakupan luas dari segi apa yang bisa dilihat dan dirasakan. Tidak banyak yang tahu bahwa Iran punya tempat yang saljunya ada di sepanjang tahun, bahkan selama 9 bulan dalam setahun salju di tempat itu cukup tebal untuk bisa dipakai bermain ski.
Di Tochal, sekitar 50 kilometer dari kbu kota Iran, Teheran, orang Iran bisa menikmati pegunungan bersalju selayaknya di Eropa. Tochal memang secara lintang belumlah terlalu utara, tetapi dengan ketinggian rata-rata lebih dari 3.500 meter dari permukaan laut, tempat itu menjadi bersalju abadi.
Sementara sekitar 4 jam perjalanan ke selatan Teheran, kita sudah bisa merasakan sensasi gurun pasir selayaknya di Timur Tengah secara umum.
Perjalanan ke salju bersuhu di bawah 0 derajat celsius dan beberapa jam kemudian bisa melihat dan merasakan panasnya gurun sungguh sebuah perjalanan yang mungkin tak bisa ditemukan di negara lain.
Gurun di Iran masih menyimpan kekhasan yang lain, yaitu danau garam yang sangat luas. Beberapa area di gurun sekitar kota Kashan itu tampaknya jutaan tahun yang lalu adalah dasar laut. Perubahan permukaan bumi membuat tempat itu jadi daratan, lalu secara perlahan air lautnya menguap dan menyisakan lautan garam padat dalam area yang sangat luas. Penggalian sampai lebih dari 1 meter di tempat itu masih mendapati garam semata tanpa campuran benda apa pun lagi.
Bagaimanapun, berwisata ke Iran secara umum adalah wisata arsitektur yang luar biasa. Di semua kota selalu ada bangunan yang dari segi detail sungguh sulit untuk dibuat lagi zaman sekarang. Mayoritas masjid yang ada di Iran mempunyai bentuk-bentuk khas dan selalu diisi detail memakai keramik yang sangat rumit dan halus.
Adapun kalau Anda mengunjungi Persepolis yang terletak antara kota Isfahan dan Kashan, Anda akan menyaksikan sisa kejayaan masa lalu Iran. Persepolis adalah kota yang didirikan Darius Agung sekitar 500 tahun sebelum Masehi. Sisa-sisa tiang yang tersisa, ornamen-ornamen, dan patung dari marmer yang ada sungguh menggambarkan bahwa Persepolis dulu adalah kota yang sangat megah, dan tentu saja merupakan ibu kota dari sebuah negara yang besar dan kuat.
Iran memang berpenduduk yang mayoritas menganut agama Islam, tetapi tidak berarti tak ada bangunan dari agama lain yang layak dicatat. Selain masjid-masjid dengan arsitektur dan ornamen yang memesona, gereja-gereja dengan kondisi yang sama pun cukup banyak walau ukurannya tidak ada yang terlalu besar.
Salah satu gereja yang layak dikunjungi adalah gereja Kristen Orthodox Armenia di Isfahan, Lukisan cat minyak yang menghiasi interiornya sampai tak ada tempat tersisa sama sekali sungguh sangat detail dan terawat.
Kunjungan ke Iran sebaiknya dimulai dari kota Teheran. Dari Jakarta, kalau mau ekonomis, Anda bisa memakai Air Asia lewat Kuala Lumpur, penerbangan langsung ke Teheran ditempuh dalam waktu 8,5 jam. Alternatif lain adalah memakai Thai Air lewat Bangkok dengan lama perjalanan kira-kira sama.
Setelah menikmati Teheran, termasuk masuk ke Grand Bazarnya untuk berbelanja aneka barang dari semua provinsi di Iran, perjalanan bisa dilanjutkan dengan bus menuju kota Shiraz. Perjalanan selama sekitar 12 jam ini cukup nyaman karena kondisi bus-bus di Iran bagus, lengkap dengan penyejuk dan penghangat sesuai kebutuhan. Biaya perjalanan darat di Iran relatif sama dengan biaya di Indonesia.
Kopi Indonesia
Dari Shiraz, perjalanan bisa diteruskan ke utara menuju kembali ke Teheran dengan melewati berbagai kota yang dipilih. Satu yang mencengangkan adalah di semua rumah makan tempat perhentian bus, kopi yang tersedia adalah kopi-kopi saset dari Indonesia. Kata para sopir bus itu, kopi-kopi itu adalah kopi terenak yang pernah mereka rasakan.
Hal yang juga penting untuk dicatat adalah berwisata ke Iran sungguh tidak mahal. Perjalanan seminggu di negara itu, termasuk biaya pesawat dan visa, plus biaya makan, penginapan (kelas menengah), transportasi darat lokal plus sedikit biaya guide, tidak lebih dari sekitar Rp 15 juta.
Mata uang yang berlaku di Iran adalah riyal Iran yang nilainya masih di bawah rupiah. Satu dollar AS setara dengan 37.000 riyal. Tidaklah heran kalau uang di Iran punya angka nominal yang besar-besar. Uang kertas terbesar yang bisa didapatkan adalah pecahan satu juta riyal yang kira-kira setara dengan Rp 300.000.
Karena besarnya angka pecahan uang di Iran, warga Iran menciptakan mata uang fiktif yang dinamakan Toman. Satu toman setara 10 riyal. Jadi, kalau Anda akan membeli sesuatu, umumnya harga yang ditawarkan adalah dalam satuan toman itu. Tidak pernah ada uang nyata dalam satuan toman, tetapi Anda cukup mengalikannya dengan 10 untuk mendapatkan besarnya dalam riyal.
Hal yang agak merepotkan adalah di Iran tak ada kartu kredit yang berlaku. Di mana pun Anda harus membayar tunai, sementara uang riyal cukup sulit untuk ditukarkan di negara lain. Selain itu, sistem waktu di Iran berbeda dalam satuan tidak genap alias 3,5 jam dengan Indonesia. Jadi dengan kata lain, waktu di Iran lebih cepat 3,5 jam dibandingkan dengan GMT, tetapi 3,5 jam lebih lambat kalau dibandingkan dengan Indonesia.
Maka kalau suatu saat Anda ingin berwisata dengan suasana yang sama sekali baru, cobalah ke Iran. Dijamin akan menjadi perjalanan indah yang tidak terlupakan!
Sumber: Kompas.18 Maret 2018.Hal.28
