Damai itu bukan kata pasif, melainkan kata kerja yang harus didengungkan ke setiap ke setiap penjuru. Damai itu adalah perwujudan keberagaman. Begitu arti damai menurut Irfan Amali, penggagas generasi damai yang telah disebarluaskan satu dekade terakhir.
OLEH SAIFUL RIJAL YUNUS
Kami berbincang cukup lama di kantor penerbitan tempat Irfan menyandang jabatan CEO di Bandung, Jawa Barat, Senin (10/4) lalu. Dia mengatakan, “Saya sendiri pernah radikan. Ya, meskipun masih dalam pikiran. “Bibir laki-laki berusia 40 tahun itu selalu menyunggingkan senyum meski sedang membicarakan hal-hal serius.
Ayah tiga anak ini menceritakan, ia pernah memiliki pandangan beragama yang radikal ketika usianya masih belasan tahun. Ketika itu, pikirannya dipenuhi prasangka tentang ketidakadilah dan kesemena-menaan terhadap agama yang ia anut.
“Dulu kalau saya ada yang narik, pasti gampang banget. Karena pikiran saya sudah mulai radikan. Tapi, di satu sisi, ada bagian yang selalu mempertanyakan apakah pemikiran saya benar,” ujar peraih Top 500 Most Influential Muslims dari The Royal Islamic Strategic Studies Centre, Amman, Jordania, selama dua tahun berturut-turut, yakni 2010 dan 2011, ini.
Satu hal yang dia syukuri adalah masa kecilnya indah. Irfan yang lahir dan tumbuh di sebuah kampung di Bandung hidup di lingkungan. Tetangga-tetangganya ada yang beragama Buddha, Khonghucu, Kristen, semua ada. Lingkungan masa kecilnya yang beragam itu terpatri dalam ingatan dan menjadi benteng kokoh dari pengaruh luah.
Ketika kuliah strata satu, pertengahan 1998, dai mengikuti pelatihan tentang kampanye anti-kekerasan di Solo. Di sini pertama kali penulis dan pelaku film ini lebih dekan dengan arti perdamaian dan kampanye lewat berbagai medium.
Ia makin dekan dengan nilai-nilai perdamaian setelah mengikuti Youtg Peace Forum se-Asia Pasifik pertengahan tahun 2000 di Kamboja. Pertemua itu digelar di sebuah kuil Buddha, kedamaian menjalar tanpa harus memengaruhi preferensi agama seseorang.
Kamboja adalah negara yang punya sejarah kelam. Perang dan tragedi kemanusiaan terjadi selama beberapa tahun lamanya. Namun, negara itu mampu bangkit dan terus menebarkan pesan damai. Dalam beberapa hari pertemua anak muda se-Asia Pasifik itu, sejumlah anak muda bergantian berbicara tentang masa kelam negara dan pengalaman mereka.
Akan tetapi, yang mereka dengungkan adalah perdamaian. “Itu yang membekas dan menginspirasi saya. Mereka di usia muda berbicara tentang perdamaian meski mengalamai sendiri masa- masa kelam di negaranya. Mungkin disini titip balik saya,” kata Irfan Amali yang menulis namanya Irfan Amalee.
Yang lebih menakjubkan lagi, acara itu dilangsungkan di sebuat pusat keagamaan. Sebuah kuil menjadi tempat orang membucarakan perdamaian sesuai pandangan masing-masing.
Ketika itu, Irfan berpikir, mengapa hal seperti ini tidak terjadi di Indonesia. Dengan keragaman budaya, kultur yang kuat, dan agama yang berbeda, seharusnya Indonesia bisa menjadi tempat persemaian perdamaian.
“Pesantren menjadi tempat orang belajar dan melihat Islam yang damai. Geraja, Wihara, menjadi tempat orang luar belajar cinta dan kasih sesuai agama masing-masing,” kata Irfan yang beberapa tahun terakhir membuat gerakan Peacesantren, gabungan dari kata peace (damai) dan pesantren.
Sejak pertemuan itu, dia seperti mendapatkan energi baru. Damai bukan hanya bisa diucapkan semata, bukan sekadar kata, melainkan harus disebarluaskan dengan cara dan langkah nyata. Cara penyampaiannya juga harus lebih merata, dengan medium yang berbeda-beda. Damai juga bukan sekedar toleransi melainkan juga empati.
Generasi damai
Pertengahan Februari lalu, kami juga bertemu Irfan di Makassr, Sulawesi Selatan. Senyum dan jabatan hangat menjadi ciri khasnya. Saat itu berlangsung rangkaian acara Peacetival. Diambil dari kata peace dan festival, acara yang mengusung tema damai ini berlangsung meriah di pagi hingga malam.
Peacetival hanyalah puncak acara yang digagas oleh Irfan dan rekannya, Erick Lincoln, warga Amerika Serikat. Berkenalan dan menjadi teman diskusi beberapa lama, mereka berdua akhirnya sepakat untuk menggagas gerakan damai Peace Generation sejak Juli 2007.
Peace Generation adalah gerakan yang terus diinisiasi oleh Irfan dan kawan-kawan. Setelah membuat panduan melalui 12 nilai dasar perdamaian, dia terus menggalang generasi muda untuk turut serta ambil bagian.
“Dua belas nilai dasar itu yang menjadi pedoman, di antaranya mengakui keberagaman dan mau meminta maaf. Nilai itu disusun dari diskusi panjang dan pengalaman keseharian selama ini,” ucap penulis yang telah menghasilkan lebih dari 50 buku ini.
Hingga saat ini, Peace Generation telah menyebar ke beberapa kota dari Aceh hingga bagian timur Indonesia, bahkan juga menyebar ke beberapa negara tetangga. Pada dasarnya Peace Generation (generasi damai) menyasar generasi muda untuk terlibat dan aktif menjadi penyebar kabar damai. Dalam praktiknya, gerakan ini menghimpun generasi muda agar terlibat aktif sebagai agen penyebar damai.
“Sasaran besarnya adalah mengamplifikasi gerakan damai agar tersampaikan secara luas. Nah, untuh mencapai sasaran itu, generasi tentu membutuhkan wadah, ruang, dan gerakan. Kami juga tentu tidak mau hanya sebatas gerakan semata. Karena itu, ada tools yang ditransfer kepada agen damai. Mereka yang akan berbuat di daerah masing-masing dengan kegiatan- kegiatan berbasis gerakan damai,” tutur Irfan.
IRFAN AMALI
- Lahir : Bandung, 28 Februari 1977
- Pendidikan :
- Magister bidang koeksistensi dan konflik dari Brandeis University, Massachusetts, Amerika Serikat
- Sarjana IAIN Sunan Gunung Djati, Bandung
- Pekerjaan :
- CEO Mizan Application Publisher
- Pendiri Peace Generation
- Penulis puluhan buku, produser dan penulis naskah film
- Penghargaan :
- Young Creative Entrepreneur Award dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, 2012
- Hahn dan Karpf Peace Award, Brandeis University, 2011
- Terpilih sebagai Anak Muda Menginspirasi oleh BBC London, 2010
- Multiculturalism Award dari Universitas Atma Jaya, 2010
Sejauh ini , sedikitnya ada ratusan guru yang telah dilatih dengan pendekatan damai. Jumlah itu mampu meresonansikan pesan damai kepada sekitar 3.000 siswa. Sasaran utama memang anak-anak usia sekolah, dari kela IV SD hingga SMA. Bahkan, untuk murid TK, Irfan menyusun modulnya. Hasilnya, tingkat agresivitas siswa yang mendapat pengajaran damai jauh berkurang.
Lalu, untuk apa Irfan melakukan ini semua? “Karena saya ada memang untuk melakukan hal-hal ini. Ini merupakan agenda hidup saya. Tanggung kepada dunia dan anak-anak,” ujarnya.
Sumber : KOMPAS, 21 APRIL 2017

