Deretan biola digantung di studio mini milik Widiyanto di kawasan Grezz Residence Sidoarjo. “Ini baru saya bikin,” ujarnya saat ditemui. Dia merupakan musisi sekaligus perajin biola atau luthier. Pria yang akrab disapa Totok itu memilih menekuni pembuatan biola karena kebutuhan para musisi yang tinggi.
Totok juga menjelaskan langkah-langkah pembuatan biola yang diawali dengan pemilihan kayu. Menurut dia, tidak sembarang kayu bisa digunakan. “Harus jenis maple, spruce, atau ebony,” kata bapak dua anak tersebut.
Kayu itu diukut dan dipahat sesuai dengan ukuran untuk membuat badan dan leher biola. Menurut Totok, ada ketentuan ketebalan dan ketipisan tertentu yang mesti diperhatikan. Bagian badan dan leher biola kemudian disatukan melalui pengeleman. Langkah terakhir adalah permis dan pemberian warna.
Totok mengatakan bahwa pembuatan satu biola memakan waktu 3-4 bulan. “Karena pasti ada pengecekan suaranya. Semua itu harus dicek agar alat musiknya menghasilkan suara yang sempurna,” papar pria kelahiran 22 Oktober 1984 itu. Sebelum terjun ke dunia luthier, Totok memiliki profesi utama sebagai musisi. Posisinya pemain selo saat bermusik. Lantas, dia terpanggil untuk menjadi perajin biola pada 2008. Alasannya, masih jarang orang yang dapat membuat alat music gesek tersebut. Sementara itu, kebutuhannya sangat tinggi demi memajukan seni musik Indonesia. Karena itu, para musisi lebih sering membelinya dari merek impor.
“Padahal, orang Indonesia ternyata bisa juga membuatnya,” imbuhnya. Baru saja dia menyelesaikan pesenan 10 biola. Bukan hanya pesanan dari Surabaya dan sekitarnya. Namun, kini biola buatannya telah dipesan sejumlah musisi hingga luar pulau. Di antaranya, Sumatera, NTT, dan Kalimantan.
Saat kali pertama membuatnya, Totok dibimbing salah seorang rekan sesame luthier asal Jakarta. Selain itu, dia terinspirasi oleh beberapa luthier asal Italia, Prancis, dan Jerman.
Sumber: Jawa Pos, 20 Januari 2021

