
Oleh Asteria Desi Kartika Sari
Bagi Jessica Jones, perempuan 26 tahun, media sosial seperti Instagram dapat mendorong orang untuk menghabiskan uang. Warga California itu mengaku sering membeli sepatu ataupun makeup melalui sosia media milik facebook.
Jones mengaku bisa kepincut sepasang sepatu hak tinggi merek Dolls Kill dengan sulaman mawar merah hanya dengan melihat – lihat promosi via aplikasi berbagi foto itu.
Apa yang dialami Jonse sudah jadi fenomena lumrah. Sebuah studi menemukan sebanyak 57% masyarakat Amerika Serikat mengeluarkan uang mereka tanpa perencanaan.
Kimberly Palmer, pakar keuangan pribadi NerdWallet mengatakan media sosialdapat memberikan ide gaya fesyen untuk liburan, atau bahkan tren perhiasan yang sedang ngehits. Tidak ada yang salah dengan itu, tapi mungkin tidak sesuai dengan anggaran Anda,” kata Palmer seperti dikutip Reuters.
Palmer melanjutkan bahwa untuk menekan pembelian impulsive, anda perlu memutuskan terlebih dahulu apakah mengakses Internet untuk berbelanja atau hanya sebatas refreshing. Tutup tombol belanja lainnya untuk membatasi pengeluaran.
Selain itu, katanya, jangan buru – buru membeli barang. Dia menyarankan untuk memasukan barang ke dalam keranjang belanja terebih dahuu, kemudian dalam satu atau dua hari untuk mengabil keputusan apakah membeli atau tidak.
“itu membuat mengambil langkah untuk menunda, sehingga dapat menanyakan [pada diri sendiri] apakha pembelian sesuai dengan tuhuan dan anggaran Anda,” katanya.
Selain itu, berdasarkan survei yang oleh Allianz Life Insurance Co., di Ameriak Utara hamper 90 % generasi milenial terdorong untuk membandingkan kekayaan dan gaya hidup mereka dengan orang lain. Sementara itu, pada generasi X, sebesar 71%, dan generasi baby boomer hanya 54%.
Siring dengan kecanggihan teknologi dan booming-nya media sosial dengan mudah terus menerus kepo gaya hidup orang lain, dan kemudian menirunya.
“Ini bisa menjadi pengaruh yang luar biasa pada bahaimana Anda melihat dunia. Jika Anda terlalu banyak memerhatikan, Anda munkin mulai membuat keputusan yang tidak Anda inginkan dalam pengeluaran Anda,” kata Paul Kelash, Wakil Presiden Wawasan Konsumen Allianz Life.
Oleh karena itu, untuk menghindari masalah keuangan akibat mengikuti gaya hidup orang lain di media sosial, yang paling penting bagi Anda adalah mengetahui kebutuhan diri sendiri.
Kelash menyarankan agar menanyaan pada diri Anda sendiri apakah benar – benar membutuhkan barnag yang anda lihat di Instagram, atau hanya menginginkannya saja.
Dalam survei Allianz Life, lebih dari setengah dari generasi millennium, atau sebanyak 61% mengaku merasa kurang puas tentang kehidupan mereka sendiri. Mereka mengganggap gaya ideal adalah apa yang ditampilkan di media sosial.
Hal senada diungkap oleh Joanna Zheng, analis ekuitas asal New York. Media sosial menjadi godaan untuk membelanjakan uang.
“Meliihat seorang teman [di Facebook atau Instagram] yang berpakaian bagus atau memiliki dompet lucu membuat saya juga ingin memilikinya,” kata Zheng.
Baru – baru ini, Zheng membeli sepasang sepau peso Allboys Merino sekitar US$100 yang disarankan teman setelah melihat beberapa iklan di Facebook.
Perusahaan periklanan memahami seberapa kuat iklan media sosial. Pada 2017, Facebook sendiri mengahsilkan US$39,9 miliar pendapatan dari iklan. Perusahaan akan membayar ratusan bahkan ribuan dolar untuk membayar ratusan bahkan ribuan dolar untuk produk yang diposkan pada media sosial pleh influencer dengan pengikut besar.
Sumber: Bisnis-Indonesia-Weekend.25-Maret-2018.Hal_.4
